Alih-alih bersemangat, tidak sedikit yang mengalami perubahan suasana hati. Mereka bisa kehilangan gairah, bahkan merasa sedih saat masa liburan mulai berakhir.
Fenomena ini dikenal sebagai post-holiday syndrome. Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya kapan tepatnya rutinitas itu kembali dimulai? Simak selengkapnya.
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, libur Hari Raya Idulfitri ditetapkan pada 21-22 Maret 2026 dan dilanjutkan cuti bersama pada 23-24 Maret 2026. Artinya, PNS maupun pekerja swasta resmi kembali bekerja pada Rabu, 25 Maret 2026.
Meski begitu, pemerintah memberikan fleksibilitas berupa skema work from anywhere (WFA) pada 25-27 Maret 2026 guna mengoptimalkan mobilitas masyarakat pascamudik. Sementara itu, para pelajar masih menikmati sisa liburan lebih panjang.
Mengacu pada Kalender Pendidikan Tahun Ajaran 2025/2026, libur Idulfitri untuk siswa berlangsung mulai 16 hingga 28 Maret 2026 (enam hari sebelum dan sesudah 1 Syawal), dengan perkiraan masuk sekolah kembali pada Senin, 30 Maret 2026. Orang tua dan siswa tetap diimbau memantau pengumuman resmi dari pemerintah daerah masing-masing karena detail jadwal bisa berbeda sesuai kebijakan dinas pendidikan setempat.
Dengan jadwal kembali beraktivitas yang sudah di depan mata, tidak ada salahnya untuk lebih dulu mengenal kondisi yang kerap mengintai usai liburan panjang ini. Setelah mengetahui jadwal masuknya, kini saatnya kamu memahami post holiday syndrome dan cara menghadapinya.
Apa Itu Post Holiday Syndrome?
Melansir laman Halodoc, post holiday syndrome atau yang juga disebut post holiday blues merupakan sindrom di mana otak belum sepenuhnya menerima berakhirnya hal-hal menyenangkan selama liburan. Otak manusia otomatis merekam pengalaman menyenangkan selama liburan dan merangsang dirinya untuk terus beristirahat.Akibatnya, otak menjadi "kaget" saat harus kembali menyesuaikan diri dengan aktivitas harian yang padat. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, namun individu dengan tekanan pekerjaan tinggi, beban hidup besar, atau yang merasa liburannya kurang memuaskan cenderung lebih rentan.
Pekerja yang langsung dihadapkan pada rutinitas padat, anak rantau yang harus kembali ke perantauan, hingga mereka yang punya tenggat waktu menumpuk juga kerap merasakan sindrom ini.
Gejala yang perlu diwaspadai
Gejala post holiday syndrome umumnya bersifat fisik maupun emosional dan seringkali mirip dengan tanda-tanda depresi pada umumnya. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan semangat beraktivitas, rasa malas dan kurang antusias, kelelahan berkepanjangan, mudah gelisah dan emosional, sakit kepala, gangguan tidur atau insomnia, bahkan stres hingga depresi dalam kondisi tertentu.Kabar baiknya, kondisi ini biasanya tidak berlangsung lama dan umumnya hanya dirasakan pada minggu pertama setelah liburan usai. Meski begitu, durasi sindrom ini bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Cara mengatasi post holiday syndrome
Selain itu, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi post holiday syndrome, di antaranya:1. Cukup istirahat
Salah satu pemicu rasa murung usai liburan adalah kelelahan akibat kurang istirahat. Sempatkan waktu bersantai di rumah, misalnya dengan membaca buku, mendengarkan musik, atau menonton film.2. Latihan pernapasan
Teknik pernapasan perut yang dalam dan teratur terbukti membantu tubuh lebih rileks sekaligus mencegah depresi.3. Konsumsi makanan sehat
Makanan mengandung asam amino seperti unggas, brokoli, susu, keju, daging rendah lemak, telur, dan kacang kedelai dapat memicu produksi serotonin yang memberikan rasa nyaman dan tenang. Konsumsi karbohidrat juga membantu menenangkan pikiran, sementara vitamin dan mineral seperti kalsium, magnesium, zinc, omega-3, serta vitamin C, E, dan B kompleks berperan menstabilkan kondisi tubuh.4. Berinteraksi dengan orang terdekat
Menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga bisa membantu memulihkan suasana hati.5. Dokumentasikan kenangan liburan
Membagikan momen liburan bisa menjadi cara sederhana untuk memperpanjang kebahagiaan.6. Tata ulang lingkungan tempat tinggal
Membersihkan dan merapikan rumah bisa membantu pikiran lebih segar dan siap kembali ke rutinitas.7. Atur aktivitas menyenangkan
Merencanakan kegiatan yang ditunggu-tunggu setelah liburan bisa menjadi motivasi untuk bangkit lebih cepat.Post holiday syndrome pada dasarnya merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan ritme aktivitas. Jika perasaan tersebut berlangsung lama atau semakin berat, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Nah, itulah penjelasan mengenai post holiday syndrome beserta cara mengatasinya yang perlu Sobat Medcom pahami. Jadi, kamu sudah liburan ke mana aja?
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News