Siswi Madrasah di Kudus Ciptakan Alat Deteksi Bencana
Siswi MAN 1 Kudus menunjukan alat pendeteksi gempa buatannya, Medcom.id/Rhobi Shani.
Kudus:  Prestasi membanggakan ditorehkan dua siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus, Jawa Tengah. Mereka berhasil membuat alat pendeteksi dini bencana yang menjadi juara I tingkat nasional dalam Kompetisi Robotik Madrasah 2018 di Depok, Jawa Barat.

Kedua siswi tersebut adalah Yaitu Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro.  Alat yang dibuat dua siswi dari Kota Kretek itu bisa mendeteksi getaran, suhu, serta gas beracun atau karbon monoksida. Mereka menamai alat buatannya Mosugemo. Nama itu diambil dari akronim Monitoringsuhu, getaran, dan karbon monoksida.


Azzalira menyampaikan, untuk membuat alat tersebut dibutuhkan waktu lima hari sejak 11 sampai 15 Oktober 2018. Komponen penyusunnya pun cukup sederhana, mereka hanya menggabungkan modul gsm 900 dengan Arduino Uno R3, serta terdapat komponen lain.

Diterangkan Azzalira, alat pendeteksi itu secara otomatis bisa mengirim pesan ketika terjadi deteksi getaran. Jika terdapat peningkatan suhu di atas 38 derajat celsius atau peningkatan kadar gas karbon monoksida mencapai di atas 30 ppm, maka alat tersebut juga akan mengirimkan pesan singkat berupa peringatan.

"Alat itu akan mengirim pesan ke nomor sudah ditentukan," ujar Azzalira, di Kudus, Selasa, 6 November 2018.

Alfi menambahkan, alat buatannya bersama Azzalira akan diikutsertakan kompetisi di Thailand Februari mendatang, pada ajang Thailand Inventor Day 2019. Untuk ikut dalam kompetisi antarnegara itu, Mosugemo akan disempurnakan.

Misalnya dengan menambahkan sirene ketika ada deteksi bencana. "Kami akan terus berusaha mengembangkan alat ini," tutur Alfi.

Keberhasilan kedua siswi tersebut tidak datang begitu saja. Semula mereka mengusulkan ide berupa alat pendeteksi getaran kepada guru pembimbing.

Baca: Jadi Ilmuwan Itu Cara Baru untuk Keren

Namun mereka malah ditantang untuk membuat alat yang tidak hanya mendeteksi getaran, tapi juga bisa mendeteksi suhu dan karbon monoksida.  Dua guru pembimbing mereka yaitu Arif Noor Adiyanto dan Nurul Khotimah. Keduanya senantiasa mendampingi serta memberi arahan kepada kedua siswi bimbingannya.

Arif mengatakan, dalam memebuat alat tersebut anak didiknya tidak menemu kendala yang cukup berarti.  Hanya mereka cukup kesulitan saat mengintegrasikan satu komponen satu dengan lainya.

"Terutama saat pemrograman ke Arduino Uno R3 itu yang dirasa paling sulit. Alat itu merupakan pengendali dari semuanya, baik dari pendeteksi sampai kirim pesan pemberitahuan atas terjadinya getaran, kenaikan suhu, dan meningkatnya kadar gas," ungkap Arif.

Baca: Mahasiswa UMM Bikin Jam Pendeteksi Jantung

Kepala MAN 1 Kudus, Suhamto mengatakan, kedua siswi yang berhasil membuat alat pendeteksi bencana itu merupakan siswi kelas X MIPA. Mereka tergabung dalam Science and Inovation Program (SIP). Keberhasilan mereka diharapkan bisa ditiru oleh adik kelasnya.

"Program SIP yang kami galakkan ini memang untuk pengembangan sains, dan diharapkan ada generasi baru di bawahnya yang bisa seperti kedua siswi itu," tandas Suhamto.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id