Rerata usia 118 lulusan program Sarjana Terapan periode ini adalah 23 tahun 6 bulan 16 hari. Eziel mengaku tidak memiliki ambisi besar menjadi lulusan termuda.
Ezriel menjalani dunia pendidikan sesuai dengan timeline tanpa mengalami percepatan. Namun, dia memang masuk SD lebih awal dibandingkan dengan usia teman-temannya.
Disinggung soal prodi pilihannya, Ezriel menyebut pengelolaan hutan bukanlah pilihan pertamanya. Namun, seiring dengan perjalanan perkuliahan dan mendalami ilmu kehutanan, membuatnya memiliki ketertarikan lebih dan menyadari prodi ini mempelajari banyak hal.
Hal ini juga didukung dengan keluarganya yang memiliki perkebunan sawit di Riau. Ezriel memutuskan bertahan dan menekuni bidang ini.
Baca Juga :
Anak Buruh Tani Ini Berhasil Jadi Mahasiswa Berprestasi UGM, Ibu Jual Cincin Demi Biaya Sekolah
Keinginan menjadi pengusaha di bidang kelapa sawit juga membuat Eziel merasa masih banyak yang harus dipelajari sebelum akhirnya membangun usaha sendiri. Ilmu yang dimiliki masih kurang sehingga membuatnya bersemangat menuntut ilmu lebih luas lagi.
“Saya ingin menjadi pengusaha di bidang kelapa sawit. Untuk mewujudkan hal itu saya perlu bekal yang banyak sebelum akhirnya dapat melanjutkannya atau bahkan membuat usaha sendiri,” kata Eziel.
Eziel menyampaikan pesan kepada teman-temannya yang masih berjuang di bangku kuliah untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjalanan kehidupan. Selain itu, jangan mudah menyerah dalam setiap permasalahan yang dihadapi dan selalu percaya pada proses yang sedang dijalani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News