WISATA
Tak Sekadar Melihat Relief, Kini Bisa Paham Kisah Borobudur Secara Imersif
Mohamad Mamduh
Selasa 01 September 2026 / 21:10
- Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Purwacarita Borobudur, pengalaman imersif yang mengajak masyarakat mengenal sejarah dan budaya Borobudur dengan cara berbeda.
- Pengunjung dapat menikmati delapan pengalaman interaktif yang mengangkat kisah di balik pembangunan Borobudur hingga cerita pada sejumlah reliefnya.
- Purwacarita Borobudur menggunakan teknologi sebagai media visualisasi, sementara informasi sejarahnya tetap berlandaskan riset dan validasi para ahli.
Jakarta: Selama ini, kisah Candi Borobudur banyak dikenal melalui relief, buku sejarah, maupun kunjungan langsung ke situsnya. Kini, masyarakat bisa mengenal kisah di balik Borobudur melalui pengalaman yang lebih interaktif.
Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, sebuah pengalaman imersif yang memadukan sejarah, budaya, dan teknologi.
Konferensi pers peluncuran Purwacarita Borobudur digelar di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, pada Selasa, 1 September 2026. Pengalaman ini mulai dapat dinikmati masyarakat pada hari yang sama secara gratis.
Purwacarita Borobudur menghadirkan delapan pengalaman imersif yang membawa pengunjung menelusuri kisah mengenai asal mula Borobudur, tokoh-tokoh yang berkaitan dengan pembangunannya, hingga cerita yang terdapat pada relief candi..jpeg)
Salah satu bagian dalam Purwacarita Borobudur memperkenalkan Kāmulan i Bhūmisambhāra, sebagaimana disebut dalam prasasti kuno. Pengunjung juga diajak mengenal konsep kosmologi Borobudur melalui pengalaman visual dan interaktif.
Ada pula pengalaman Karmawibhangga dan Avadana yang menggunakan konsep teater imersif. Relief-relief yang selama ini dapat dilihat pada dinding candi ditampilkan kembali dalam bentuk rangkaian adegan.
Karmawibhangga berkaitan dengan hukum sebab-akibat atau karma, sedangkan Avadana menghadirkan kisah Pangeran Sudhana dan Putri Manohara.
Pengunjung juga dapat menjelajahi Mandala, yang menggambarkan perjalanan sakral peziarah purba dari Candi Mendut, Candi Pawon, hingga Stupa Induk Borobudur.
Tidak hanya melihat visual, pengunjung juga dapat berinteraksi menggunakan sensor gerak. Dalam salah satu pengalaman, gerakan pengunjung dapat memicu respons flora dan fauna yang terinspirasi dari relief Borobudur, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah.
Meski memanfaatkan teknologi Ethical AI, Purwacarita Borobudur tetap menempatkan sejarah sebagai dasar utama dalam penyusunan narasinya.
AI digunakan sebagai alat bantu visualisasi untuk menghidupkan cerita sejarah. Sementara itu, data dan narasi yang digunakan berasal dari hasil riset serta sumber sejarah yang telah melalui proses kurasi dan validasi.
Beberapa sumber yang menjadi pijakan antara lain Prasasti Karangtengah (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M). Penggambaran busana, artefak, hingga berbagai unsur visual juga melalui proses kurasi.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti sejarah, melainkan sebagai media untuk membantu masyarakat memahami cerita masa lalu dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Purwacarita Borobudur dapat dinikmati masyarakat secara gratis di Galeri Indonesia Kaya mulai 1 September 2026 sampai desember 2026.
Melalui perpaduan proyeksi visual, teater imersif, sensor gerak, permainan interaktif, dan film, pengunjung diajak mengenal Borobudur tidak hanya sebagai sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga memahami kisah dan nilai budaya yang berada di baliknya.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah Borobudur dengan pendekatan berbeda, Purwacarita Borobudur menawarkan pengalaman yang menggabungkan unsur edukasi, budaya, dan teknologi dalam satu ruang.
(Ellen Octovia Suherman)
(MMI)
Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, sebuah pengalaman imersif yang memadukan sejarah, budaya, dan teknologi.
Konferensi pers peluncuran Purwacarita Borobudur digelar di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, pada Selasa, 1 September 2026. Pengalaman ini mulai dapat dinikmati masyarakat pada hari yang sama secara gratis.
Purwacarita Borobudur menghadirkan delapan pengalaman imersif yang membawa pengunjung menelusuri kisah mengenai asal mula Borobudur, tokoh-tokoh yang berkaitan dengan pembangunannya, hingga cerita yang terdapat pada relief candi.
Menelusuri Kisah di Balik Borobudur
.jpeg)
Salah satu bagian dalam Purwacarita Borobudur memperkenalkan Kāmulan i Bhūmisambhāra, sebagaimana disebut dalam prasasti kuno. Pengunjung juga diajak mengenal konsep kosmologi Borobudur melalui pengalaman visual dan interaktif.
Ada pula pengalaman Karmawibhangga dan Avadana yang menggunakan konsep teater imersif. Relief-relief yang selama ini dapat dilihat pada dinding candi ditampilkan kembali dalam bentuk rangkaian adegan.
Karmawibhangga berkaitan dengan hukum sebab-akibat atau karma, sedangkan Avadana menghadirkan kisah Pangeran Sudhana dan Putri Manohara.
Pengunjung Bisa Berinteraksi
Pengalaman lainnya hadir melalui Batu Carita, yang memperkenalkan empat tokoh, yaitu Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.Pengunjung juga dapat menjelajahi Mandala, yang menggambarkan perjalanan sakral peziarah purba dari Candi Mendut, Candi Pawon, hingga Stupa Induk Borobudur.
Tidak hanya melihat visual, pengunjung juga dapat berinteraksi menggunakan sensor gerak. Dalam salah satu pengalaman, gerakan pengunjung dapat memicu respons flora dan fauna yang terinspirasi dari relief Borobudur, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah.
Sejarah Jadi Landasan Utama

Meski memanfaatkan teknologi Ethical AI, Purwacarita Borobudur tetap menempatkan sejarah sebagai dasar utama dalam penyusunan narasinya.
AI digunakan sebagai alat bantu visualisasi untuk menghidupkan cerita sejarah. Sementara itu, data dan narasi yang digunakan berasal dari hasil riset serta sumber sejarah yang telah melalui proses kurasi dan validasi.
Beberapa sumber yang menjadi pijakan antara lain Prasasti Karangtengah (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M). Penggambaran busana, artefak, hingga berbagai unsur visual juga melalui proses kurasi.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti sejarah, melainkan sebagai media untuk membantu masyarakat memahami cerita masa lalu dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Gratis untuk Dikunjungi

Purwacarita Borobudur dapat dinikmati masyarakat secara gratis di Galeri Indonesia Kaya mulai 1 September 2026 sampai desember 2026.
Melalui perpaduan proyeksi visual, teater imersif, sensor gerak, permainan interaktif, dan film, pengunjung diajak mengenal Borobudur tidak hanya sebagai sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga memahami kisah dan nilai budaya yang berada di baliknya.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah Borobudur dengan pendekatan berbeda, Purwacarita Borobudur menawarkan pengalaman yang menggabungkan unsur edukasi, budaya, dan teknologi dalam satu ruang.
(Ellen Octovia Suherman)
(MMI)