Meski sekolah tersebut adalah Yayasan Pendidikan Islam, ruang pendidikan tetap diberikan setara. Kepala Sekolah SMK Al Hilaal, Megaria, menceritakan setiap tahun ia selalu menerima siswa animisme.
Bagi dia, sekolah adalah sekolah, ruang pendidikan, tak boleh memandang agama yang dipeluk siswa. "Mereka adalah anak bangsa yang harus berhak mendapatkan pendidikan," ujar Megaria saat ditemui di Ambon, Kamis, 12 Februari 2026.
Tak cuma itu, SMK Al Hilaal juga sudah biasa menerima siswa non-muslim. Ada Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, juga Hindu Adat.
Pemberian hak pendidikan bagi semua anak bangsa konsisten diberikan setidaknya sejak Mega bertugas di sekolah itu sejak 19 tahun lalu, pada 2007. Saat ini, dari 178 murid, 52 di antaranya adalah non-muslim dan tiga siswa tercatat penghayat kepercayaan.
"Kami selalu mengusung toleransi kekeluargaan tetap terjaga. Saya adalah seorang ibu yang harus mengayomi mereka," tutur Mega.
Sikap Mega itu akhirnya tertular pada semua muridnya. Sehingga apa pun kepercayaan yang dipeluk para siswa, semua dapat berdampingan.
"Bahkan untuk kegiatan di sekolah seperti Isra Miraj itu mereka yang ini (non-muslim) minta dilibatkan, dan semua akhirnya berperan," ungkap dia.
Mega mengakui anak-anak non-muslim memang diberikan prioritas di sekolahnya. Termasuk mendapatkan afirmasi untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar.
"Memang di kami ini tidak ada guru pembelajaran selain Islam. Jadi kami minta ke dinas. Sedangkan yang animisme ini kami membebaskan mereka, yang non-muslim sebenarnya juga begitu. Jadi mereka boleh mengikuti atau ya ke perpustakaan," sebut dia.
Menurutnya, meski sekolah tersebut berada di bawah Yayasan Islam, pembelajaran agama bukan berarti mendikotomikan. Agama mengajarkan manusia untuk memiliki disiplin diri dan menghargai.
"Justru agama itu adalah nilai, kita memberikan nilai tentang kehidupan, perbedaan justru untuk menyatukan," tutur alumni program Literasi Keagamaan Lintas Kebudayaan (LKLB) Institut Leimena itu.
Mega juga sangat memperjuangkan hak-hak anak non muslim. Ia bercerita bagaimana anak-anak penghayat kepercayaan mendapatkan dukungan untuk pendidikan di SMK Al Hilaal.
Tiga siswa animisme itu datang dari daerah jauh, tepatnya ari Danau Rana yang berjarak 63 kilometer dari SMK Al Hilaal di Namlea. Karena jarak yang begitu jauh, Mega meminta bantuan dari yayasan dan Dinas Pendidikan untuk memberi asrama untuk ketiga siswa tersebut.
Ini agar para siswanya tak menempuh jarak puluhan kilometer ke sekolah, termasuk menyebrangi sungai.
"Ini rasa tanggung jawab kami, karena kasihannya. Sekolah lain tidak ada yang menerima mereka, tapi kami menerima, karena ini anak Bangsa. Tidak boleh (tidak diterima) undang-undang mengajarkan toh, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Saya harus menerima mereka," sebut dia.
Ia memastikan selama menerima anak-anak non-muslim, tak pernah ada perundungan atau bullying antar siswa. Apalagi, intimidasi karena latar belakang.
Mega menyebut pihaknya juga mengupayakan bantuan pendidikan. Misalnya pengurusan Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) untuk siswanya yang akan melanjutkan ke pendidikan tinggi.
"Kami masukkan itu mereka ada lewat usulan dinas pendidikan yang mendata siswa itu tadi (animisme). Dan sekarang mereka yang sudah lulus itu banyak sudah kuliah di Jakarta, Mataram, Makassar," ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News