KH Ahmad Dahlan. DOK Muhammadiyah
KH Ahmad Dahlan. DOK Muhammadiyah

Kapan Tahun Wafat KH Ahmad Dahlan? Ini Tanggal dan Usianya saat Berpulang

Bramcov Stivens Situmeang • 27 Februari 2026 14:42
Ringkasnya gini..
  • Tepat 103 tahun lalu, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menghembuskan napas terakhirnya.
  • KH Ahmad Dahlan meninggal di usia 55 tahun pada 23 Februari 1923.
  • Meski pergi di usia yang relatif muda, warisan pemikiran dan perjuangannya terus hidup dan menginspirasi.
Jakarta: KH Ahmad Dahlan adalah sosok ulama sekaligus pendidik yang meninggalkan warisan luar biasa bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Meski wafat di usia yang terbilang muda, ia berhasil meletakkan fondasi pembaruan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.
 
Tepat 103 tahun lalu, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menghembuskan napas terakhirnya di usia 55 tahun pada 23 Februari 1923. Kisah hidupnya menjadi teladan abadi bagi jutaan orang di seluruh penjuru dunia.
 
Sebelum membahas lebih jauh kiprahnya, yuk kenalan lebih dekat dengan sosok KH Ahmad Dahlan, ulama besar pendiri Muhammadiyah ini.

Profil KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 dan wafat pada 23 Februari 1923 di usia 55 tahun. Meski hanya memimpin Muhammadiyah selama 11 tahun, ia berhasil meletakkan dasar-dasar pembaruan Islam yang luar biasa.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyebut sosok Kiai Dahlan sebagai teladan bagi seluruh warga Persyarikatan. "Kalau dihitung dari sejak beliau memimpin Muhammadiyah, beliau hanya memimpin selama 11 tahun," ujar Abdul Mu'ti dilansir dari laman Muhammadiyah dikutip Jumat, 27 Februari 2026.
 
Dengan waktu yang singkat, Kiai Dahlan mampu meletakkan dasar-dasar pembaruan Islam yang luar biasa dan jasanya menjadi bagian dari keteladanan bagi generasi sekarang. Nilai-nilai kemajuan yang dimilikinya berhasil meluaskan gerak Islam dan Muhammadiyah hingga ke berbagai penjuru dunia.
 
"Jika seorang itu beramal dengan ikhlas, beramal secara tulus, maka akan ada banyak orang yang mengikuti apa saja yang kita lakukan, mendengarkan apa yang kita ucapkan, bahkan memperjuangkan apa yang kita lakukan," kata Mu'ti.

Jejak perjuangan KH Ahmad Dahlan

Perjalanan perjuangan Kiai Dahlan dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia dimulai dari keprihatinannya terhadap kondisi umat yang saat itu dinilai terbelakang. Berikut jejak perjuangannya:

1. Bergabung dengan Budi Utomo untuk pelajari Manajemen Organisasi

Sebelum mendirikan lembaga pendidikan, Kiai Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo pada 1909. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk mempelajari sistem organisasi dan tata kelola manajemen, sekaligus membuka jalan bagi pengajaran Islam di berbagai institusi yang sulit ditembus saat itu.
 
Kapan Tahun Wafat KH Ahmad Dahlan? Ini Tanggal dan Usianya saat Berpulang
Kweekschool Moehammadijah. DOK uinjkt.ac.id
 

2. Mendirikan Madrasah Integratif Pertama pada 1911

Setelah merasa cukup membekali diri dengan ilmu manajemen, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah integratif pertama pada 1 Desember 1911 di ruang tamunya yang berukuran 2,5 x 6 meter dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI). Sekolah ini menyatukan pendidikan agama dan sains Barat dalam satu sistem yang ia namakan Sistem Madrasah. Dirintis dengan hanya 8 siswa, sekolah ini berkembang pesat hingga enam bulan kemudian memiliki 62 siswa.

3. Mendirikan Pesantren Qismul Arqa pada 1919

Kiai Ahmad Dahlan juga mendirikan pesantren Qismul Arqa pada 1919, yang kelak menjadi cikal bakal Kweekschool Moehammadijah atau Mu'allimin. Lembaga ini didirikan khusus untuk menyediakan tenaga pengajar di berbagai madrasah Muhammadiyah dan hingga tahun 1930 menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam modern pertama di Yogyakarta.

4. Sosok Guru yang Inovatif dan Berdedikasi

Selain berpikiran jauh dalam mencetuskan konsep Madrasah, Kiai Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai guru yang penuh inovasi dalam mengajar. Ia kerap mengajak siswa belajar di luar kelas melalui kegiatan tamasya dan tidak segan mendatangi rumah siswa yang absen untuk menjemput mereka agar mau belajar. Metode dialog juga menjadi andalannya dalam mengajar, di mana ia selalu menjawab setiap pertanyaan murid hingga tuntas.

5. Meninggalkan Warisan Besar di Akhir Hayatnya

Satu tahun sebelum wafat, tepatnya pada 1922, Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan telah memiliki 8 sekolah dengan 73 guru dan 1.019 siswa. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat keterbatasan waktu dan sumber daya yang ada pada masa itu.
 
Kiai Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun, selisih 8 tahun dari usia Nabi Muhammad SAW. Meski pergi di usia yang relatif muda, warisan pemikiran dan perjuangannya terus hidup dan menginspirasi hingga lebih dari satu abad kemudian.
 
Itulah ulasan mengenai tanggal wafat Kiai Ahmad Dahlan yang perlu Sobat Medcom pahami. Semoga kisahnya menginspirasi kamu ya!

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan