FITNESS & HEALTH
Psikolog Jelaskan Post Holiday Blues yang Bisa Dialami Pekerja hingga Pelajar
A. Firdaus
Selasa 06 Januari 2026 / 12:11
Jakarta: Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menyampaikan post holiday blues atau istilah yang menggambarkan kondisi emosional sementara, yang terjadi periode libur atau perayaan berakhir bisa dialami pekerja hingga pelajar.
“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” kata Virginia, dilansir Antara.
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu menyampaikan sejumlah tanda seseorang mengalami post holiday blues dapat berupa, seperti perasaan sedih, murung, atau hampa tanpa alasan yang jelas hingga menurunnya motivasi untuk kembali bekerja dan sekolah.
“Mudah lelah, lesu atau sulit konsentrasi, gangguan tidur; mudah tersinggung atau merasa cemas ketika dihadapkan oleh kewajiban, serta perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tutur dia.
Virginia mengatakan kondisi saat mengalami post holiday blues bukan gangguan mental, melainkan respons adaptif terhadap perubahan rutinitas dan tuntutan.
Kondisi post holiday blues, lanjut Virginia, secara umum masih dapat dikatakan wajar apabila berlangsung beberapa hari sampai 1-2 minggu ke depan, di mana seiring berjalannya waktu, mood dan energi akan berangsur menyesuaikan lagi dengan rutinitas harian yang dilakukan.
Meski demikian, Virginia mengingatkan perlu waspada apabila bertahan lebih dari dua minggu. Jika kondisi tersebut terjadi disarankan mencari bantuan dari psikolog klinis, psikiater, atau profesional lain yang kompeten.
“Tidak ada waktu yang pasti untuk menentukan sampai kapan post holiday blues akan bertahan," ujar psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.
"Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” kata Virginia, dilansir Antara.
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu menyampaikan sejumlah tanda seseorang mengalami post holiday blues dapat berupa, seperti perasaan sedih, murung, atau hampa tanpa alasan yang jelas hingga menurunnya motivasi untuk kembali bekerja dan sekolah.
“Mudah lelah, lesu atau sulit konsentrasi, gangguan tidur; mudah tersinggung atau merasa cemas ketika dihadapkan oleh kewajiban, serta perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tutur dia.
Virginia mengatakan kondisi saat mengalami post holiday blues bukan gangguan mental, melainkan respons adaptif terhadap perubahan rutinitas dan tuntutan.
Kondisi post holiday blues, lanjut Virginia, secara umum masih dapat dikatakan wajar apabila berlangsung beberapa hari sampai 1-2 minggu ke depan, di mana seiring berjalannya waktu, mood dan energi akan berangsur menyesuaikan lagi dengan rutinitas harian yang dilakukan.
Meski demikian, Virginia mengingatkan perlu waspada apabila bertahan lebih dari dua minggu. Jika kondisi tersebut terjadi disarankan mencari bantuan dari psikolog klinis, psikiater, atau profesional lain yang kompeten.
“Tidak ada waktu yang pasti untuk menentukan sampai kapan post holiday blues akan bertahan," ujar psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.
"Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)