Hari Raya Galungan. DOK Unsplash
Hari Raya Galungan. DOK Unsplash

Sejarah Hari Raya Galungan: Kisah Kemenangan Dewa Kebaikan Melawan Raksasa Mahayena

Renatha Swasty • 18 Juni 2026 21:04
Ringkasnya gini..
  • Hari Raya Galungan melambangkan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).
  • Hari Raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap enam bulan Bali atau sekitar 210 hari.
  • Galungan juga menjadi momen bagi umat Hindu untuk memperingati terciptanya alam semesta.
Jakarta: Hari Raya Galungan merupakan hari penting yang dirayakan oleh umat Hindu. Perayaan ini melambangkan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).
 
Hari suci ini dirayakan oleh umat Hindu setiap 210 hari sekali dengan menggunakan perhitungan khusus. Penentuan tanggal upacara sakral ini berlandaskan pada perputaran kalender Saka Bali.
 
Umat Hindu memercayai pada hari suci ini para leluhur akan turun ke bumi untuk memberikan berkat serta perlindungan kepada keturunannya. Merujuk Surat Edaran Nomor B-253/DJ.VI/Dt.VI.I.3/BA.03/09/2025 yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI, berikut jadwal peringatan Hari Raya Galungan yang jatuh pada bulan Juni 2026:
  • Selasa, 16 Juni 2026: Hari Penampahan Galungan
  • Rabu, 17 Juni 2026 Hari Raya Galungan
  • Kamis, 18 Juni 2026 Hari Umanis Galungan 
Asal usul Galungan sulit dipastikan, namun perayaan ini sudah ada di seluruh Indonesia sebelum populer di Bali. Sebenarnya bagaimana sejarah Hari Raya Galungan? Yuk simak informasinya berikut ini:

Apa itu Hari Raya Galungan?

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Galungan berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertarung dan juga dikenal dengan sebutan Dungulan yang artinya menang. Di Bali, istilah Wuku Dungulan setara dengan Wuku Galungan di Jawa yaitu wuku kesebelas.

Hari Raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap enam bulan Bali atau sekitar 210 hari, tepatnya pada hari Budha Kliwon Dungulan Rabu Kliwon Wuku Dungulan, sebagai simbol kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan).
 
Perayaan ini identik dengan penjor, bambu yang dihias dengan tradisi khas Bali yang dipasang di sepanjang jalan untuk menambah keindahan alam. 
  Selain itu, Galungan juga menjadi momen bagi umat Hindu untuk memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya sekaligus merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Sebagai bentuk rasa syukur, umat Hindu memberikan dan melakukan persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara beserta manifestasinya. 
 
Pemasangan penjor di setiap rumah juga merupakan bagian dari aturan adat yang dihormati sebagai persembahan kepada Bhatara Mahadewa.

Sejarah Hari Raya Galungan

Menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan diperingati untuk mengenang kemenangan Ida Batara, dewa kebaikan, melawan raksasa Mahayena yang akan merusak bumi. Dalam mitologi Hindu, pertempuran ini melambangkan kemenangan Dharma atas Adharma.
 
Galungan pertama kali dirayakan pada Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) tahun 882 Masehi atau 804 Saka. Lontar ini menyebutkan perayaan berlangsung pada Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, tanggal 15 Sasih Kapat, tahun 804 Saka, menggambarkan Pulau Bali seperti Indra Loka.
 
Galungan dan Kuningan dirayakan dua kali setahun menurut kalender Masehi, dengan jarak 10 hari antara keduanya. Galungan jatuh setiap Rabu pada Wuku Dungulan, sedangkan Kuningan setiap Sabtu pada Wuku Kuningan.

Makna Filosofis Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan memiliki makna filosofis yang mendalam. Perayaan ini mengajarkan umat manusia untuk:
  1. Selalu berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan
  2. Mengendalikan hawa nafsu dan sifat buruk
  3. Hidup dalam harmoni dan damai dengan sesama
  4. Bersyukur atas segala berkah dan kemenangan
Dengan memahami makna dan filosofi Hari Raya Galungan, umat Hindu dapat memaknai perayaan ini dengan lebih dalam dan penuh syukur. Semoga dengan merayakan Galungan, umat Hindu dapat terus meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kemenangan dalam segala aspek kehidupan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA