Jakarta: Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) Prof. drg. Boy Muchlis Bachtiar, M.S, Ph.D., PBO mengembangkan perangkat diagnosis berbasis aptamer (sintetik oligonukleotida). Saat ini pihaknya melalui Laboratorium Biologi Oral dan Oral Scicnce Research Center FKGUI telah mematenkan satu sekuens aptamer RNA-aptamer yang disebut Ca-apt-1.
Boy yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar di Bidang Ilmu Biologi Oral hari ini menjelaskan, bahwa produk mereka dapat berikatan dengan candida albicans, secara spesifik dan dengan afinitas (kecenderungan suatu unsur atau senyawa untuk membentuk ikatan kimia dengan unsur atau senyawa lain) tinggi.
C.albicans sendiri, jelas jebolan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University Melbourne, Australia ini, adalah jamur flora norma, yang juga dapat dideteksi dan diisolasi dari saluran cerna dan saluran lahir (vagina), dengan perilaku oportunis yang sama seperti kerabatnya yang ada di oral environment.
“Hasil uji in vitro yang kami lakukan juga mengindikasikan bahwa Ca-apt-1 berpotensi sebagai pendeteksi (molecule recognition) C.albicans pada preparat imunohistokimia dan pada berbagai sampel oral yang dideteksi menggunakan metoda immunoblotting,” jelas Boy dalam pidato pengukuhannya di Balai Sidang UI, Depok, Rabu, 29 Januari 2020.
Ia mengungkapkan, Ca-apt-1 sebagai molekul detektor mempunyai efektifitas yang setara dengan antibodi poliklinal anti-C.albicans. Nantinya riset ini, terang Boy, akan dijadikan sebuah perangkat diagnosis berdasarkan pada platform point of care testing (PoCT). Selain itu juga memenuhi kriteria ‘ASSURED’ (Affordable, sensitive, spesific, user friendly, rapid and robust, equipment free dan delivered.
Profesor kelahiran Padang mengatakan, ini merupakan syarat yang direkomendasikan WHO. Untuk PoCT, kata Boy, sudah digunakan pada alat tes kehamilan dan pengukur gula darah.
“Ke depan, perangkat diagnosis berbasi aptamer ini akan dikembangkan untuk kepentingan klinis dalam pelayanan kedokteran gigi, khususnya pada masyarakat di remote area,” terang Boy.
Lebih lanjut, kata Boy, tidak menutup kemungkinan aptamer ini akan menggantikan urine dan darah sebagai sampel diagnosis. Pasalnya dengan dukungan teknologi nano hal tersebut bisa diwujudkan.
“Akan membuka peluang untuk memanfaatkan saliva, cairan suku gigi, plak gigi, usapan lidah dan usapan mukosa, untuk menjadi sumber sampel klinis bagi keperluan diagnosis. Karena teknik pengoleksiannya yang praktis dan tidak bersifat invansif,” terangnya.
Bahkan tidak menutup kemungkinan pemanfaatan klinis aptamer bisa bertambah apabila pihaknya berhasil membuat aptamer pendeteksi sel terkait penyakit ganas. Selain itu juga bisa untuk tes penyalahgunaan obat, bioterorisme, mendeteksi penyakit geriatrik atau penyakit manusia usia lanjut, dan mendeteksi penyebab halitosis atau bau mulut.
“Artinya para pakar biologi oral bisa berperan dalam pengembangan teknologi diagnostik berbasis aptamer,” kata pria 67 tahun ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan