Siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare, Kelvin berpidato saat wisuda. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare, Kelvin berpidato saat wisuda. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Nyanyian Sunyi Para Pemimpi dari Kediri

Ilham Pratama Putra • 15 Juni 2026 11:38
Ringkasnya gini..
  • Siswa miskin Kediri yang dulu tak berani bermimpi kini berani menargetkan kuliah dan profesi impian.
  • SMA Dharma Wanita 1 Pare bertransformasi menjadi sekolah berasrama gratis sejak 2023.
  • Sebanyak 101 dari 126 lulusan diterima PTN setelah mendapat pendampingan intensif selama tiga tahun.
Kediri: Cita-cita? Dulu, kalau kamu bertanya hal itu kepada siswa-siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare, jawabannya bukanlah nama profesi. Bukan dokter, bukan insinyur, bukan presiden.
 
Yang muncul adalah diam. Atau paling banter, sebuah kalimat yang lebih terasa seperti doa daripada ambisi: Ingin membahagiakan orang tua.
 
Siti Fatimah tahu betul itu. Wakil Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare itu ingat, saat ia menerima anak-anak keluarga miskin ke sekolah tersebut. Saat siswa baru masuk sekolah, sebuah sesi bernama bottling, meminta anak-anak menuliskan cita-cita di selembar kertas, menggulungnya, lalu menyimpannya di dalam botol.

"Ternyata dari mereka itu banyak sekali yang menyampaikan bahwa dia ingin membahagiakan orang tua. Nah kalau ingin membahagiakan orang tua itu kan bukan cita-cita ya, itu kewajiban anak," kata Siti saat ditemui di SMA Dharma Wanita 1 Pare, Sabtu, 13 Juni 2026.
 
Siti kemudian bertanya langsung kepada anak didiknya: mengapa tidak berani bermimpi lebih jauh? Jawabannya polos dan menyayat. 
 
"Keluarga saya tidak mampu, tidak mungkin saya nanti kuliah," ungkap Siti. 
 
Ya, sekolah itu memang secara khusus menampung anak dari keluarga miskin. Anak-anak miskin di sekolah tersebut berasal dari 26 Kecamatan di Kabupaten Kediri.
 
Tapi hari itu telah berubah. Perubahan itu dimulai jauh sebelum anak-anak itu datang. Semua bermulai dari sebuah perjalanan seorang bupati ke Bali, dan sebuah keputusan yang mengubah nasib satu sekolah tua selamanya.
 
Baca juga: Beasiswa Bawaslu untuk S1 - S3 2026: Kuliah Gratis di UI Plus Bisa Pindah Tugas Dekat Kampus!

Kejutan Roro Jonggrang

SMA Dharma Wanita 1 Pare berdiri sejak 1984. Selama hampir empat dekade, ia adalah sekolah reguler biasa yang pernah ramai di masanya. Bahkan, pernah memiliki hingga 50 siswa dalam satu kelas. 
 
Tapi waktu berjalan dan persaingan pun datang. Program SMK menguat, peminat menyusut, dan sekolah yang dulunya jaya itu perlahan meredup.
 
Pemerintah Kabupaten Kediri lantas menggagas ide menjadikan SMA Dharma Wanita 1 Pare menjadi sekolah berasrama milik Pemda. Sekolah diproyeksikan mampu menampung anak-anak dari keluarga prasejahtera dan mengubah mereka menjadi generasi berprestasi. 
 
Impian baru itu di mulai pada 2023. SMA Dharma Wanita 1 Pare resmi berubah. Dari sekolah reguler menjadi sekolah berasrama gratis, terbuka bagi anak-anak miskin dari seluruh penjuru kabupaten.
 
"Kayak kita kaget ya, kayak Roro Jonggrang gitu. Karena sekolahan ini dulunya tidak dirancang sebagai asrama," kenang Siti, tertawa kecil. 
Baca juga: ITB Juara Umum ONMIPA-PT 2026, Ini Daftar Lengkap Pemenangnya

Renovasi demi renovasi dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan. Bangunan yang tadinya hanya untuk belajar pagi hingga siang hari, kini harus siap menjadi rumah bagi ratusan anak yang akan tidur, makan, belajar dan tumbuh di dalamnya.
 
Kini sekolah itu menampung 346 siswa. Seluruh biaya pendidikan, makan, hingga uang saku ditanggung penuh. Setiap bulan siswa menerima uang saku Rp200 ribu, di mana Rp50 ribu di antaranya ditabungkan dan baru bisa diambil setelah lulus.

Guru Belajar Lagi

Transformasi sebuah sekolah bukan hanya soal renovasi gedung. Yang lebih berat, dan sering kali tak terlihat, adalah transformasi manusianya.
 
36 guru di SMA Dharma Wanita 1 Pare tahu itu kembali belajar.  Di sinilah Putera Sampoerna Foundation (PSF) masuk. 
 
Lewat program pendampingan intensif, para guru dilatih bukan sekadar menguasai metode baru. Tapi benar-benar memahami dan bertransformasi memberikan pendidikan untuk anak-anak yang umurnya dihabiskan 3 tahun di sekolah.
 
Salah satu yang diperkenalkan PSF adalah Project-Based Learning (PjBL). Metode pembelajaran berbasis proyek yang menuntut siswa aktif memecahkan masalah nyata, bukan sekadar menyerap materi dari papan tulis.
 
"Kalau di sekolahan lain, PjBL itu berpikirnya yang penting menghasilkan suatu produk. Ternyata tidak sesederhana itu," kata Siti. 
 
PSF melatih para guru SMA Dharma Wanita 1 hingga mereka benar-benar paham. Setiap guru mendapat supervisi rutin untuk memastikan pemahaman tak hanya ada di kepala, tapi juga hidup di dalam kelas.
 
"Sampai Bapak-Ibu gurunya paham. Dari situlah kita mengetahui mana guru yang belum (sesuai kompetensi), dan kita ajari lagi," beber dia.
 
Apa yang didapatkan Siti dan kawan-kawan kemudian ditularkan ke sekolah lainnya. Saat ada acara diseminasi, SMA-SMA dan SMP-SMP lain di sekitar Kabupaten Kediri diundang, menyaksikan bagaimana PjBL yang sesungguhnya berjalan. 
 
"Bukan menggurui, kita berbagi. Visi kami menjadi sekolah terdepan," ungkap dia.

Kelvin dan Botol yang Terbuka

Anak-anak itu kini sudah berani bermimpi.
 
Ada yang memasang target ke perguruan tinggi. Ada yang mau mengembangkan pertanian. Ada yang ingin jadi pengusaha. Dan ada Kelvin yang dengan lantang menyatakan ingin menjadi Presiden.
 
"Saya tahu Kelvin mau jadi Presiden," kata Siti dengan senyumnya yang tampak bangga. 
 
Mimpi-mimpi itu kini bukan lagi sekadar digulung dan disimpan di dalam botol. Ia mulai terbuka dan mulai diwujudkan.
 
Tahun ini, 73,21 persen lulusan SMA Dharma Wanita 1 Pare diterima di perguruan tinggi negeri, angka tertinggi di Kabupaten Kediri. Nama-nama universitas ternama muncul: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang. 
 
Untuk mereka yang tak bisa merantau jauh karena harus menjaga orang tua yang sakit, sekolah menyiapkan jalan. MoU dengan sejumlah perguruan tinggi di Kabupaten Kediri, membuka peluang beasiswa bagi lulusan yang terpaksa tinggal di Kediri.
 
Sebelum mereka pergi membawa mimpi-mimpi itu ke dunia luar, Siti selalu berpesan satu hal. "Ingat ya, kamu punya utang," katanya kepada para siswa.
 
Utang apa, Bu? "Utang kepada rakyat Kabupaten Kediri yang mendukung pendidikanmu secara gratis," lanjut Siti.
 
Kalimat itu bukan ancaman. Kalimat itu menjadi kompas. Bahwa pendidikan gratis yang mereka terima, dengan segala fasilitas, uang saku, beasiswa, dan pendampingan, bukan hadiah tanpa makna. Ia adalah investasi
 
Bukan dalam bentuk uang. Tapi dalam bentuk pengabdian.
 
"Kita harus memberikan motivasi jangan sampai kacang lupa kulitnya. Orang sukses itu harus bermanfaat bagi orang yang ada di sekitarnya," kata Siti.
 
Di sebuah sekolah tua yang dulu nyaris tenggelam, di antara anak-anak yang dulu tak berani menyebut nama cita-cita mereka sendiri kini sebuah harapan tumbuh dengan tegak. Dan sepuluh tahun lagi, kata Siti, mungkin salah satu dari mereka akan memimpin negeri.
Baca juga: Mau Kuliah di Jepang? Kamu Wajib Tahu 5 Aturan 'Tidak' di Negara Sakura Ini!

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA