Menristekdikti, Mohamad Nasir di Universitas Brawijaya, Medcom.id/Pythag Kurniati.
Menristekdikti, Mohamad Nasir di Universitas Brawijaya, Medcom.id/Pythag Kurniati.

2022 Indonesia Ditarget Mampu Hasilkan Litium Sendiri

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi
Pythag Kurniati • 31 Mei 2019 14:46
Solo:Kebutuhan litium sebagai bahan baku baterai di Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Padahal litium menjadi kebutuhan mendasar untuk beralih dari energi yang bersumber dari fosil ke energi terbarukan.
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menargetkan 2022 Indonesia mampu menghasilkan litium sendiri. Sehingga kebutuhan dalam negeri pun tak lagi mengandalkan impor.
 
Pernyataan tersebut dikemukakan Nasir saat mengunjungi Unit Produksi Baterai Lithium di Gedung Pusat Pengembangan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasir mengatakan, saat ini Indonesia tengah mengembangkan teknologi guna memproses litium di Halmahera. "Diperkirakan 2021 sudah terbangun," ungkap Nasir, di UNS Solo, Jumat, 31 Mei 2019.
 
Sejalan dengan itu, UNS sebagai perguruan tinggi di Indonesia juga diminta terus mengembangkan pusat penelitian baterai litium. "UNS sudah jalan, tinggal membuat sistem automatisasi," ungkapnya.
 
Baca:RS UNS Kini Beroperasi Penuh
 
Nasir meyakini, sinergi keduanya mampu mengantarkan Indonesia mandiri dalam produksi baterai litium. "Kalau Halmahera sudah terbangun, bahan baku tersedia. Maka 2022 atau 2023 bisa jalan di dalam," papar dia.
 
Pengembangan energi terbarukan (renewable energy) menjadi keniscayaan. Sebab energi yang bersumber dari fosil kian terbatas.
 
Menristek menjelaskan, dari 100 persen energi yang dimanfaatkan di Indonesia 77 persen berasal dari fosil. Penggunaan energi terbarukan belum populer di masyarakat.
 
"Padahal fosil ini terbatas. Tahun 2017 kebutuhan fosil 400.000 barel per hari dengan biaya USD17,6 miliar per tahun," kata Nasir.
 
Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jamal Wiwoho mengemukakan, UNS telah memulai pengembangan baterai litium sejak tujuh tahun lalu. Pengembangan ini sejalan dengan pencanangan program Mobil Listrik Nasional (Molina).
 
Baca:Jamal Wiwoho Rektor Baru UNS
 
Baterai litium ini tergolong baterai sekunder atau dapat diisi ulang. Litium Ion Battery dapat digunakan untuk berbagai peralatan, seperti power bank hingga motor listrik.
 
Sebagai pilot project, Pertamina menggelontorkan sekitar Rp11 miliar guna pengembangan produksi baterai lithium ion. Baterai ini diteliti dan diproduksi oleh tim ahli dari UNS.
 
Ada beberapa jenis baterai lithium yang dikembangkan pada tahap awal. Seperti Lithium Cobalt, Lithium Nikel Cobalt Aluminium Oksida (NCA), Lithium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC) dan lain sebagainya.
 
Keberadaan baterai ini sekaligus diyakini berdampak menurunkan kadar emisi melalui penggunaan energi ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif