Kabalitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, Medcom.id/Intan Yunelia.
Kabalitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, Medcom.id/Intan Yunelia.

Kemendibkud: Minat Jadi Guru Rendah, "Wake Up Call" Itu

Pendidikan Kebutuhan Guru
Intan Yunelia • 17 Mei 2019 16:18
Jakarta: Penelitian yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan rendahnya animo siswa menjadi guru harus menjadi peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Betapa menyedihkannya jika profesi yang sangat penting bagi bangsa namun tidak diminati generasi mudanya.
 
"Jika hasil angket UN soal minat jadi guru rendah jadi polemik, artinya berhasil untuk 'ayo dong, wake up call itu'," kataKepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitnosaat Diskusi dan Peluncuran Indeks Alibaca Tingkat Provinsi di Perpustakan Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 17 Mei 2019.
 
Diakui Totok, rendahnya minat terhadap profesi guru inidisebabkan persepsi masyarakat terhadap profesi guru kurang bergengsi. Siswa memilih profesi yang lebih menjanjikan dan terpandang di masa depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilihat dari sisi strata sosial di masyarakat dan juga sisi finansialnya. “Katakanlah dibandingkan lawyer, dokter, insinyur. Anak kalau ditanya ingin jadi apa, jawabnya ingin jadi dokter. Jadi persepsi mereka itu seperti profesi yang lebih tinggi dibanding pendidik,” kata Totok.
 
Baca:Milenial Pilih Jadi Youtuber Daripada Guru
 
Perlu edukasi perubahan pola pikir dan persepsi, bahwa profesi sebagai seorang guru bergengsi dan menjanjikan. Bukan hanya dilihat dari sisi pendapatan yang masuk kategori menengah.
 
“Jadi saya kira tidak hanya tugas di sektor pendidikan, saya kira itu problem sosial kita, persepsi kita terhadap guru. Dari sisi kesejahteraan, saya kira guru sudah memiliki kesejahteraan yang jauh lebih baik dibandingkan Undang-undang (UU) guru dan dosen ada,” ujar Totok.
 
Ia mengharapkan, agar faktor ekonomi bukan dijadikan alasan seseorang untuk menjadi guru. Karena peran guru di Indonesia sangat penting sekali. Mengingat tugasnya yang mencerdaskan anak bangsa.
 
“Tapi ini profesi yang sangat penting. Profesi yang akan menurunkan Pendidikan anak bangsa dari ujung tombak mendidik anak bangsa itu,” terang dia.
 
Profesi guru kurang diminati siswa, sebagai profesi yang menjanjikan di masa depan. Bahkan dalam sebuahpenelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), lebih banyak siswa yang memilih profesiYoutuber ketimbang menjadi guru.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan, dari jumlah responden yang diuji, hanya 11 persen di antaranya saja yang tertarik menjadi guru di masa mendatang. Dari 11 persen itu pun, siswa yang tertarik menjadi guru didominasi perempuan.
 
Baca:Milenial Ogah Jadi Guru, PGRI Tak Terkejut
 
Mirisnya lagi, siswa yang memilih cita-cita menjadi seorang guru justru adalah siswa yang nilai akademisnya rendah. Dari pencapaian nilai UN, nilai mereka yang bercita-cita jadi guru di bawah rata-rata nilai siswa yang memilih profesi lain.
 
“Lalu seperti apa prestasi yang ingin menjadi guru tadi, nilai Bahasa Indonesianya lumayan, Bahasa inggris lumayan, tapi masih di bawah 50. Matematikanya not so bad, lumayan, jadi intinya siapa yang ingin menjadi guru adalah not the best dari siswa itu,” papar Totok.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif