Ilustrasi puasa. Freepik
Ilustrasi puasa. Freepik

Penderita Diabetes Perhatikan Hal Ini Saat Berpuasa

Renatha Swasty • 06 April 2022 17:35
Jakarta: Puasa memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh, termasuk bagi pengidap diabetes. Namun, pengidap diabetes harus terlebih dahulu membicarakan kondisinya pada dokter dan memiliki riwayat gula darah terkontrol baru dapat ikut berpuasa.
 
“Penderita diabetes harus dapat mengklasifikasikan masuk dalam kategori pasien diabetes risiko sangat tinggi, tinggi, sedang, atau rendah," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro (Undip) Maria Erika Pranasakti dikutip dari undip.ac.id, Rabu, 6 April 2022.
 
Maria menjelaskan risiko tinggi ialah mereka yang pernah mengalami hipoglikemia berat dan penurunan gula darah dalam tiga bulan terakhir menjelang Ramadan. Kemudian, mengalami hipoglikemia berulang seperti perempuan yang sedang hamil dan pasien cuci darah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu, mereka yang mengalami kegawatan yakni Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) dalam tiga bulan terakhir. "Mereka termasuk pasien yang memiliki risiko tinggi apabila berpuasa,” kata Maria.
 
Kemudian, kategori yang sedikit rendah di bawahnya, yaitu mereka yang mengalami hipoglikemia sedang. Yakni kategori gula 150 sampai 300 atau pasien diabetes yang tinggal sendiri dan tidak ada anggota keluarga yang menemani. Kemudian, pasien-pasien usia lanjut atau memiliki kormobid lain, misalnya pernah stroke.
 
Mereka yang pernah terkena serangan jantung masuk dalam risiko tinggi. Sementara itu, mereka yang masuk risiko sedang yakni diabetes terkendali dan risiko rendah yakni mereka yang menggunakan salah satu macam obat saja.
 
"Biasanya pasien yang masuk kategori risiko sedang atau rendah masih aman tetapi mereka yang masuk risiko sangat tinggi dan tinggi harus mewaspadai beberapa hal. Ada tanda-tanda yang mereka harus pahami di dalam tubuh, kapan harus segera membatalkan puasa” papar dia.
 
Maria menyampaikan pasien-pasien yang akan melaksanakan ibadah puasa harus mempersiapkan diri tidak di saat-saat akhir. Tetapi 1 atau 2 bulan sebelumnya atau sejak awal sehingga saat masuk bulan Ramadan sudah tertata baik.
 
Dia menuturkan ketika puasa terjadi perubahan pola makan, biasanya 3 kali sehari menjadi 2 kali sehari (sahur dan berbuka). Terdapat periode tidak makan sekitar 12 jam dan orang sering mengira dengan berpuasa gula darah akan rendah.
 
"Padahal tidak hanya itu, gula darah yang rendah atau hipoglikemia hanya salah satunya karena ada juga kondisi hiperglikemia atau gula darahnya justru malah naik," kata Maria.
 
Hal tersebut disebabkan karena dehidrasi atau tubuh kekurangan cairan. Dia mengatakan ada kondisi kegawatan seperti ketoasidosis diabetik yaitu kegawatan yang mungkin terjadi ketika penderita diabetes memiliki penyakit dalam tubuhnya, biasanya infeksi akut yang tidak disadari tetapi berpuasa dan ketika gula darah mencapai ambang tertentu akan terjadi kegawatan diabetes.
 
“Hal yang perlu dipersiapan penderita diabetes sebelum menjalankan ibadah puasa, di antaranya adalah asupan nutrisi, pasien diabetes disarankan untuk makan pada kisaran dietnya sekitar 1.200 sampai dengan 2.000 kalori," kata Maria.
 
Dia memaparkan cara menghitung kalori disesuaikan dengan berat badan ideal tiap orang. Jika pasien harus mengasup karbohidrat 40-50 persen dari total kalori, maka cairan sekitar 30 sampai 50 cc per kg berat badan. Lalu disesuaikan apakah penderita diabetes memiliki penyakit lain, seperti gagal ginjal atau jantung sebab kebutuhan cairan sedikit berbeda.
 
Selain itu, upayakan makan sahur mendekati waktu imsak, ketika berbuka tidak disarankan mengkonsumsi yang terlalu manis, dan menghindari minuman yang mengandung kafein. Sementara itu, untuk obat perlu didiskusikan dengan dokter.
 
“Bagi pasien-pasien diabetes harus menyadari posisi saat ini, apakah masuk kategori risiko sangat tinggi, tinggi, sedang, atau rendah. Untuk risiko sangat tinggi harus waspada, lakukan pengecekan gula darah lebih sering dan harus diwaspadai gejala-gejala dari hipoglikemia dan hiperglikemia," tutur Maria.
 
Apabila dalam pengecekan gula darah kurang dari 70 atau lebih dari 300, dia merekomendasikan untuk membatalkan puasa. Sedangkan pengaturan obat harus dikonsultasikan dengan dokter agar tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik tetapi tidak muncul komplikasi.
 
Baca: Pakar Unair Bagikan Cara Atasi Gangguan Lambung Saat Puasa
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif