Ilustrasi/Pexels
Ilustrasi/Pexels

Seberapa Efektif Peraturan Larangan Medsos bagi Anak? Ini Kata Pakar IPB

Citra Larasati • 17 Maret 2026 13:01
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial.
  • Regulasi harus dibarengi dengan edukasi.
  • Literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gawai, tetapi juga memahami konsekuensi sosial, psikologis, dan keamanan dari aktivitas digital.
Jakarta: Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Langkah strategis ini diambil untuk melindungi generasi muda dari bahaya ruang digital, seperti paparan konten negatif, perundungan siber (cyberbullying), kecanduan media sosial, hingga eksploitasi daring.
 
Meskipun regulasi ini tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko, karena masih adanya celah teknis seperti pemalsuan usia, kehadirannya tetap krusial sebagai fondasi perlindungan awal. Setidaknya, aturan ini menegaskan bahwa negara mengakui ancaman nyata ekosistem digital terhadap tumbuh kembang anak.

Strategi Penguatan Implementasi Regulasi

Agar kebijakan ini berjalan efektif, diperlukan sinergi dan langkah konkret dari berbagai pihak. Berikut beberapa strategi utama yang dapat diterapkan:

1. Kolaborasi Tripartit: Pemerintah, Platform Digital, dan Masyarakat

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Platform media sosial wajib didorong untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Saat ini, sebagian besar platform masih mengandalkan sistem deklarasi mandiri yang mudah dimanipulasi. Oleh karena itu, inovasi verifikasi usia yang lebih kredibel sangat diperlukan, seperti:
  • Teknologi estimasi usia berbasis kecerdasan buatan (AI).
  • Verifikasi identitas digital.
  • Mekanisme persetujuan orang tua (parental consent).
Dengan sistem yang lebih kuat, peluang anak mengakses platform secara ilegal dapat diminimalkan. Selain itu, platform perlu menerapkan desain ramah anak (child-safe design), seperti membatasi fitur pesan pribadi dari orang asing, siaran langsung tanpa pengawasan, dan algoritma yang terlalu agresif. Pengaturan akun privat, batas waktu penggunaan, dan penonaktifan fitur adiktif juga menjadi keharusan.
 
Platform juga bertanggung jawab melakukan moderasi konten proaktif untuk mendeteksi dan menghapus konten berbahaya seperti kekerasan, eksploitasi anak, dan ujaran kebencian. Transparansi dalam kebijakan perlindungan anak, termasuk publikasi data konten yang ditindak, juga penting agar pemerintah dan masyarakat dapat mengawasi kinerja platform.

2. Peningkatan Literasi Digital untuk Anak dan Orang Tua

Regulasi harus dibarengi dengan edukasi. Literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gawai, tetapi juga memahami konsekuensi sosial, psikologis, dan keamanan dari aktivitas digital.

Untuk Anak, perlu dibekali pemahaman tentang risiko cyberbullying, hoaks, eksploitasi data, dan kecanduan digital yang berdampak pada kesehatan mental. Untuk Orang Tua, Harus memiliki kapasitas memadai agar tidak tertinggal dan mampu membimbing anak. Banyak orang tua yang ingin mengawasi tetapi tidak memahami platform yang digunakan anaknya.
 
Dengan literasi yang baik, keluarga tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengelola teknologi yang bijak dan bertanggung jawab.

3. Pengawasan dan Penegakan Aturan yang Jelas

Regulasi tanpa pengawasan yang kuat hanya akan menjadi simbol. Pemerintah perlu menetapkan standar perlindungan anak yang wajib dipatuhi platform digital, termasuk verifikasi usia kredibel, perlindungan data anak, dan sistem pelaporan yang mudah.
 
Tidak kalah penting adalah mekanisme akuntabilitas. Jika platform melanggar standar, harus ada konsekuensi tegas seperti sanksi administratif atau pembatasan layanan. Dengan demikian, regulasi memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan perilaku platform digital.

4. Menciptakan Alternatif Ruang Digital yang Aman bagi Anak

Pembatasan akses tidak berarti menjauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital. Pendekatan konstruktif adalah menyediakan ruang digital yang aman, edukatif, dan sesuai usia anak. Anak tetap butuh ruang untuk belajar, berekspresi, dan berkreasi secara positif.
 
Pemerintah, sektor teknologi, dan lembaga pendidikan dapat mendorong pengembangan platform khusus anak dan remaja dengan fitur pendukung pembelajaran, kolaborasi, dan kreativitas, namun dengan sistem moderasi super ketat dan perlindungan privasi yang kuat. Ini adalah strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem digital yang lebih sehat, di mana anak tidak hanya dilindungi, tetapi juga diarahkan untuk memanfaatkan teknologi secara produktif.

Peran Vital Orang Tua dalam Pengawasan

Regulasi pemerintah berfungsi memperkuat, bukan menggantikan, tanggung jawab keluarga. Kebijakan akan semakin efektif dengan besarnya peran orang tua. Berikut peran krusial yang dapat dilakukan:
  1. Pendampingan Aktif: Bukan sekadar kontrol ketat, tetapi membimbing anak menggunakan teknologi secara sehat. Orang tua perlu tahu platform apa yang digunakan anak, konten apa yang dikonsumsi, dan dengan siapa mereka berinteraksi.
  2. Komunikasi Terbuka: Bangun komunikasi agar anak merasa aman bercerita jika mengalami masalah daring seperti perundungan atau konten mengganggu. Ini adalah mekanisme perlindungan dini yang efektif.
  3. Aturan Penggunaan Perangkat di Rumah: Tetapkan aturan jelas seperti batas waktu penggunaan, zona bebas gawai (saat makan atau sebelum tidur), dan pengaturan ruang penggunaan internet.
  4. Menjadi Teladan: Anak belajar dari kebiasaan orang tua. Tunjukkan penggunaan teknologi yang bijak, seperti tidak berlebihan memegang ponsel saat bersama keluarga dan menjaga etika komunikasi daring.
  5. Menutup Celah Keamanan: Memperkuat Sistem Verifikasi Usia
  6. Salah satu tantangan terbesar adalah sistem deklarasi mandiri yang mudah dimanipulasi anak. Untuk menutup celah ini, diperlukan langkah strategis:
  • Pertama, penguatan sistem verifikasi usia oleh platform. Verifikasi usia yang lemah membuat regulasi kehilangan daya guna. Platform harus beralih ke sistem yang lebih kredibel, seperti verifikasi identitas atau estimasi berbasis AI.
  • Kedua, regulasi yang mendorong tanggung jawab platform. Tidak adil jika beban perlindungan hanya pada keluarga, sementara platform menikmati keuntungan dari pengguna muda. Negara harus memaksa platform bertanggung jawab melalui standar perlindungan anak yang tegas dan sanksi bagi yang lalai.
  • Ketiga, edukasi etika dan risiko digital untuk anak. Anak perlu memahami mengapa ada pembatasan usia, bukan sekadar menganggapnya sebagai aturan yang harus dilanggar. Edukasi membangun kesadaran kritis akan risiko kecanduan, perundungan, dan eksploitasi data.
  • Keempat, penguatan pengawasan orang tua. Negara tak bisa hadir setiap saat dalam kehidupan digital anak. Pengawasan orang tua, bukan memata-matai, tetapi mengetahui aktivitas digital anak sangat penting untuk mendeteksi tanda bahaya sejak dini.

Solusi Agar Anak Tetap Belajar di Era Digital

Regulasi ini bertujuan melindungi, bukan menghambat pembelajaran digital anak. Berikut solusi menjaga keseimbangan tersebut:
  • Manfaatkan Platform Pendidikan: Arahkan anak ke platform pembelajaran, perpustakaan digital, atau aplikasi edukasi yang lingkungannya lebih terkurasi dan aman.
  • Sediakan Ruang Digital Ramah Anak: Dukung pengembangan platform khusus anak dengan fitur berbagi karya dan diskusi belajar dalam lingkungan yang termoderasi ketat.
  • Perkuat Peran Sekolah: Guru dapat mengenalkan teknologi secara produktif melalui platform pembelajaran daring dengan bimbingan langsung.
  • Pendampingan Orang Tua untuk Aktivitas Digital: Bantu anak menemukan konten edukatif, kanal pembelajaran, dan komunitas digital yang positif.
  • Penguatan Literasi Digital Sejak Dini: Bekali anak kemampuan menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Literasi yang baik adalah fondasi agar anak siap memasuki ruang digital yang lebih luas ketika usianya mencukupi.
 
Baca juga: Maraknya Perburuan Satwa Liar, Pakar IPB: Ini Rendahkan Martabat Indonesia
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan