United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menilai situasi konflik tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat. Tetapi juga berpotensi mengganggu proses belajar jutaan anak.
Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Kejadian ini kini telah memperluas konflik kawasan Timur Tengah.
Dalam laman unesco.org, situasi perang meningkatkan risiko terganggunya layanan pendidikan, terutama di wilayah yang terdampak langsung oleh konflik.
Lantas apa saja catatan Unesco terhadap dunia pendidikan di wilayah konflik? Simak penjelasannya!
1. Peningkatan Perhatian Terhadap Sekolah Rentan
Dalam berbagai konflik di dunia, sekolah sering kali harus ditutup atau menghentikan kegiatan belajar mengajar. Siswa terpaksa mengungsi, sementara guru menghadapi keterbatasan untuk melanjutkan proses pembelajaran.UNESCO menilai gangguan pendidikan yang berkepanjangan dapat menimbulkan dampak serius bagi perkembangan anak. Selain kehilangan pembelajaran, anak juga berisiko putus sekolah serta mengalami tekanan psikologis akibat situasi konflik.
Karena itu, menjaga keberlangsungan pendidikan menjadi salah satu prioritas. Hal ini merupakan salah satu bagian dalam respons terhadap kemanusiaan.
2. Peran Guru Menjadi Sangat Penting
Dalam situasi krisis, guru memegang peran kunci untuk menjaga hubungan antara anak dan proses belajar. Namun di tengah konflik, para guru juga menghadapi tantangan besar.Guru harus menyesuaikan metode pengajaran. Termasuk menggunakan pembelajaran jarak jauh atau materi belajar yang dapat diakses dari rumah.
UNESCO mendorong berbagai program pelatihan agar guru dapat memanfaatkan teknologi digital. Serta metode pengajaran alternatif untuk memastikan siswa tetap bisa belajar meskipun sekolah tidak beroperasi secara normal.
3. Orang Tua Jadi Pendamping Utama Anak
Ketika konflik membuat sekolah sulit diakses, peran orang tua menjadi semakin penting dalam mendampingi anak belajar. Unesco menekankan pentingnya dukungan keluarga agar anak tetap merasa aman dan mampu menghadapi tekanan psikologis akibat konflik.Panduan bagi orang tua juga diperlukan. Agar orang tua dapat membantu anak memahami situasi yang terjadi tanpa menimbulkan rasa takut berlebihan.
4. Dukungan Psikologis untuk Anak
Konflik bersenjata sering meninggalkan dampak mendalam bagi kesehatan mental anak. Ketidakpastian, suara ledakan, serta perpindahan tempat tinggal dapat memicu kecemasan dan trauma pada anak-anak.Karena itu, UNESCO menekankan pentingnya dukungan psikososial dalam program pendidikan di wilayah konflik. Lingkungan belajar yang aman dan suportif dapat membantu anak memulihkan rasa percaya diri serta kembali fokus pada pendidikan mereka.
5. Pendidikan sebagai Harapan di Tengah Konflik
Meski konflik terus berlangsung di sejumlah kawasan, pendidikan tetap menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga harapan bagi generasi muda. UNESCO menilai memastikan anak tetap memiliki akses terhadap pendidikan bukan hanya soal pelajaran akademik, tetapi juga tentang memberikan stabilitas dan perlindungan di tengah situasi yang tidak menentu.Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah misalnya, berbagai pihak didorong untuk memastikan bahwa sistem pendidikan tetap berjalan. Namun yang terpentig, anak-anak tidak menjadi korban dari konflik yang diciptakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News