Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Hari Pustakawan Nasional, Mendikdasmen: Mereka Bukan Sekadar Penjaga Rak Buku!

Ilham Pratama Putra • 07 Juli 2026 14:20
Ringkasnya gini..
  • Abdul Mu'ti menegaskan pustakawan berperan mengelola pengetahuan dan memperluas akses informasi.
  • Perpustakaan didorong bertransformasi menjadi pusat belajar, literasi, dan kolaborasi.
  • Pelajar diajak menjadikan membaca sebagai kebutuhan untuk membangun kemampuan berpikir kritis.
Jakarta: 7 Juli diperingati sebagai hari Pustakawan Nasional. Dalam peringatan ini, pemerintah memberikan penghargaan kepada para pustakawan di Indonesia. 
 
Pustawakan bukan orang yang sekadar berjaga di perspustakaan. Namun, pustakawan sangat berjasa dalam mengelola pengetahuan, memperluas akses informasi, melestarikan warisan dokumenter bangsa, serta memperkuat budaya literasi di Indonesia. 
 
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menilai, tugas pustakawan sangat penting karena membantu masyarakat menemukan, memahami, mengevaluasi, hingga memanfaatkan informasi secara bermakna. Penghargaan kepada pustakawan yang diberikan setiap 7 Juli pada Hari Pustakawan Nasional hanya bagian kecil dibandingkan kontribusi mereka dalam memperluas akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

"Tanggal 7 Juli Ini adalah momentum bagi kita semua untuk memberi penghormatan kepada para pustakawan bukan sebagai penjaga rak buku dan koleksi buku semata," kata Mu'ti di Jakarta, Selasa 7 Juli 2026.
 
Baca juga: Serem! Kepala Perpusnas Sebut Perpustakaan Jadi Tempat Jin Beranak-pinak  

Mu'ti mendorong semua pihak untuk menghidupi perpustakaan. Perpustakaan tidak boleh lagi dipandang sebagai tempat penyimpanan buku semata. 
 
Perpustakaan harus bertransformasi menjadi ruang belajar yang hidup, ruang dialog, pusat literasi, sekaligus simpul kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan pendidikan yang bermutu. Dia juga mengkritik pandangan lama yang masih menganggap perpustakaan sekadar pelengkap administrasi sekolah dan profesi pustakawan sebagai posisi yang kurang dihargai. 
 
"Perpustakaan justru menjadi pusat pengembangan kualitas sumber daya manusia," jelasnya. 
 
Mu'ti mengatakan, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan anak-anak yang mampu membaca teks, tetapi juga mampu membaca realitas sosial, berpikir kritis, bekerja sama, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Karena itu, membaca buku harus menjadi titik awal lahirnya refleksi dan tindakan nyata.
 
"Perpustakaan jangan lagi ruang pasif tempat buku disimpan dan dipinjamkan, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang dialog gagasan, ruang penguatan literasi, sekaligus simpul kolaborasi antara pemerintah, pustakawan, pendidik, peserta didik, penulis, komunitas, dan masyarakat luas," ucap Mu'ti.
 
Dia juga juga meminta para pelajar agar membangun budaya membaca bukan karena tuntutan sekolah. Tetapi sebagai kebutuhan pribadi dalam mengembangkan diri. Kemendikdasmen melalui pendekatan pembelajaran mendalam menempatkan literasi sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. 
 
"Beranilah berpikir kritis, beranilah mengambil keputusan, dan beranilah mencari solusi atas persoalan yang kalian hadapi. Kalianlah calon-calon pemimpin masa depan bangsa ini," tuturnya.
 
Tahun ini, Hari Pustakawan Indonesia mengusung tema "Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak." Tema ini mengajak seluruh pustakawan untuk terus berperan aktif dalam pengembangan literasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. 
 
Baca juga: Viral Perpustakaan UI Bocor dan Lumutan, Kampus Akhirnya Spill Rencana Renovasi Gede-gedean  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA