Warek III IP Trisakti Novita Widyastuti (tengah). Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Warek III IP Trisakti Novita Widyastuti (tengah). Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Di Tengah Isu Penutupan Prodi, Bagaimana Cara Pendidikan Pariwisata Tetap Relevan?

Ilham Pratama Putra • 20 Juni 2026 09:52
Ringkasnya gini..
  • IP Trisakti pertahankan relevansi prodi pariwisata lewat kerja sama dengan 200 industri.
  • Lulusan pariwisata punya peluang kerja global, termasuk resort Dubai dan cruise.
  • Tracer study IP Trisakti mencatat 90 persen lulusan terserap industri.
Jakarta: Isu penutupan sejumlah program studi (prodi) di perguruan tinggi menjadi perhatian dalam beberapa waktu terakhir. Namun, Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) menilai program studi di bidang pariwisata masih memiliki prospek besar seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
 
Wakil Rektor III Institut Pariwisata Trisakti, Novita Widyastuti, mengatakan keberlangsungan prodi tidak hanya bergantung pada jumlah mahasiswa. Tetapi juga kemampuan perguruan tinggi membaca kebutuhan industri dan menyesuaikan kompetensi lulusan.
 
Menurut dia, sektor pariwisata yang terus berkembang justru membuka banyak peluang karier baru. Dunia pariwisata tidak lagi hanya berkaitan dengan hotel, tetapi mencakup berbagai ekosistem mulai dari destinasi wisata, transportasi, perjalanan, kuliner, hingga ekonomi kreatif.

"Selama ini orang melihat pariwisata hanya sekitar hotel. Padahal tidak hanya hotel, ketika seseorang melakukan perjalanan untuk menikmati suatu destinasi wisata, semuanya membutuhkan SDM pariwisata," ujar Novita saat ditemui di IP Trisakti, Jumat 19 Juni 2026.
 
Baca juga: Berusia 21 Tahun, Ezriel Ivander Jadi Lulusan Termuda Sekolah Vokasi UGM 2026

Ia menjelaskan, perubahan kebutuhan industri menjadi alasan IP Trisakti terus mengembangkan pembelajaran. Tujuannya, agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
 
Saat ini IP Trisakti memiliki lima program studi yang berkaitan dengan kebutuhan industri pariwisata. Mulai dari S1 Pariwisata, S1 Kewirausahaan, S1 Digital Bisnis, serta program vokasi Manajemen Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata.
 
"Setiap prodi punya keahlian khusus yang dibutuhkan industri pariwisata," kata dia.
 
Novita mengatakan salah satu strategi IP Trisakti menjaga relevansi pendidikan pariwisata adalah memperkuat kerja sama dengan dunia industri. Saat ini, IP Trisakti telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 200 industri untuk mendukung program magang mahasiswa hingga peluang kerja setelah lulus.
 
"Kami membuka lebar kesempatan kerja sama dengan industri. Ada lebih dari 200 industri yang bekerja sama dengan kami untuk menerima mahasiswa baik internship maupun membuka lapangan pekerjaan," jelasnya.
 
Selain industri dalam negeri, peluang kerja lulusan pariwisata juga terbuka di tingkat global. Novita mengungkapkan, sejumlah perusahaan internasional telah menjalin komunikasi dengan IP Trisakti terkait kebutuhan tenaga kerja.
 
Salah satunya perusahaan besar di Dubai yang membutuhkan ribuan tenaga kerja Indonesia untuk operasional resort yang akan dibangun. "Mereka membutuhkan sekitar 9.500 tenaga kerja dari Indonesia," ujarnya.
 
Baca juga: Wakil Ketua MPR Desak Perbaikan Total Ekosistem SMK: Sertifikasi Saja Belum Cukup!

Selain itu, Kementerian Luar Negeri juga menggandeng IP Trisakti terkait kebutuhan tenaga kerja sektor kapal pesiar atau cruise.  Diperkirakan perusahaan terkait kapal pesiar membutuhkan sekitar 10 ribu tenaga kerja.
 
Menurut Novita, kondisi tersebut menunjukkan industri pariwisata masih memiliki ruang besar bagi lulusan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar. Disamping itu,
Novita menyebut hasil tracer study IP Trisakti menunjukkan tingkat keterserapan lulusan mencapai sekitar 90 persen.
 
Untuk meningkatkan keterserapan lulusan, mahasiswa pada semester akhir diberikan pilihan untuk melanjutkan karier sebagai pekerja profesional. Pihaknya juga mendorong mahasiswa untuk membangun usaha, maupun memperpanjang pengalaman melalui program magang.
 
"Di semester 8 mereka bisa memilih mau menjadi entrepreneur, kembali ke industri, atau melanjutkan internship. Magang pun sudah diakui industri," kata Novita.
 
Ia menilai pendekatan pembelajaran berbasis praktik menjadi salah satu faktor yang membuat lulusan lebih mudah diterima industri. Salah satu contohnya terlihat dalam kegiatan mahasiswa Manajemen Perhotelan semester 4 melalui program Parents Day atau Gala Dinner. 
 
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa merancang konsep acara, pelayanan, hingga penyajian makanan dengan standar industri. Menurut Novita, kegiatan tersebut menjadi bentuk implementasi pembelajaran selama empat semester.
 
"Semua hal yang dipelajari dari semester 1 sampai semester 4 mereka kerjakan menjadi satu nilai khusus untuk mahasiswa," jelasnya.
 
Lebih lanjut, di tengah dinamika ekonomi global, Novita melihat sektor pariwisata tetap memiliki peluang pertumbuhan. Menurut dia, kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan, rekreasi, dan wisata tetap menjadi peluang yang dapat dikembangkan.
 
Ia mencontohkan meningkatnya peluang wisata religi, termasuk kebutuhan tenaga pendamping perjalanan bagi jamaah Indonesia yang melakukan perjalanan umrah. "Kalau 45 juta masyarakat Indonesia bepergian umrah, mereka membutuhkan tour leader dari Indonesia. Ini peluang yang sangat besar," ujarnya.
 
Menurut dia, Indonesia juga memiliki potensi besar mengembangkan wisata religi seperti yang telah dilakukan sejumlah negara lain. Dengan berbagai peluang tersebut, IP Trisakti optimistis pendidikan pariwisata tetap memiliki peran strategis dalam menyiapkan SDM industri.
 
"Saat ini perguruan tinggi perlu terus beradaptasi agar prodi yang dibuka tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja," pungkasnya.
 
Baca juga: Kisah Zidni, Siswa SMK yang Akan Kerja di Rumah Sakit Jerman Demi Bangun Panti Lansia
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA