Suhu dingin. DOK Magnific
Suhu dingin. DOK Magnific

Fenomena Bediding Adalah, Ini Penyebab Suhu Dingin di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara

Bramcov Stivens Situmeang • 10 Juli 2026 11:54
Ringkasnya gini..
  • Fenomena bediding menyebabkan suhu udara melonjak dingin pada malam hingga pagi hari di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara selama puncak kemarau.
  • Udara dingin dipicu oleh minimnya tutupan awan serta pergerakan angin monsun dingin dari Australia yang menuju wilayah Indonesia.
  • BMKG mencatat AWS Bromo di Probolinggo menjadi wilayah terdingin di Jawa Timur dengan suhu mencapai 11,5°C pada Juni 2026.
Jakarta: Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara kerap mengalami udara dingin yang terasa menusuk, terutama pada malam sampai pagi hari. Kondisi ini dikenal dengan istilah bediding, yakni suatu fenomena alam yang rutin terjadi setiap musim kemarau.
 
Fenomena bediding umumnya mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus. Bertepatan dengan musim pendakian gunung yang ramai peminat, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu memahami penyebab hingga waktu terjadinya fenomena ini agar dapat mempersiapkan diri dengan baik.
 
Sebelum membahas lebih lanjut, yuk kenalan dulu dengan apa itu fenomena bediding, penyebabnya, hingga kapan waktu terjadinya. Simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Fenomena Bediding?

Mengutip laman staklim-sumsel.bmkg.go.id dan content.bmkg.go.id, fenomena bediding merupakan kondisi udara dingin yang lazim terjadi pada musim kemarau, khususnya selama periode Juni hingga September. Puncaknya berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus.

Pada periode tersebut, langit umumnya cerah dengan sedikit tutupan awan. Akibatnya, panas hasil radiasi matahari yang diserap permukaan bumi lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang.
 
Kondisi ini diperkuat oleh rendahnya kelembapan udara karena minimnya curah hujan. Uap air yang biasanya membantu menahan panas di dekat permukaan bumi menjadi sangat sedikit, sehingga panas langsung terlepas ke atmosfer.
 
Dampaknya, suhu udara pada malam hingga menjelang pagi terasa jauh lebih dingin. Menariknya, kondisi itu justru berbanding terbalik dengan siang hari.
 
Di wilayah dekat garis khatulistiwa, cuaca akan terasa lebih panas akibat sinar matahari yang langsung mengenai permukaan bumi tanpa terhalang awan. Sedangkan, di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), suhu siang hari justru cenderung lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Penyebab Fenomena Bediding

Istilah bediding atau bedhidhing dalam bahasa Jawa merujuk pada perubahan suhu udara yang sangat mencolok pada awal musim kemarau. Suhu udara menjadi sangat dingin pada malam hingga pagi hari, sedangkan siang harinya terasa lebih panas.
 
Selain minimnya tutupan awan, fenomena ini juga dipengaruhi oleh angin monsun dingin dari Australia. Pada bulan Juli, Australia sedang mengalami puncak musim dingin sehingga tekanan udara di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi.
  Perbedaan tekanan udara tersebut mendorong massa udara dingin bergerak menuju Indonesia melewati Samudera Hindia. Udara dingin kemudian memasuki wilayah Jawa bagian selatan, Bali, hingga Nusa Tenggara sehingga menyebabkan suhu udara turun meskipun kondisi cuaca tetap cerah dan tidak disertai hujan.

Kapan Fenomena Bediding Terjadi?

Fenomena bediding umumnya berlangsung selama musim kemarau, yakni pada Juni hingga September. Periode paling dingin biasanya terjadi pada akhir Juli hingga Agustus ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
 
Fenomena ini juga masih dirasakan hingga pertengahan 2026. BMKG mengungkapkan sejumlah wilayah di Jawa Timur mencatat suhu minimum yang cukup rendah, terutama di kawasan dataran tinggi.
 
"Berdasarkan hasil pengamatan suhu minimum periode 13 Juni 2026 pukul 07.01 WIB hingga 14 Juni 2026 pukul 07.00 WIB. Beberapa wilayah di Jawa Timur masih mengalami suhu udara yang cukup dingin, terutama di daerah dataran tinggi," tulis informasi di akun Instagram @bmkg.iklimjatim dikutip Jumat, 10 Juli 2026.
 
Berdasarkan hasil pengamatan periode 13–14 Juni 2026, berikut lima wilayah dengan suhu minimum terendah di Jawa Timur:

5 Wilayah dengan Suhu Terendah di Jawa Timur

  1. AWS Bromo, Probolinggo: 11,5°C
  2. AWS Kota Batu, Batu: 17,2°C
  3. ABD Shaleh, Malang: 17,6°C
  4. Stageof Pasuruan (Tretes): 18,0°C
  5. AWS Bondowoso: 19,9°C

Imbauan BMKG Saat Fenomena Bediding

Menghadapi kondisi udara dingin selama musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa langkah berikut:
  1. Menggunakan pakaian hangat, terutama pada malam dan pagi hari.
  2. Menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan bugar.
  3. Bagi petani serta peternak, memperhatikan dampak suhu rendah terhadap tanaman maupun ternak.
  4. Rutin memantau informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG.
Nah, itulah penjelasan mengenai fenomena bediding yang kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara selama musim kemarau. Semoga menambah wawasan kamu ya, Sobat Medcom!
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA