Suami istri yang dikukuhkan menjadi Guru Besar tetap Fakultas Kedokteran Gigi UI (FKG UI). Foto:  Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Suami istri yang dikukuhkan menjadi Guru Besar tetap Fakultas Kedokteran Gigi UI (FKG UI). Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

UI Kukuhkan Suami Istri Sebagai Guru Besar

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar
Muhammad Syahrul Ramadhan • 29 Januari 2020 15:45
Depok: Universitas Indonesia mengukuhkan dua Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Gigi UI (FKG UI) bidang Ilmu Biologi Oral. Keduanya merupakan pasangan suami istri, yakni Prof. drg. Boy Muchlis Bachtiar, M.S, Ph.D, PBO dan Prof. drg. Endang Winiati, M.Biomed, Ph.D, PBO.
 
Dalam pengukuhan yang dipimpin Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D, Boy menyampaikan pidato pengukuhan berjudul 'Aptamer: Suatu Terobosan Bioteknologi untuk Mengungkapkan Fenomena Biologis pada Ekosistem di Dalam Mulut. Boy menyampaikan, bahwa apatamer adalah asam nukleat utas tunggal (ssDNA atau RNA) yang dapat diproduksi secara in vitro atau di dalam tabung di laboratorium melalui teknik SELEX (Systematic Evolution of Ligands by Exponetial Enrichment).
 
Aplikasi klinis aptamer sangat beragam dan sudah banyak profesi yang memanfaatkannya, mulai dari kedokteran, farmasi, pertanian sampai forensik dan bioterrorism. "Secara umum, aplikasi aptamer lebih banyak diarahkan untuk mendukung pembuatan biosensor, perangkat diagnostik, metoda terapi, dan metoda pencegahan," terang Boy dalam pidato pengukuhan di Balai Sidang UI, Depok, Rabu, 29 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut Boy mengatakan, Laboratorium Biologi Oral dan Oral Science Research Center FKG UI telah mematenkan aptamer (Ca-apt1). Ia menjelaskan, bahwa Ca-apt1 yang telah diuji secara in vitro ini dapat menghambat pembentukan biofilm Candida albicans, jamur flora mulut yang dapat juga dideteksi dan diisolasi sebagai pantogen oportunistik pada saluran cerna dan saluran lahir (vagina).
 
"Khususnya dari sampel klinik yang berasal dari individu dengan defek umum," ujarnya.
 
Boy juga mengungkapkan, bahwa hasil uji in vitro yang telah dilakukan mengindikasikan bahwa Ca-apt1 FKG UI berpotensi menjadi pendeteksi C.albicans pada preparat imunohistokimia dan pada berbagai sampel oral yang dideteksi menggunakan metoda immunoblotting.
 
"Sebagai molekul detektor, dengan efektivitas yang setara dengan antibodi poliklonal anti C.albicans," ungkapnya.
 
Sementara itu sang istri Endang dalam pidato berjudul Aplikasi Bioteknologi dan Bioinformatika dalam Pelayanan Kedokteran Gigi mengatakan, bahwa penerapan bioteknologi dan bioinformatika dalam kedokteran gigi kekinian sangat membantu penelitian. Baik epidemologi molekural maupun penelitian eksperimental laboratorium untuk mencari strategi bagaimana mendeteksi suatu penyakit, termasuk faktor risikonya.
 
Selain itu juga mencegah dan mengobati atau mengembalikan fungsi rongga mulut. Endang mengatakan, penerapan bioteknologi dan bioinformatika dalam kedokteran gigi saat ini telah diupayakan dalam mencari strategi pencegahan karies gigi dan rekayasa sel dan jaringan keras, rongga mulut.
 
Sehingga dapat diaplikasikan dalam pelayanan dokter gigi. "Saat ini kami telah mengembangkan strategi pencegahan karies gigi melalui pembuatan vaksin DNA yang membawa gen Streptococcus mutans, bakteri yang terlibat pada proses karies gigi," ungkapnya.
 
Tercatat saat ini UI sudah mengukuhkan 299 Guru Besar. Dengan dikukuhkannya pasangan suami istri FKG UI memiliki 21 Guru Besar.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif