Di tengah meningkatnya jumlah penerima beasiswa ke luar negeri, muncul pertanyaan mendasar bagi penerima beasiswa. Setelah lulus, ke mana arah pengabdian para alumni? Apakah mereka kembali dan membangun negeri atau justru menetap di luar negeri demi karier yang lebih menjanjikan?
Pemimpin Redaksi Medcom.id, Achmad Firdaus, mengingatkan beasiswa bukan sekadar fasilitas pendidikan. Melainkan amanah publik yang melekat tanggung jawab moral.
“Apalah artinya beasiswa bergengsi jika alumninya justru larut dalam budaya brain drain atau lupa bahwa setiap rupiah yang mereka terima berasal dari keringat rakyat Indonesia?” ujar Daus, sapaan karib Achmad Firdaus, dalam Diskusi Scholarship Forum pada Jumat, 27 Februari 2026.
Menurutnya, perdebatan tentang meritasi dan afirmasi kerap menyita perhatian publik. Namun isu yang lebih mendesak adalah bagaimana memastikan dampak nyata para alumni setelah menyelesaikan studi.
Daus mengatakan negara telah menginvestasikan dana besar untuk mencetak sumber daya manusia unggul. Tetapi, investasi itu akan sia-sia jika tidak kembali dalam bentuk kontribusi konkret bagi pembangunan nasional.
Ia menegaskan beasiswa sejatinya adalah “utang kehormatan”. Apa pun itu bentuk dan siapa penyedia beasiswanya.
“Beasiswa, baik yang berbasis prestasi maupun afirmasi, adalah utang kehormatan. Bukan utang materi, melainkan utang kontribusi,” kata Firdaus.
Data Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menunjukkan sejak 2013 hingga November 2025, lebih dari 58.360 putra-putri terbaik bangsa telah menerima pendanaan studi. Angka tersebut mencerminkan komitmen negara dalam membangun generasi unggul, sekaligus memperbesar ekspektasi publik agar para alumni kembali membawa manfaat.
Namun, Firdaus mengingatkan ukuran keberhasilan program beasiswa tidak berhenti pada jumlah penerima atau reputasi kampus tujuan. Keberhasilan beasiswa tjuga idak pernah diukur dari siapa yang menerima.
"Melainkan siapa yang akhirnya berdampak,” kata dia.
Daus menilai tanpa ekosistem pascabeasiswa yang kuat, potensi brain drain akan terus menjadi bayang-bayang. Alumni yang tidak diarahkan pada ruang kontribusi yang jelas berisiko terserap sepenuhnya dalam pasar global.
Karena itu, penguatan jejaring alumni dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kompetensi yang diperoleh di luar negeri tetap terhubung dengan kebutuhan dalam negeri.
“Jadilah alumni yang tidak hanya diingat karena beasiswanya, tetapi dikenang karena dampaknya,” tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News