Guru melakukan pembelajaran jarak jauh memanfaatkan teknologi internet di SMA 5 Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (23/09/2020). Foto: MI/Susanto
Guru melakukan pembelajaran jarak jauh memanfaatkan teknologi internet di SMA 5 Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (23/09/2020). Foto: MI/Susanto

Trisula Orang Tua, Sekolah, dan Siswa Kunci Sukses Belajar Daring

Pendidikan sekolah Pembelajaran Daring Pendidikan Jarak Jauh Konvergensi MGN belajar jarak jauh
Media Indonesia, Medcom, MetroTV, Atikah Ishmah Winahyu • 18 November 2020 10:28
Jakarta: Akibat pandemi covid-19, sudah delapan bulan pendidikan atau sekolah memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal itu telah menimbulkan kasus kekerasan pada anak dan stres, bahkan beberapa siswa yang tidak tahan mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
 
Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terjadi peningkatan kekerasan terhadap anak selama pandemi covid-19. Setidaknya terjadi 3.000-an kasus kekerasan pada anak selama Maret-Agustus 2020.
 
Pelaku kekerasan tidak lain orangtua siswa sendiri atau anggota keluarga lain. Para siswa mendapatkan kekerasan secara fisik dan psikis. K, 8, misalnya, siswa kelas I SD di Lebak, Banten, itu meregang nyawa karena dianiaya orangtuanya yang stres mendampingi anak belajar di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, kasus bunuh diri menimpa siswa SMA berinisial MI, 16, di Gowa, Sulawesi Selatan. Kemudian siswa MTS (Madrasah Tsanawiyah) kelas IX berusia 15 tahun di Tarakan, Kalimantan Utara.
 
Menurut guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan, data kekerasan yang menimpa anak dari KPAI merupakan warning (peringatan) bagi seluruh pihak, baik pemerintah, sekolah, guru, maupun orangtua dalam mendukung pelaksanaan PJJ.
 
“Ini perlu perhatian penuh dari seluruh elemen bangsa. Artinya, di sini ada problem psikologis,” katanya saat dihubungi, Selasa, 17 November 2020.
 
Menurut Cecep, PJJ memang dapat menimbulkan rasa jenuh bagi siswa, secanggih apa pun teknologi yang digunakan. Namun, dia menilai, kasus kekerasan ataupun bunuh diri pada anak, tidak sepenuhnya disebabkan PJJ.
 
“Banyak faktor pendorong yang menimbulkan masalah psikologis, misalnya, lingkungan rumah, kondisi ekonomi, hingga faktor hubungan sosial dengan keluarga ataupun teman,” tambahnya.
 
Untuk itu, katanya lagi, dibutuhkan kolaborasi antara orangtua, sekolah, dan siswa. Terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan agar PJJ dapat berlangsung dengan menyenangkan, yaitu infrastruktur, konten, metodologi, pendekatan dengan siswa, dan lingkungan belajar.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif