Contohnya di Sekolah Rakyat yang berada di Politeknik STIA LAN, Jakarta. 37 persen siswa Sekolah Rakyat di sana diambil dari jalanan.
“Dari 77 yang kita undang, 29 di antaranya kita temukan di jalan,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Politeknik STIA LAN Jakarta, Rabu 22 April 2026.
Anak-anak tersebut diketahui bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Mereka tidak mengikuti proses belajar formal.
| Baca juga: Berkat Sekolah Rakyat, Anak Pemulung di Boyolali Selamat dari Putus Sekolah |
“Mereka sedang mengamen, membantu orang tua, atau bekerja,” ujarnya.
Temuan ini menunjukkan masih adanya kesenjangan pendidikan di Indonesia. Banyak anak usia sekolah tidak mengenyam pendidikan.
“Ini hanya sebagian kecil, masih banyak yang lain,” ucapnya.
Pemerintah mengakui kondisi tersebut sebagai tantangan besar. Program sekolah rakyat menjadi salah satu solusi.
“Ini bagian dari perhatian khusus pemerintah,” jelasnya.
Anak-anak yang ditemukan kemudian diverifikasi. Pemerintah memastikan kelayakan mereka.
“Kita datangi rumahnya dan cocokkan dengan data,” katanya.
| Baca juga: Tak Sekadar Asrama Gratis, Sekolah Rakyat Asah Bakat Siswa Miskin Lewat Taekwondo dan Seni Tari |
Proses ini melibatkan data DTKS sebagai acuan. Namun, tidak semua anak terdata.
“Sebagian tidak ada di data, makanya kita turun ke lapangan,” ujarnya.
Temuan ini juga menjadi alarm bagi pemerintah. Pendekatan lama dinilai belum cukup.
“Kita harus mencari mereka langsung,” tegasnya.
Sekolah rakyat diharapkan menjadi jalan keluar. Anak-anak ini akan kembali ke jalur pendidikan.
“Ini kesempatan bagi mereka untuk punya masa depan lebih baik,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News