Tikus. DOK Freepik
Tikus. DOK Freepik

Pakar Epidemiologi Unair Ungkap Akar Masalah Klaster Hantavirus: Bukan Muncul Tiba-tiba

Renatha Swasty • 08 Mei 2026 21:03
Ringkasnya gini..
  • Hantavirus umumnya tidak muncul tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.
  • Kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
  • Hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.
Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan terkini mengenai temuan klaster penyakit pernapasan berat yang disebabkan oleh Hantavirus di atas kapal pesiar, MV Hondius. Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh orang jatuh sakit, dengan rincian tiga orang meninggal dunia, satu orang dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya menunjukkan gejala ringan.
 
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, menjelaskan hantavirus umumnya tidak muncul tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menduga kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
 
“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” kata Laura dikutip dari laman unair.ac.id, Jumat, 8 Mei 2026.

Dia mengatakan mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung. Laura menjelaskan hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. 
 
Penularan tidak memerlukan kontak langsung, melainkan cukup melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Kondisi ini membuat aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan infeksi.
 
Ia menekankan sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. 
  Oleh karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi. Selain itu, perubahan lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga ikut memengaruhi distribusi reservoir penyakit. 
 
“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujar dia.

Gejala awal dan mitigasi

Laura menjelaskan hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat. 
 
Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.
 
Ia mengatakan bentuk berat infeksi hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” beber dia.
 
Laura menegaskan pentingnya deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
 
Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair itu juga menekankan penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran. “Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” tegas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA