Pada Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pendirian 145 program spesialis baru. Langkah tersebut diambil karena kebutuhan dokter spesialis masih tinggi.
"Pemerintah menilai kekurangan tenaga medis spesialis perlu segera diatasi," kata Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek, Muhammad Najib, di Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Najib mengeklaim target dari Presiden telah dilewati. Hingga awal 2026, jumlah program studi yang dibuka bahkan telah melampaui target awal.
| Baca juga: Terbaru, Ini 7 Kampus Kedokteran Terbaik di Indonesia versi QS WUR by Subject 2026 |
“Sampai Februari kita sudah membuka 160 program studi spesialis baru,” ungkap Najib.
Program ini mencakup berbagai bidang kedokteran, mulai dari Jantung, Bedah Saraf, hingga Kebidanan dan Kandungan. “Semua disesuaikan dengan kebutuhan dari Kementerian Kesehatan,” ujar dia.
Pemerintah juga menyiapkan sistem seleksi bersama untuk studi kedokteran. Hal ini untuk menjaga kualitas pendidikan dokter spesialis.
“Kita sedang merancang Panitia Seleksi Bersama untuk program spesialis,” ungkap Najib.
Sistem ini akan berlaku untuk PTN maupun PTS. Tujuannya agar proses seleksi lebih terstandar dan transparan.
| Baca juga: Dukung Arahan Presiden, UK Maranatha Buka Program Spesialis Baru |
“Seleksinya nanti akan sama antara PTN dan PTS,” ujar dia.
Najib menekankan kualitas dokter spesialis harus dijaga ketat. Sebab, profesi ini berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
“Karena ini berkaitan dengan nyawa, kualitas harus dijaga,” tegas Najib.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap kebutuhan tenaga medis dapat terpenuhi. Layanan kesehatan di berbagai daerah juga diharapkan semakin merata.
“Ini untuk mengejar kekurangan dokter spesialis di Indonesia,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News