Jakarta: Upaya menjaga kelestarian Candi Borobudur terus dilakukan melalui pemugaran bagian Yasti atau pucuk stupa induk. Dalam proses pembongkaran dan pemeriksaan struktur, tim teknis menemukan tiang penangkal petir yang mengalami pengeroposan dan sudah tidak lagi terkoneksi.
Selain memperkuat struktur bangunan, pemugaran menjadi bagian dari upaya menjadikan Borobudur sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap hidup, baik sebagai sumber pengetahuan sejarah maupun ruang yang memiliki makna spiritual bagi umat Buddha.
Pemugaran Yasti Candi Borobudur
Yasti merupakan bagian paling atas dari stupa induk atau Mahastupa Candi Borobudur. Posisinya yang berada di bagian puncak, kondisi dan kestabilannya menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keutuhan struktur bangunan.
Pemugaran kali ini menindaklanjuti pemantauan tim ahli pada Agustus 2026. Hasil pemantauan menemukan sejumlah kondisi yang memerlukan penanganan, mulai dari pergeseran struktur Yasti, rongga dan rekahan pada Yasti serta Harmika, pelapukan batu, hingga penggaraman pada badan stupa.
Arkeolog Ali Akbar menyoroti pentingnya kajian ilmiah dalam memahami kondisi bangunan dan menentukan langkah konservasi. Kajian terhadap struktur candi dapat memanfaatkan teknologi, seperti drone untuk dokumentasi visual dan Ground Penetrating Radar (GPR) untuk membantu pemeriksaan kondisi bagian dalam struktur.
“Pemugaran ini melibatkan kajian ilmiah pada stupa yang memanfaatkan teknologi, seperti penggunaan drone dan GPR,” ujar dia.
Penggunaan teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan pemeriksaan dan metode yang ditetapkan tim ahli. Tujuannya adalah memperoleh informasi yang memadai sebelum menentukan tindakan konservasi, terutama pada bagian bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Upaya pelestarian juga perlu memperhatikan kondisi relief dan batu candi yang masih utuh, tetapi mengalami kerapuhan. Penanganan dilakukan dengan mengutamakan kehati-hatian agar proses konservasi tidak menimbulkan kerusakan baru.
Ini adalah pemugaran ketiga kalinya. Saat ini, p0emugaran berfokus pada konsolidasi Yasti dan konservasi Mahastupa.
Keterlibatan tenaga ahli Indonesia dalam pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kesinambungan upaya pelestarian cagar budaya dengan tetap mengacu pada hasil kajian ilmiah dan prinsip konservasi.
Pemugaran Yasti Temukan Penangkal Petir Keropos
Pemugaran tersebut merupakan bagian dari konsolidasi dan konservasi Mahastupa untuk menangani persoalan struktur sekaligus mempertahankan nilai sejarah dan spiritual Candi Borobudur. Pemugaran ini ditargetkan akan selesai dalam waktu kurang lebih satu bulan.
“Pekerjaan ini ditargetkan rampung pada 24 Oktober 2026, setelah itu area yang ditutup sementara akan dibuka kembali secara bertahap sesuai hasil pemeriksaan akhir,” ujar Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Dalam 10 hari pertama pengerjaan, tim teknis telah membongkar dua lapis batu pada bagian tengah Yasti. Langkah tersebut dilakukan untuk memeriksa kondisi struktur dan menelusuri posisi tiang penangkal petir di bagian dalam.
Pemeriksaan menunjukkan tiang penangkal petir mengalami pengeroposan. Sistem tersebut juga sudah tidak terkoneksi sehingga tidak lagi berfungsi.
Tim turut menemukan sejumlah batu yang sebelumnya direkatkan menggunakan semen modern dalam pekerjaan pada 2010–2011. Material tersebut digunakan untuk memperkuat posisi penangkal petir yang dipasang menggunakan sistem cakar ayam dengan pipa di bagian dalam Yasti.
Ditemukan juga material semen bercampur kapur yang masih dianalisis lebih lanjut karena berpotensi berkaitan dengan fenomena penggaraman pada bagian Mahastupa. Perbaikan ini merupakan tindak lanjut dari hasil pemantauan dan temuan di lapangan sehingga setiap tindakan konservasi perlu didasarkan pada kondisi aktual bangunan dan hasil kajian teknis agar tidak mengganggu keaslian maupun integritas struktur candi.
Pengembangan Borobudur Menjadi Living Heritage
Pemugaran Borobudur berkaitan dengan upaya mengembangkan situs tersebut sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap hidup dan memiliki manfaat bagi masyarakat.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, mendorong agar Borobudur tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki makna spiritual dan dapat memberikan manfaat sosial serta ekonomi.
“Cagar budaya di Indonesia salah satunya Candi Borobudur harus memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Selain itu, Candi Borobudur dijaga sebagai bentuk mempertahankan spiritualitas dan peradaban bangsa,” ujar dia.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah akses bagi umat Buddha untuk berkunjung dan menjalankan ibadah dengan tetap memperhatikan ketentuan pelestarian cagar budaya.
Berdasarkan konteks keagamaan Buddha, keberadaan unsur cakra pada bagian puncak stupa juga menjadi perhatian. Cakra memiliki makna simbolis dalam tradisi Buddha, antara lain berkaitan dengan ajaran dan kemuliaan spiritual.
“Melihat dari sisi agama Buddha, keberadaan cakra itu harus ada,” tegas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Pembahasan mengenai unsur tersebut perlu mempertimbangkan kajian arkeologi, sejarah, arsitektur, serta pandangan keagamaan. Setiap rencana penambahan atau adaptasi elemen pada stupa induk harus melalui kajian dan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk memperhatikan ketentuan pelestarian Warisan Dunia UNESCO.
Candi Borobudur Tetap Dibuka Selama Pemugaran
Selama pekerjaan berlangsung, Candi Borobudur tetap dibuka untuk pengunjung dengan sejumlah penyesuaian akses demi menjaga keselamatan wisatawan dan kelancaran pekerjaan konservasi.
Museum dan Cagar Budaya mengimbau pengunjung mengikuti rute yang telah ditetapkan, memperhatikan pembatas area kerja, serta mematuhi arahan petugas di lapangan. Pengaturan akses dapat disesuaikan dengan perkembangan pekerjaan dan hasil evaluasi keselamatan.
Melalui pemugaran ini, pelestarian Candi Borobudur diharapkan dapat menjaga kestabilan bangunan dan memastikan warisan budaya tersebut terus memiliki makna bagi kehidupan spiritual, pendidikan, dan masyarakat Indonesia. (Adinda Kinanthi)