Ponpes Tambakberas Jombang. DOK nu.or.id
Ponpes Tambakberas Jombang. DOK nu.or.id

Profil dan Sejarah Ponpes Tambakberas Jombang, Lokasi Muktamar ke-35 NU yang Berdiri Sejak 1825

Renatha Swasty • 09 Juli 2026 18:07
Ringkasnya gini..
  • PBNU tetapkan Ponpes Tambakberas Jombang jadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026.
  • Berdiri sejak 1825 sebagai 'Pondok Selawe', pesantren ini tempat lahir pendiri NU, KH Wahab Chasbullah.
  • Dinamai Bahrul Ulum pada 1967 dan kini berkembang modern dengan sistem pengelolaan berbasis kompleks asrama.
Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang amat dinantikan. Agenda akbar tingkat nasional tersebut diputuskan bakal digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
 
Keputusan ini disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta Pusat, pada Selasa, 7 Juli 2026. Pertemuan tersebut menyepakati waktu pelaksanaan Muktamar pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
 
“Akhirnya Rapat Gabungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, sebagai tuan rumah,” ujar Ketua Panitia OC Muktamar Ke-35 NU, Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul, dikutip dari laman NU Online Kamis, 9 Juli 2026.

Terpilihnya pesantren ini tentu bukan tanpa alasan, melainkan karena rekam jejak sejarahnya yang sangat panjang dan mengakar kuat di Indonesia. Selain memiliki nilai historis yang matang, pondok ini merupakan tempat kelahiran sekaligus didirikan oleh tokoh utama pendiri NU, KH Wahab Chasbullah.
 
Kehadiran ribuan muktamirin dipastikan akan mengukir babak baru bagi pesantren yang telah berdiri kokoh selama hampir dua abad ini. Berikut informasi lengkap mengenai profil serta sejarah dari Ponpes Tambakberas Jombang.

Profil dan Sejarah Ponpes Tambakberas Jombang

Mengutip laman mauwh.sch.id, Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) mengawali perjalanannya sekitar tahun 1825 di Dusun Gedang, Kelurahan Tambakberas. Pesantren ini didirikan oleh KH. Abdus Salam yang kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Shoichah.
 
Pada awal perintisannya, Kyai Shoichah bersama para pengikutnya membangun perkampungan santri yang sangat sederhana, terdiri dari sebuah langgar atau musala dan pondokan sementara. Karena awalnya hanya menampung 25 orang pengikut, pesantren ini pada masa itu sangat masyhur dengan sebutan Pondok Selawe (Pondok Dua Puluh Lima).
 
Kyai Shoichah kemudian menikah dengan Muslimah, seorang putri dari Demak, dan dikaruniai beberapa putra-putri, di antaranya: Laiyyinah, Fatimah, Abu Bakar, Murfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Aly Ma’un, Fatawi, dan Abu Sakur.

Perkembangan Generasi dan Hubungan dengan Tebuireng

Seiring berjalannya waktu, Kyai Shoichah menjodohkan dua putrinya dengan santri pilihannya sendiri, yaitu:
 
Laiyyinah dijodohkan dengan Kyai Ustman. Mereka dikaruniai putri bernama Winih atau Halimah, yang kelak menikah dengan Kyai As’ary dari Demak sebagai cikal bakal pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.
 
Fatimah dijodohkan dengan Kyai Sa’id. Dari pernikahan ini lahir Kasminah, Chasbullah (Kasbi), Syafi’i (Kasdu), dan Asim (Kasmo).
 
Setelah era Kyai Shoichah, kepemimpinan diteruskan oleh Kyai Ustman dan Kyai Sa’id. Atas izin mertuanya, Kyai Sa’id mengembangkan sayap pendidikan dengan mendirikan pondok pesantren di sebelah barat Dusun Gedang, lokasi yang menjadi area utama Pondok Pesantren Bahrul Ulum saat ini.
 

Era Kepemimpinan Kyai Chasbullah dan Pemberian Nama ‘Bahrul Ulum’

Karena Kyai Ustman tidak memiliki putra sebagai penerus, seluruh santri dari pondok timur akhirnya diboyong ke pondok barat di bawah asuhan Kyai Chasbullah. Dalam mengasuh pesantren, Kyai Chasbullah didampingi oleh istri yang setia, Nyai Latifah atau A'isah asal Sidoarjo. Mereka dikaruniai putra-putri yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar, antara lain:
  1. Kyai Abdul Wahab Chasbullah, atau salah satu pendiri utama Nahdlatul Ulama
  2. Kyai Abdul Hamid
  3. Nyai Khodijah (Nyai Bisri Syansuri)
  4. Kyai Abdurrahim
  5. Nyai Fatimah
  6. Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrokhiyah.
Pada tahun 1920, Kyai Chasbullah wafat. Kepemimpinan pesantren secara kolektif diteruskan oleh tiga putranya, yaitu Kyai Abdul Wahab, Kyai Abdul Hamid, dan Kyai Abdurrohim.
 
Nama resmi Bahrul Ulum baru lahir pada tahun 1967, yang dicetuskan langsung oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Sang inisiator nama sekaligus ulama kharismatik tersebut kemudian wafat pada 29 Desember 1971.

Era Modernisasi dan Struktur Ribat Kompleks

Mulai tahun 1987, pengelolaan pesantren mulai beralih menggunakan sistem kolektif melalui Dewan Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Di era ini pula dibentuk Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang kala itu diketuai oleh KH. Ahmad Fatih Abd. Rohim.
 
Di bawah kepemimpinan KH. M. Sholeh Abdul Hamid, PPBU mengalami lompatan perkembangan yang sangat pesat. Pesantren ini berhasil melebarkan sayapnya dengan mendirikan berbagai macam ribat atau kompleks asrama khusus, meliputi:
  1. Kompleks Al-Muhajirin I, II, III, dan IV untuk putra dan putri
  2. Kompleks As-Sa’idiyah untuk putra I, II, III dan putri
  3. Kompleks lainnya seperti Al-Muhibbin, Ar-Roudloh, Al-Ghozali untuk putra dan putri, Al-Hikmah, Al-Wahabiyah I & II, Al-Fathimiyah, Al-Lathifiyah I, II, & III, An-Najiyah untuk putra dan putri, Assalma, Al Fattah, Al Asyari, Kompleks Chasbullah, Al Maliki, dan Al Hamidiyah.
Pasca-wafatnya KH. M. Sholeh Abdul Hamid pada tahun 2006, posisi Ketua Majelis Pengasuh berturut-turut diteruskan oleh KH. Amanullah Abdurrahim yang wafat pada 2007, hingga kemudian diamanahkan kepada KH. Hasib Abdul Wahab.
 
Sobat Medcom, itulah informasi mengenai profil dan sejarah Ponpes Tambakberas Jombang yang menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA