AYIMUN ke-22 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: IGN
AYIMUN ke-22 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: IGN

Bukan Sekadar Jago Debat, Ini 4 Skill yang Dilatih di Sidang MUN PBB

Ilham Pratama Putra • 25 Agustus 2026 20:03
Ringkasnya gini..
  • AYIMUN ke-22 di Kuala Lumpur menghadirkan 750 delegasi muda dari 25 negara untuk membahas berbagai isu global.
  • Selain piawai berdebat, MUN melatih 4 skill utama: berani berbicara, mau mendengarkan, berbeda pendapat dengan bijak, dan berani mencoba.
  • Nilai utama MUN bukan sekadar menang penghargaan, melainkan membentuk kepemimpinan dan kolaborasi dalam mencari solusi.
Jakarta: Model United Nations (MUN) kerap identik dengan kemampuan berbicara dan berdebat. Namun, sebagai simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), MUN ternyata tidak hanya melatih peserta piawai menyampaikan argumen.
 
Ada sejumlah keterampilan lain yang diasah melalui proses riset, negosiasi, diskusi, hingga pengambilan keputusan. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk kehidupan sehari-hari, termasuk ketika peserta menghadapi perbedaan pendapat dan harus bekerja sama dengan orang lain.
 
Hal itu disampaikan President International Global Network (IGN) Muhammad Fahrizal dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) ke-22. AYIMUN ke-22 digelar di Kuala Lumpur, Malaysia pada 21-24 Agustus 2026.

AYIMUN ke-22 mempertemukan 750 delegasi muda dari 25 negara. Para peserta mengikuti simulasi MUN dengan berperan sebagai perwakilan negara dan membahas berbagai isu global, mulai dari kesehatan dan pendidikan hingga pariwisata dan ketegangan nuklir.
 
Menurut Fahrizal, nilai utama MUN bukan sekadar menjadi delegasi terbaik atau memenangkan penghargaan. "MUN bukan hanya tentang mewakili suatu negara, menulis resolusi, memperdebatkan isu-isu global, atau memenangkan penghargaan," uja Fahrizal dalam keterangan tertulis dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
 
Lantas, keterampilan apa saja yang dilatih melalui Model United Nations? Berikut 4 skill yang dilatih:
 
Baca juga: Salut! 486 Anak Indonesia Suarakan Krisis Global di Forum Internasional  
 

4 Skill yang Dilatih di Sidang MUN ala PBB

1. Berani Berbicara
 
Kemampuan berbicara menjadi salah satu keterampilan dasar yang dilatih dalam MUN. Peserta dituntut menyampaikan pandangan mengenai isu tertentu di hadapan delegasi lain.
 
Namun, keberanian berbicara bukan sekadar kemampuan berbicara keras atau panjang. Peserta harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas dan mempertanggungjawabkan argumennya.
 
Dalam prosesnya, peserta belajar menyusun gagasan sebelum menyampaikannya. Mereka juga harus memahami isu yang dibahas agar argumen tidak berhenti pada opini.
 
2. Mau Mendengarkan
 
MUN juga melatih kemampuan yang sering terlupakan dalam sebuah perdebatan, yakni mendengarkan. Peserta tidak hanya diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga harus memahami argumen delegasi lain.
 
Kemampuan mendengarkan menjadi penting karena solusi dalam forum MUN tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Kemampuan mendengarkan membuat peserta dapat memahami perspektif berbeda sebelum menentukan sikap atau melakukan negosiasi.
 
3. Berbeda Pendapat Tanpa Merendahkan
 
Perbedaan pandangan merupakan bagian tidak terpisahkan dari diplomasi. Dalam MUN, peserta justru dilatih untuk menghadapi perbedaan tersebut tanpa mengubahnya menjadi konflik personal.
 
"Keterampilan ketiga adalah belajar bagaimana untuk tidak setuju tanpa saling merendahkan," jelas Fahrizal.
 
Keterampilan ini membuat peserta belajar memisahkan antara gagasan yang ditolak dan orang yang menyampaikannya. Dengan begitu, perdebatan tetap diarahkan untuk mencari solusi, bukan menjatuhkan pihak lain.
 
4. Berani Mencoba Sebelum Siap
 
Peserta MUN tidak selalu datang dengan pengalaman yang sama. Ada yang sudah terbiasa berbicara di depan publik, sementara peserta lainnya mungkin baru pertama kali mengikuti forum internasional.
 
Karena itu, proses belajar tidak harus menunggu seseorang merasa benar-benar siap. "Keterampilan keempat adalah kemauan untuk mencoba sebelum kalian merasa benar-benar siap," katanya.
 
Menurut Fahrizal, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari pembentukan keterampilan hidup peserta. "Keterampilan hidup yang kalian latih di sini akan terus kalian bawa dalam perjalanan hidup kalian. Itulah nilai sesungguhnya dari MUN," tutur dia.
 
Baca juga: 5 Catatan UNESCO, Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Ancaman Putus Sekolah Jutaan Anak  

 
AYIMUN ke-22 mengusung tema “Turbulent Tomorrows: Diplomacy in an Age of Disruption and Division”. Forum mempertemukan 750 delegasi dari 25 negara pada 21–24 Agustus 2026.
 
Peserta mengikuti berbagai council sesuai usia dan tingkat pengalaman. Delegasi Junior berusia 11–14 tahun, misalnya, membahas isu polusi udara, limbah industri, serta pemerataan bantuan pemerintah untuk sektor pendidikan.
 
Sementara peserta Youth berusia 15 tahun ke atas membahas persoalan keterjangkauan hunian di destinasi wisata populer hingga ketegangan nuklir di Timur Tengah. Melalui pembahasan tersebut, peserta tidak hanya belajar mengenai isu internasional
 
"Mereka juga menjalani proses yang menuntut riset, berpikir kritis, menyampaikan argumen, mendengarkan perspektif berbeda, melakukan negosiasi, dan mencari titik temu," tutur Fahrizal.
 
Pada akhirnya, MUN tidak berhenti pada siapa yang paling pandai berbicara. Pengalaman tersebut justru mengajarkan peserta bagaimana berbicara, mendengar, berbeda pendapat, dan tetap bekerja sama untuk menemukan solusi.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan