"Kami harapkan kerja sama ini terjadi untuk kampus medical subjek mungkin juga STEM," jelas Summer di Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pilihan kerja sama dengan kampus UK terkait pendidikan kampus medis di Indonesia sangat tepat. Sebab, kampus-kampus di UK, kata dia, sangat kuat di bidang pendidikan medis.
"Inggris memiliki kampus yang sangat kuat dalam bidang tersebut, termasuk teaching hospital. Jadi mahasiswa di UK memang tidak hanya belajar di universitas tapi juga di rumah sakit," tuturnya.
Diketahui, pemerintah bakal membentuk Universitas Kedokteran Sains Teknologi Kesehatan. Kampus medis ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan dan tenaga kesehatan nasional.
Pembentukan universitas medis ini juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan lain yang terus meningkat. Sekaligus mempercepat pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto pun telah menyebut berapa banyak kampus medis itu akan didirkan di Indonesia. Pendirian kampus ini pun sekaligus menjawab kebutuhan dokter di Indonesia.
"Terkait dengan 10, keinginan dari Bapak Presiden yang kemudian inisiasi pembentukan 10 kampus medis baru itu terkait kurangnya jumlah dokter," kata Brian dalam Raker Komisi X DPR RI, dikutip Minggu 8 Februari 2026.
Adapun model universitas tersebut mengacu pada praktik di sejumlah negara. Dalam pembangunan kampus itu, pemerintah kata dia juga langsung bekerja sama dengan kampus di Inggris.
"10 Kampus yang bekerjasama dengan universitas-universitas di UK, di Inggris," terangnya.
Ia pun menyampaikan hadirnya kampus medis ini sepaket dengan rumah sakitnya. Dengan begitu, rumah sakit yang hadir pun bisa berkelas internasional.
Dengan hadirnya rumah sakit kelas internasonal itu, ia berharap agar masyarakat Indonesia bisa memilih pengobatan di dalam negeri. Dibandingkan harus jauh ke luar negeri.
"Ini juga harapannya adalah bisa membuat universitas dan juga rumah sakit yang berkelas internasional sehingga bisa mencegah jumlah penduduk Indonesia yang berobat ke luar negeri," tegasnya.
Sebelumnya, Brian juga sempat menyampaikan jika John Hopkins University menjadi referensi dalam pembangunan kampus medis tersebut. Selain menjawah kebutuhan tenaga kesehatan kampus tersebut juga dipercaya mampu mempercepat layanan kesehatan di seluruh Indonesia.
"Kami sudah lihat beberapa kasus kampus-kampus di luar negeri memang terdapat model seperti itu. Seperti First Moscow State Medical University Kemudian John Hopkins University itu juga kursus medis," kata Brian di Jakarta, Jumat 19 Desember 2025.
Universitas itu nantinya tidak hanya berfokus pada pendidikan dokter. Tetapi menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan.
Di dalamnya akan terdapat Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, Farmasi, Ilmu Hayati, Teknologi Kedokteran, hingga Keperawatan. Sehingga kelengkapan pendidikan bidang kedokteran di universitas tersebut dapat terintegrasi.
"Sehingga tidak hanya dokter yang kita siapkan. Tetapi juga seluruh yang related dengan kesehatan dan kedokteran itu bisa diselenggarakan oleh universitas khusus medis ini," imbuhnya.
Lebih lanjut, Brian menyinggung lulusan bidang kesehatan di Indonesia. DI mana saat ini lulusan bidang kesehatan sebanyak 246 ribu. Menurutnya, ada ketimpangan jumlah lulusan. Baik itu antara dokter hingga perawat.
"Namun sebagian itu besarnya adalah perawat, bidang dan lain-lain dokternya sendiri hanya sekitar 12 ribu per tahun," kata Brian.
Ia berharap proporsi lulusan bidang kesehatan bisa seimbang dan sesuai kebutuhan. Karena itu sebaran fakultas kedokteran turut menjadi perhatian serius ke depan.
"Kami sampaikan ini adalah sebaran fakultas kedokteran di Indonesia saat ini relatif sudah menyebar meskipun tentu di Jawa dan Sumatra masih banyak, di bagian timur perlu ditingkatkan kembali," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News