UI membuka prodi untuk Okupasi Terapis, salah satu profesi yang diprediksi banyak dibutuhkan di masa depan, UI/Humas.
UI membuka prodi untuk Okupasi Terapis, salah satu profesi yang diprediksi banyak dibutuhkan di masa depan, UI/Humas.

Pemerintah Siapkan Regulasi Baru tentang Pembukaan Prodi

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Kautsar Widya Prabowo • 04 Januari 2019 09:38
Semarang: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan menerbitkan sejumlah regulasi untuk mempermudah pembukaan sejumlah program studi (prodi) baru di 2019. Prodi baru tersebutuntuk menjawab tantangan di era disrupsi teknologi yang nantinya tidak lagi terikat dengan nomenklatur atau tata bahasa pada umumnya.
 
"Perlu ada beberapa regulasi yang nanti akan saya luncurkan, yaitu tentang pembukaan prodi baru, nomenklatur sudah kita hilangkan. Dalam era disrupsi ini, fleksibilitas sangat penting, selama ini jalannya fleksibilitas rendah sekali," ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 4 Januari 2019.
 
Ia menambahkan, salah satu contoh di Sulawesi Selatan dan Aceh, terdapat prodi kopi. Maka tidak menutup kemungkinan terdapat prodi baru lain yang menunjang kearifan lokal daerah setempat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ke depannya juga akan banyak prodi-prodi yang berhubungan dengan Artificial Intelligence, lantaran semakin berkembangnya dunia teknologi di era revolusi industri 4.0. Terlebih dengan semakin menjamurnya perusahan pemula atau startup.
 
Baca:Menristekdikti Instruksikan Pengurusan Izin Prodi Tidak Dipersulit
 
Selain itu, jurusan seperti tata boga ke depan akan didesain tidak lagi melulu memikirkan persoalan dapur, tapi harus dapat membuat produk kuliner tersendiri. Begitu juga dengan jurusan tata busana, kata Nasir, juga harus dapat menciptakan gaya busana dengan kekhasan tertentu.
 
"Bagaimana menciptakan pasar itu penting, maka ada program studi Fashion, ada program studi kuliner, silakan prodi itu diubah, jadi itu yang harus kita lakukan," imbuhnya.
 
Kendati demikian, pihaknya mengimbau bagi pihak yang ingin membuka prodi baru, harus mengetahui sejauh mana permintaan dari masyakarat. Karena nantinya akan berhubungan dengan kehidupan mahasiswa setelah lulus.
 
"Jangan sampai kita memproduksi perguruan tinggi, (mahasiswa) lulus kemudian jadi pengangguran karena tidak sesuai dengan kebutuhan industri," pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi