Ketua Dewan Guru Besar UI Eko Prasojo mengatakan penetapan tema tersebut merupakan langkah awal untuk memperkuat kolaborasi riset lintas disiplin. Adapun riset ini dipercaya menjadi kunci dalam menghasilkan solusi atas persoalan bangsa yang semakin kompleks.
"Kolaborasi riset multidisiplin dan juga interdisiplin yang melibatkan berbagai kepakaran dan kelompok riset. Untuk kesempatan pertama, Dewan Guru Besar melalui Komite II yang membidangi riset multidisiplin telah menetapkan lima tema riset multidisiplin," ujar Eko dalam Temu Akbar Dewan Guru Besar UI.
| Baca juga: Cerita Perempuan Pertama Suku Bajo Jadi Doktor, Semua Anak Berhak Membangun Mimpi |
Eko menjelaskan, tema pertama adalah energi dengan fokus pada pengembangan riset panas bumi (geothermal). Riset ini sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan yang memiliki potensi besar di Indonesia.
Tema kedua ialah ketahanan pangan, yang difokuskan pada riset kedelai untuk menghasilkan tempe berkualitas tinggi dengan daya simpan lebih lama. Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Selain itu, Dewan Guru Besar UI juga menetapkan perubahan iklim sebagai salah satu agenda utama riset. Isu tersebut dinilai semakin mendesak karena dampaknya telah dirasakan di berbagai sektor, mulai dari lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi.
Adapun tema berikutnya adalah pembangunan Papua. Eko menilai kawasan timur Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbasis riset agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, maupun pembangunan sumber daya manusia secara lebih komprehensif.
Tema kelima adalah tata kelola kebencanaan. Indonesia sebagai negara yang rawan bencana membutuhkan inovasi dan rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan agar upaya mitigasi maupun penanganan bencana semakin efektif.
"Tentu akan kita kembangkan berbagai riset multidisiplin lainnya," kata Eko.
| Baca juga: Dibuka Hingga 15 Agustus, Simak Syarat dan Cara Daftar Beasiswa BPI GTK 2026 |
Menurut dia, persoalan nasional tidak lagi dapat diselesaikan hanya dari satu bidang ilmu. Karena itu, kolaborasi antarfakultas dan antarkelompok riset menjadi kebutuhan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih komprehensif.
Selain memperkuat agenda riset, Dewan Guru Besar UI juga ingin meningkatkan kontribusi akademisi dalam penyusunan kebijakan publik. Eko mengatakan para guru besar diharapkan mampu menjadi academic leader yang memberikan pandangan ilmiah terhadap berbagai persoalan pembangunan nasional.
Ia menambahkan, hasil riset para guru besar tidak hanya ditujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Tetapi juga diharapkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.
Rektor UI Prof. Heri Hermansyah mendukung langkah Dewan Guru Besar tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi harus lebih cepat menghadirkan hasil kajian yang relevan dengan isu-isu aktual agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
Ia menilai guru besar memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengkritik. Tetapi juga menawarkan solusi dan alternatif kebijakan berbasis bukti ilmiah.
"Yang bisa kita lakukan sebagai guru tentunya memberikan advice, memberikan solusi, tidak hanya memberikan kritikan tetapi juga memberikan analisis dan alternatif-alternatif untuk menyelesaikan persoalan tersebut," kata Heri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda