Dalam kegiatan Taklimat Media dan Gelaran MTN Wave: Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia, para koordinator tim ahli dari lima bidang, yaitu Seni Rupa, Sastra, Film, Musik, dan Seni Pertunjukan memaparkan strategi mereka memetakan serta memperkuat talenta di berbagai daerah. Hal ini agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar lokalnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia seni rupa adalah pertumbuhan yang selama ini terpusat di pulau Jawa. Koordinator Tim Ahli Seni Rupa, Vicky Rosalina, mengungkapkan Manajemen Talenta Nasional bekerja sama dengan berbagai komunitas daerah untuk membuka akses pengetahuan dan kesempatan.
"Kami menemukan banyak talenta di luar Jawa yang memiliki keinginan besar namun terbatas akses. MTN hadir untuk membuka jalur tersebut melalui kemitraan dengan komunitas lokal sebagai mitra strategis, bukan sekadar pelaksana acara," ujar Vicky di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Februari 2026.
Senada dengan itu, Koordinator Tim Ahli Seni Pertunjukan, Keni Soeriaatmadja, menekankan pentingnya mengubah talenta yang sebelumnya invisible menjadi visible.
"Kami tidak membuat kegiatan baru, tapi menguatkan inisiatif, festival, dan ruang inkubasi yang sudah ada di daerah. Tujuannya adalah menciptakan keterhubungan yang bermakna antarpelaku seni," jelas Kenny.
Sementara itu, di bidang musik dan film, fokus utama terletak pada penguatan jejaring dan akses pasar. Koordinator Tim Ahli Musik, Aristofani Fahmi, menjelaskan MTN mendeteksi inisiator festival di daerah seperti Medan, Makassar, hingga Sumedang untuk dijadikan pusat pengembangan talenta.
"Dengan model ini agak sulit untuk tidak inklusif karena kita diharuskan mencari tahu, mendeteksi, dan memfasilitasi melalui open call. Yang paling penting adalah talenta menyadari potensinya sendiri," ujar Aristofani.
Koordinator Tim Ahli Film, Rina Damayanti, menyoroti pentingnya kehadiran talenta Indonesia di festival dan market film internasional seperti Cannes dan Busan. "Melalui MTN, kita membuka jalur agar film-film kita, termasuk film pendek, memiliki kanal industri di tingkat global. Ini adalah upaya menghubungkan karya dengan distribusi," tutur Rina.
Koordinator Tim Ahli Sastra, David Irianto, memaparkan meski ekosistem sastra sudah cukup mapan dengan adanya berbagai festival internasional di Indonesia, tantangan terbesar adalah kurasi talenta untuk menembus pasar dunia.
"Kami memberikan dukungan seperti translation grant agar karya penulis kita bisa diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Perjuangannya seperti melewati lubang jarum, namun dengan trajektori yang jelas dari MTN, kita optimistis talenta potensial bisa naik kelas menjadi talenta unggulan," ungkap David.
Program MTN Seni Budaya diharapkan dapat menjadi solusi atas risiko terserapnya talenta terbaik ke luar negeri tanpa memberi dampak balik bagi ekosistem domestik. Dengan memperkuat tata kelola dan kualitas SDM melalui program ‘Ikon Inspirasi’ dan ‘Asah Bakat’, pemerintah berupaya memastikan kreativitas talenta Indonesia tidak hanya diakui dunia, tetapi juga memperkuat fondasi kebudayaan nasional.
Para koordinator membocorkan kolaborasi antarbidang ini akan ditampilkan secara nyata dalam acara puncak yang menggabungkan berbagai medium seni, menunjukkan kekuatan nexus atau persilangan antardisiplin seni di Indonesia. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News