Pacu Percepatan Riset di Sektor Swasta

Rajin Lakukan Riset, Perusahaan Dijanjikan Insentif Pajak

Intan Yunelia 14 Agustus 2018 17:26 WIB
Riset dan Penelitian
Rajin Lakukan Riset, Perusahaan Dijanjikan Insentif Pajak
Seminar “Inovasi untuk Negeri” di Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018, Humas Kemenristekdikti.
Jakarta: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tengah menyusun kebijakan mengenai double tax deduction, aturan ini akan memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan riset dan penelitian.

Kebijakan double tax deduction sedang disusun oleh Kemenristekdikti bersama sama dengan Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.  Kebijakan ini bertujuan mendorong peran serta sektor swasta dalam melakukan riset dan pengembangan lebih banyak lagi.


"Mengingat kontribusi sektor swasta yang masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain," kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati, saat memberikan keynote speech mengenai “Peran R and D dalam Mendukung Pembangunan Sektor Energi Nasional” dalam seminar “Inovasi untuk Negeri” di Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018.

Berdasarkan data yang telah disusun oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerja sama dengan Kemenristekdikti tahun 2017, jumlah dana riset di Indonesia mayoritas masih berasal dari Pemerintah atau APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).  Berbanding terbalik dengan negara-negara lain, seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, China, Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam, yang mayoritas dana risetnya berasal dari sektor bisnis.

Baca: 47 Ilmuwan Diaspora Disebar di 55 Perguruan Tinggi

Percepatan riset dalam negeri terutama di bidang energi perlu dilakukan. Akademisi, bisnis atau pengusaha, dan pemerintah yang biasa disebut ABG (Academic- Business -Government) harus bersinergi dan bekerja sama untuk melakukan percepatan riset tersebut.

“Kita harus memanfaatkan golden momentum dari keuntungan bonus demografi untuk percepatan riset dalam negeri, terutama di bidang energi, dengan supportdari sektor swasta. Kalangan akademisi, bisnis, dan pemerintah harus berjamaah dalam melakukan riset agar outputyang dihasilkan lebih optimal,” ujar Dimyati.

Kemenristekdikti telah mengeluarkan beberapa kebijakan, berupa peraturan untuk mendukung iklim percepatan riset dan pengembangan. “Kemenristekdikti telah menyusun dan menetapkan kebijakan yang diharapkan dapat mendukung iklim pelaksanaan riset menjadi lebih baik lagi, seperti rencana induk riset nasional (RIRN), penelitian berbasis output, dan penelitian multiyear,” jelas Dimyati.

Seminar ini dihadiri oleh 75 peserta dari kalangan akademisi, swasta, BUMN, dan LPNK. Dalam acara ini juga dipamerkan produk inovasi dari MMKM LIPI, Innovation Geeks, REPGY, PSSL ITS, Maxwell, dan Infinite.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id