Bangunan MTs Mathla'ul Anwar di Kampung Sariyak Layung, Desa Peucang Pari, Cigemblong, Lebak, Banten, Medcom.id/Andra.
Bangunan MTs Mathla'ul Anwar di Kampung Sariyak Layung, Desa Peucang Pari, Cigemblong, Lebak, Banten, Medcom.id/Andra.

Kehabisan Dana, Pembangunan MTs Mathla'ul Anwar Terkatung-katung

Pendidikan sekolah rusak Drive for Edu
Intan Yunelia • 10 Mei 2019 15:19
Jakarta: Berawal dari tiga orang siswa yang belajar berpindah-pindah dari musala, ke rumah warga, lalu berpindah lagi menumpang di bangunan Sekolah Dasar (SD), sekolah ini akhirnya berdiri. Bermodalkan semangat guru dan warga sekitar Kampung Sariyak Layung, Desa Peucang Pari, Cigemblong, Lebak, Banten, MTs Mathla'ul Anwar berdiri dengan dana swadaya sekadarnya.
 
Dana swadaya sekadarnya membuat bangunan sekolah ini pun dibangun seadanya. Sekolah dengan luas lahan 2.000 meter persegi di pelosok Lebak ini hanya terdiri dari tiga kelas, di mana salah satu kelasnya disekat untuk ruang guru.
 
Pembangunan sekolah yang sudah dimulai sejak awal Januari 2019 lalu ini pun terpaksa terhenti dan terkatung-katung di tengah jalan, karena kehabisan dana. Untuk diketahui, dana awal pembangunan MTs ini juga berasal dari swadaya guru dan masyarakat sekitar Sariyak Layung, Lebak yang peduli akan sulitnya akses anak-anak sekitar pada pendidikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau memang sampai ingin dibangun permanen dengan menambah kelas lumayan juga yang dibutuhkan, sekitar Rp700 juta lebih. Tapi kami bangun seadanya dana saja, berapa ada dana ya segitu pembangunannya, kami terpaksa berhenti membangun, karena dana habis," kata kepala MTs Matha’ul Anwar Lebak Banten, Fudin saat dikunjungi Medcom.id, di Sariyak Layung, Desa Peucang Pari, Cigemblong, Lebak, Banten.
 
"Bahkan dana untuk renovasi sekolah saja sangat tidak mencukupi," ujar Fudin.
 
Baca:Atap Roboh Jelang USBN, Kondisi SD Negeri 1 Datarcae Memprihatinkan
 
Kehabisan Dana, Pembangunan MTs Mathla'ul Anwar Terkatung-katung

Jalan rusak dan bertanah menujuMTs Mathla’ul Anwar di pelosok Lebak, Banten.
 
Cikal bakal sekolah ini berawal dari hanya tiga siswa saja. Mereka belajar berpindah-pindah, mulai dari di musala, rumah warga, hingga menumpang di SD terdekat. Baru kemudian pindah ke lokasi sekolah yang saat ini berdiri.
 
Sebelum direnovasi, sekolah ini bukanlah tempat yang layak digunakan untuk belajar. Siswa belajar tanpa kursi dan hanya beralasakan tanah. "Waktu kemarin itu lantainya tanah, jadi anak-anak harus duduk di tanah dan ngebul (berdebu). Sekarang Alhamdulillah sudah lumayan nyaman, kelas bersih dan ada kursi," ujar Fudin.
 
Seiring dengan meningkatnya kesadaran orangtua siswa di sekitar Kampung Sariyak Layung, membuat jumlah siswa yang bersekolah di MTs Mathla'ul Anwar ini pun terus bertambah. Dari yang semula hanya tiga siswa menjadi 48 siswa.
 
Mereka terbagi atas tiga kelas, yakni kelas VII, VIII, IX. Belakangan ini, bahkan jumlah anak di sekitar sekolah yang ingin mendaftar juga semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hanya saja daya tampung yang terbatas membuat Mathla'ul Anwar menahan diri untuk menerima lebih banyak siswa.
 
Sehingga ke depan, sekolah ini membutuhkan lebih banyak lagi ruang kelas untuk menampung lebih banyak siswa yang membutuhkan pendidikan setingkat SMP di daerahnya. Dengan kondisi yang demikian, Mathla'ul Anwar ini pun membuka diri untuk menerima bantuan donasi dari pihak manapun.
 
"Dari pemerintah kami terima, dari pihak lain juga pasti kami terima, mana saja yang mau membantu kami, karena kebutuhannya sangat besar," terangnya.
 
Fudin menyebutkan, tak hanya butuh bantuan berupa bangunan,Mathla'ul Anwar juga sangat membutuhkan buku pelajaran, buku tulis, dan lemari buku. "Kadang kami para guru sering patungan untuk membelikan siswa buku tulis. Karena ada sejumlah siswa yang berhari-hari tidak masuk sekolah, setelah didatangi rumahnya ternyata karena mereka tidak punya buku tulis," tutur Fudin.
 
Baca:Mitsubishi Dukung Kegiatan Drive for Edu Medcom.id
 
Tidak hanya itu, bantuan untuk Mathla'ul Anwar sangat dinanti, karena banyak sekali anak-anak usia sekolah di sekitar Sariyak Layun ini yang terpaksa putus sekolah dan minim akses untuk menuju sekolah terdekat.
 
"Sekolah ini kami dirikan bersama-sama warga, agar jangan sampai anak-anak ini mengalami nasib seperti kami. Dulu kami harus jalan kaki sejauh enam kilometer, berangkat subuh untuk menuju sekolah terdekat. Kami termotivasi, ini negara maju dan modern, anak-anak jangan seperti kami putus sekolah," harap Fudin.
 
Kehabisan Dana, Pembangunan MTs Mathla'ul Anwar Terkatung-katung
Salah satu kondisi ruang kelas diMTsMathla'ul Anwar yang terpaksa disekat untuk ruang guru.
 
Untuk itulah,Portal berita dan video Medcom.id melalui program donasi pendidikan yang bernama Drive for Edu hadir dan memilih MTs Mathla'ul Anwar sebagai satu dari dua sekolah yang akan menerima donasi dari masyarakat di tahap pertama ini. Kehadiran program Drive for Edu ini diharapkan dapat menjembatani kepedulian masyarakat yang ingin berkontribusi langsung bagi pemajuan dunia pendidikan di Indonesia.
 
Program ini berkonsep menghimpun dan menyalurkan donasi untuk pendidikan dan menjadi langkah kecil yang diyakini dapat mendorong percepatan peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.
 
Baca:Donasi 'Drive for Edu' Dibuka, Catat Rekeningnya, Yuk !
 
Corporate Communication Medcom.id, Findo Gading mengatakan masyarakat peduli pendidikan dapat mulai menyalurkan donasinya melalui program Drive for Edu Medcom.id. direkening Bank BCA cabang Kedoya Baru, dengan nomor rekening: 309-077-8080 atas nama Yayasan Media Group.
 
Drive for Edu diharapkan dapat meningkatkan peran aktif pihak swasta dan masyarakat dalam membantu pemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan langkah ini, diyakini dapat mendorong pemerataan akses dan kualitas pendidikan, sehingga lebih banyak lagi peserta didik di Indonesia yang dapat menikmatinya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif