Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian. Foto: Metro TV
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian. Foto: Metro TV

Miris! DPR Sebut Tragedi Siswa SMK 4 Samarinda Meninggal Jadi 'Alarm Keras' Pendidikan RI

Ilham Pratama Putra • 05 Mei 2026 20:22
Ringkasnya gini..
  • Lalu Hadrian menilai kematian siswa di Samarinda jadi alarm bahwa pendidikan berkaitan erat dengan kesehatan dan kondisi ekonomi keluarga.
  • Dugaan sepatu kekecilan perlu ditelusuri medis, namun masalah utama dinilai lebih dalam, yakni keterbatasan ekonomi dan akses layanan kesehatan.
  • Komisi X DPR mendorong penguatan peran sekolah dan negara, termasuk deteksi dini, bantuan perlengkapan, serta layanan kesehatan agar kasus serupa tak terulang.
Jakarta: Peristiwa meninggalnya seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda, MRS, dinilai bukan sekadar kasus individu. Melainkan alarm keras bagi sistem pendidikan nasional. 
 
MRS diduga meninggal karena sakit pembekakan pada kaki akibat memaksakan diri pakai sepatu sempit. MRS memaksakan diri memakai sepatu ukuran 40 padahal ukuran seharusnya adalah 44. 
 
"Kami menilai hal ini menjadi gambaranan siswa belum terlindungi kesejahteraannya secara menyeluruh," kata Wakil Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian, kepada wartawan, Selasa 5 Mei 2026.  

Ia menegaskan bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga siswa. Menurutnya, tragedi MRS memperlihatkan adanya irisan kuat antara aspek kesehatan, sosial dan ekonomi.
 
Baca juga: Asa Nenek Samini, Sekolah Rakyat Jadi Jalan Keluar Bagi Cucunya dari Kemiskinan

“Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan langsung dengan aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga,” ujarnya.
 
Ia menilai dugaan penggunaan sepatu yang sudah kekecilan hingga berkontribusi pada pembengkakan perlu ditelusuri secara medis secara menyeluruh. Namun, fokus tidak boleh berhenti pada penyebab semata.
 
Menurutnya, kasus ini justru menegaskan adanya kerentanan yang lebih dalam. Yakni keterbatasan ekonomi yang berpotensi membuat kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi secara layak, serta kemungkinan keterlambatan akses layanan kesehatan.
 
“Di luar aspek penyebab langsung, ini menunjukkan ada masalah mendasar, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga akses layanan kesehatan yang terlambat,” jelasnya.
 
Ia menekankan bahwa sekolah harus bertransformasi menjadi ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar. Tetapi juga mampu mendeteksi secara dini kondisi kesehatan dan sosial siswa.
 
Baca juga: Dijemput dari Jalanan, Anak Putus Sekolah Diantar ke Sekolah Rakyat

Sekolah, kata dia, perlu memastikan tidak ada peserta didik yang mengalami keterbatasan perlengkapan dasar. Termasuk kebutuhan sederhana seperti seragam atau sepatu yang layak.
 
Lebih jauh, ia mendorong negara untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menangani persoalan ini. Intervensi seperti bantuan perlengkapan sekolah, penguatan layanan kesehatan berbasis sekolah (UKS), serta integrasi dengan program perlindungan sosial dinilai menjadi langkah penting.
 
Komisi X DPR RI, lanjutnya, akan terus mendorong kebijakan yang memastikan setiap anak mendapatkan lingkungan belajar yang aman, sehat. Termasuk juga manusiawi.
 
“Ini harus menjadi momentum evaluasi bersama agar kasus serupa tidak kembali terulang,” tegasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA