Sekolah. DOK Medcom
Sekolah. DOK Medcom

Enggak Cuma Ekstrakurikuler, Ini Pentingnya Kokurikuler Buat Siswa Zaman Now

Renatha Swasty • 09 Januari 2026 14:22
Jakarta: Kokurikuler menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia untuk mengembangkan kompetensi murid secara utuh, khususnya dalam penguatan karakter. Kegiatan ini dirancang sistematis untuk menjembatani pembelajaran konseptual di kelas dengan penerapannya dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
 
Yuk kenalan lebih jauh dengan program kokurikuler, mulai dari pengertian, manfaat dan bentuk kegiatannya berikut ini:

Pengertian Kokurikuler

Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, khususnya penguatan karakter.
 
Kompetensi ini mencakup delapan dimensi profil lulusan, antara lain keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Delapan dimensi ini merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang menumbuhkembangkan lulusan memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif.

Lantas, apa pentingnya kegiatan ini dalam pendidikan? Yuk simak selengkapnya!

Pentingnya Kokurikuler dalam pendidikan

Kokurikuler memiliki peran strategis dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Kegiatan ini tidak cukup hanya melalui pengalaman belajar intrakurikuler dan ekstrakurikuler saja, tetapi perlu diperkuat melalui kokurikuler yang dirancang secara sistematis, bermakna, dan kontekstual.
 
Dalam praktiknya, murid tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga dilibatkan secara emosional dan sosial. Siswa diajak memahami, mengaplikasi, merefleksikan, dan bertindak melalui proyek tematik, menyelesaikan tantangan berbasis konteks nyata, atau berkontribusi dalam kegiatan sosial yang menyentuh dimensi intelektual, etika, estetika, dan kinestetik sekaligus.

Bentuk kegiatan Kokurikuler

Adapun bentuk-bentuk kegiatan kokurikuler, antara lain:

1. Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu

Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin adalah kegiatan kokurikuler yang menyatukan dua atau lebih mata pelajaran maupun muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan nyata murid. Tujuannya membantu murid melihat keterkaitan antar ilmu sebagai upaya mengembangkan delapan dimensi profil lulusan serta memperdalam pemahaman melalui pengalaman kontekstual.
 
Misalnya, satuan pendidikan X mengusung tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” sebagai upaya pencapaian dimensi kesehatan, penalaran kritis, dan kolaborasi. Tema ini mengajak siswa untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar mereka, mengenali masalah kebersihan dan kesehatan, serta merancang kampanye untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kegiatan ini pun melibatkan sejumlah mata pelajaran, yakni IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Seni dan Budaya, dengan peran yang saling melengkapi.
   

2. Kegiatan Kokurikuler melalui Gerakan 7KAIH

Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) berbasis pada pembiasaan dan pembelajaran mendalam yang mengutamakan pembelajaran sadar, bermakna, dan menyenangkan. Kegiatan kokurikuler G7KAIH berfokus pada pembentukan karakter siswa melalui pembiasaan positif yang dilakukan secara rutin, konsisten, dan terencana.
 
Tujuh kebiasaan tersebut mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Sebagai kegiatan kokurikuler, G7KAIH bukan hanya ajakan moral atau slogan harian, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang dirancang melalui identifikasi kebutuhan, tujuan jelas, langkah pelaksanaan sistematis, pendampingan, dan asesmen untuk merefleksikan perubahan kebiasaan dan sikap siswa.
 
Penerapan 7KAIH bisa dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas menyenangkan, seperti jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antarkelompok atau tingkat.

3. Kegiatan Kokurikuler melalui cara lainnya

Ketiga, bentuk kegiatan kokurikuler dalam kategori cara lainnya mencakup kegiatan ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal dan kegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan, serta kegiatan satu disiplin ilmu yang dalam aktivitasnya terjadi kolaborasi beragam keilmuan dan keahlian. Satuan pendidikan diberikan kebebasan untuk mengembangkan bentuk kegiatan kokurikuler yang sesuai dengan nilai-nilai sekolah, potensi sekolah, kebutuhan siswa, dan konteks lokal, selama kegiatan tersebut memenuhi kriteria kokurikuler.
 
Misalnya, sekolah yang berlokasi di daerah pengrajin batik dapat mengalokasikan jam pelajaran kokurikuler untuk pembelajaran membatik yang meliputi pengenalan batik, motif batik, dan proses membuat batik dengan fokus pada praktik sehingga siswa memiliki keterampilan membatik. Contoh lainnya, satuan pendidikan berbasis keagamaan dapat membuat kegiatan berupa pengajian yang dilakukan secara rutin setiap satu minggu sekali untuk mencapai nilai-nilai ciri khas satuan pendidikan tersebut.

Alokasi waktu Kokurikuler

Setiap jenjang pendidikan memiliki alokasi waktu kokurikuler yang berbeda dalam satu tahun ajaran. Untuk PAUD, alokasi waktu ditentukan oleh satuan pendidikan. SD kelas I-II memperoleh 216 jam pelajaran per tahun, kelas III-V sebanyak 252 jam pelajaran, dan kelas VI sebanyak 224 jam pelajaran.
 
Untuk jenjang SMP, kelas VII-VIII memiliki alokasi 360 jam pelajaran per tahun, sementara kelas IX sebanyak 320 jam pelajaran. Sedangkan SMA kelas X memperoleh 396 jam pelajaran, kelas XI 144 jam pelajaran, dan kelas XII 128 jam pelajaran per tahun, SMK kelas X memperoleh 180 jam pelajaran, kelas XI 144 jam pelajaran per tahun, SMK program 3 tahun kelas XII memperoleh 32 jam pelajaran, SMK program 4 tahun kelas XII memperoleh 144 jam pelajaran, SMK program 4 tahun kelas XIII tidak memperoleh jam pelajaran.
 
Nah, itulah penjelasan terkait kokurikuler yang patut Sobat Medcom pahami. Semoga bermanfaat ya! (Bramcov Stivens Situmeang)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan