Heri mengatakan jumlah penerima bantuan tersebut mencapai sekitar 60% dari total mahasiswa UI yang berjumlah sekitar 52 ribu orang.
"Jadi, di laporan yang saya terima kemarin, ada 31.000 mahasiswa UI yang mendapatkan beasiswa dan keringanan UKT. Jadi 60% mahasiswa UI mendapatkan beasiswa dan keringanan UKT," ujar Heri saat ditemui di UI, Selasa, 18 Agustus 2026.
| Baca juga: UI Tetapkan Lima Prioritas Riset, dari Geothermal hingga Tempe Tahan Lama |
Meski demikian, Heri belum merinci komposisi penerima berdasarkan jenis bantuan maupun besaran UKT yang mendapatkan keringanan.
Dia mengatakan data yang diterimanya saat ini merupakan gambaran secara keseluruhan mengenai jumlah mahasiswa yang memperoleh dukungan pembiayaan pendidikan.
"Belum detail berapa persennya yang UKT di sesi berapa, di angka berapanya. Tetapi total sekitar 31.000 orang mendapatkan beasiswa dan pengurangan UKT," jelasnya.
Selain dukungan dalam bentuk beasiswa dan keringanan UKT, UI juga memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa baru yang memiliki kondisi ekonomi paling rentan.
Dalam kegiatan penutupan penerimaan mahasiswa baru UI, pihak universitas melakukan pendataan terhadap sekitar 50 mahasiswa baru dengan kondisi ekonomi terlemah dari sekitar 10 ribu mahasiswa baru yang diterima.
Data tersebut kemudian disaring kembali dengan mengecualikan mahasiswa yang telah memperoleh beasiswa. UI juga melihat kondisi keluarga para mahasiswa tersebut.
Hasilnya, terdapat mahasiswa yang berada dalam kondisi yatim piatu maupun yatim atau piatu yang dinilai membutuhkan dukungan tambahan dari universitas.
UI kemudian memberikan laptop kepada 20 mahasiswa yang membutuhkan bantuan sebagai penunjang kegiatan perkuliahan.
Heri menegaskan dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen UI agar mahasiswa yang diterima tidak terkendala kondisi ekonomi dalam menyelesaikan pendidikan.
"Siapapun mahasiswa-mahasiswa yang diterima di Universitas Indonesia yang berasal dari daerah mana pun dengan kondisi ekonomi apa pun, begitu diterima di Universitas Indonesia, UI akan memberikan dukungan supaya mereka berhasil, sukses studinya," tuturnya.
Menurut Heri, dukungan pendidikan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan kuliah. Dia berharap para penerima manfaat nantinya dapat memberikan kembali manfaat kepada masyarakat.
Dia menyebut semangat tersebut sebagai giving back, yakni ketika mahasiswa yang sebelumnya mendapatkan bantuan kelak berada dalam posisi mampu membantu generasi berikutnya.
"Giving back yang tadinya tangan di bawah dibantu, dan saat mereka berhasil, mereka kemudian berada pada posisi tangan di atas dan giving back kembali kepada adik-adiknya," kata Heri.
Heri berharap ekosistem tersebut dapat membuat mahasiswa berbakat dari keluarga kurang mampu tidak ragu untuk menempuh pendidikan tinggi di universitas besar. Dengan dukungan universitas dan alumni, dia berharap semakin banyak mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dan pada akhirnya ikut membuka akses pendidikan bagi generasi berikutnya.
| Baca juga: Bima Arya: SMA? Lewat! Kuliah Jauh Lebih Indah, Ini 3 Alasannya |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda