Suami istri saat dikukuhkan menjadi Guru Besar di UGM
Suami istri saat dikukuhkan menjadi Guru Besar di UGM

Suami Istri Jadi Profesor di Hari Ulang Tahun Pernikahan

Pendidikan Guru Besar
Patricia Vicka • 26 November 2019 16:19
Sleman: Sepasang suami istri asal Yogyakarta kompak dikukuhkan menjadi guru besar oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Keduanya adalah Prof. Supriyanto, dan Prof. Agnes Murdiati. Keduanya sama-sama menjadi pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM.
 
Pengukuhan keduanya dilakukan di Balai Senat UGM, Selasa, 26 November 2019. Uniknya pengukuhan ini terjadi tepat di hari Ulang tahun (HUT) Pernikahan mereka ke-41.
 
Keduanya bersyukur karena bisa sama-sama memperoleh puncak jabatan akademis ini. Mereka menganggap pemberian gelar ini sebagai kado indah di HUT pernikahan ke-41.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada pengukuhan itu Supriyanto menyampaikan pidato berjudul Perkembangan Pengolahan Biji Kakao dan Perspektif Baru Hasil Olahan Kakao Sebagai Sumber Antioksidan Alami. Supriyanto menyebutkan, biji kakao berpotensi menjadi sumber antioksidan alami, sebab di dalamnya mengandung senyawa polifenol yang cukup tinggi.
 
Kendati begitu kandungan polifenol itu bisa berkurang selama pengolahan biji kakao. “Pada proses pengeringan di suhu 55°C selama 24 jam terjadi kehilangan polifenol lebih dari 80%. Sedangkan pada pengeringan selama 48 jam akan kehilangan lebih dari 95%,” papar Kepala Laboratorium Rekayasa Proses FTP UGM ini.
 
Sementara Agnes dalam pengukuhan itu memaparkan pidato berjudul Peran Kacang-kacangan Dalam Memantapkan Ketahanan Pangan Nasional. Anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Daerah DIY ini menuturkan, kacang-kacangan memiliki peran strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
 
Kacang-kacangan merupakan bahan pangan nabati yang kaya protein dan lemak. Selain bermanfaat sebagai sumebr protein, kacang-kacangan juga bermanfaat sebagai sumber kalori dan sumber asam lemak esensial.
 
“Indonesia kaya akan berbagai jenis kacang-kacangan, termasuk koro-koroan, tetapi sampai saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal,” sebutnya.
 
Agnes memaparkan, pemanfaatan yang belum optimal ini dikarenakan sejumlah alasan. Salah satunya, kulit koro pedang putih yang tebal dan keras menyulitkan proses penghilangan kulit. Selain itu juga kandungan senyawa atau zat antigizi Hidrogen sianida (HCN) yang cukup tinggi menyebabkan kurang enak dikonsumsi dan membahayakan tubuh.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif