Ilustrasi PTM di Surabaya. Branda Antara
Ilustrasi PTM di Surabaya. Branda Antara

Hardiknas 2022

Perubahan Pembelajaran Selama Pandemi Disebut Cerminan Tut Wuri Handayani

Pendidikan pendidikan hari pendidikan nasional pandemi covid-19 Pembelajaran Tatap Muka Universitas Brawijaya Hardiknas 2022
Renatha Swasty • 02 Mei 2022 17:24
Jakarta: Kasus covid-19 di Tanah Air mulai melandai. Pemerintah memutuskan membuka kembali pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas hingga 100 persen. Pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Aziz menyebut kebijakan itu kembali menunjukkan roh asal pendidikan, yakni tatap muka antar guru dan murid.
 
Dia menuturkan pandemi membuat tren pembelajaran dengan media online mewarnai sistem pendidikan ke depan. Terdapat berbagai Learning Management System (LMS) yang berkembang dengan berbagai macam mode E-Learning.
 
“Interaksi guru dan murid tidak bisa dibatasi media apa pun, karena memiliki dampak yang paling besar terhadap murid. Karena pembelajaran bukan hanya masalah ilmu yang ditransfer, tetapi ada hal lain yang tidak akan didapatkan melalui metode daring" kata Luqman dikutip dari laman prasetya.ub.ac.id, Senin, 2 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Misalnya, kata dia, pendidikan karakter, cara berbicara dan bersikap, sopan santun, adab belajar, kedisiplinan, dan keteladanan lainnya yang dapat bermanfaat untuk murid. Dosen pada Fakultas Ilmu Administrasi UB itu menuturkan konsep blended learning, yakni setengah daring dan setengan tatap muka sebenarnya sudah ada sejak sebelum pandemi.
 
Sehingga, tidak menjadi masalah, asal tidak menghilangkan esensi pembelajaran tatap muka. Dia menganalogikan hal ini dengan perguruan silat.
 
Seorang murid tidak cukup mempelajari berbagai jurus, tetapi lebih kepada sikap sebagai seorang pendekar sejati. "Jangan sampai jurus yang sudah dipelajari disalahgunakan untuk melakukan kejahatan. Seorang murid harus melihat sosok gurunya, sehingga dapat mengamati dan meneladani sikapnya," tutur Luqman.
 
Luqman menuturkan interaksi guru dan murid juga bermanfaat bagi seorang pendidik untuk dapat mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minat. Terutama, bagi peserta didik di desa yang kurang bisa mendapatkan akses internet untuk pembelajaran daring.
 
“Kecerdasan itu bermacam-macam. Ada yang suka berinteraksi dengan alam sehingga dapat menjadi ahli geologi atau biologi. Tetapi ada juga yang lebih suka berada di perpustakaan mempelajari teori, bisa menjadi ahli matematika," kata dia.
 
Luqman mengatakan setiap anak sudah memiliki kecerdasan yang diberikan Tuhan. Tugas pendidik ialah mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengupgrade keunggulan mereka.
 
Dia menyebut perlu ada perubahan fokus dengan berbagai kemudahan mendapatkan ilmu karena kemajuan teknologi. Dia menuturkan awalnya guru sebagai ujung tombak ilmu atau teacher centered leaning, menjadi student centered learning, yakni pusat belajar ada di siswa, dan guru sebagai fasilitator.
 
“Ini sebenarnya sesuai dengan prinsip pendidikan yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan kita dulu. Yakni, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Jadi, dengan guru bergeser sebagai fasilitator pembelajaran adalah dalam rangka memenuhi gagasan Tut Wuri Handayani tersebut," kata Luqman.
 
Dia mengatakan ini juga disebut dengan metode inquiry, yakni guru memberi dorongan berupa permasalahan. Kemudian, murid mencari jawaban dan menyampaikan hasil pencaritahuan kepada guru dalam bentuk tugas, project, portofolio, makalah, atau esai.
 
Luqman menjelaskan metode ini sudah dilakukan di UB dengan nama Problem Based Learning (PBL), di mana dosen memberi permasalahan yang sifatnya real dan bersinggungan dengan keadaan nyata dan mahasiswa mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah. Kedua, Case Based Method, yakni mahasiswa diberikan kasus untuk melaksanakan project, diskusi, dan membuat laporan pengerjaan kasus tersebut.
 
“Guru harus mulai mengubah mindset tidak lagi menjadi sumber ilmu utama tetapi seorang fasilitator. Dengan metode tersebut, murid otomatis juga akan mengubah mindset menjadi seorang pencari ilmu yang aktif, tidak lagi pasif,” kata Luqman.
 
UB bakal memulai pembelajaran luring pada semester depan. Namun, tetap melihat perkembangan covid-19 dan diskusi terlebih dahulu dengan dekan.
 
Rektor UB Nuhfil Hanani berharap memperingati Hari Pendidikan Nasional, UB bisa terus berkiprah. Khususnya dalam memajukan dan mencerdaskan anak bangsa dengan memberikan pendidikan yang lebih berkualitas.
 
“Selain itu diharapkan UB mampu menghadirkan inovasi yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan untuk kemajuan bangsa,” kata Nuhfil.
 
Baca: Hardiknas Mesti Jadi Pengingat untuk Selalu Memberikan Kemerdekaan pada Anak Didik
 
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif