Alih-alih menyerah, situasi ini justru mendorong lahirnya pendekatan baru dalam mengelola keuangan di kalangan Generasi Z. Berbeda dengan pola menabung konvensional yang menuntut disiplin ketat dan target nominal besar, ada metode yang lebih fleksibel dan minim tekanan mulai banyak dilirik.
Metode ini menekankan konsistensi tanpa mengorbankan kualitas hidup saat ini, sekaligus dinilai lebih bersahabat bagi kesehatan mental. Fenomena inilah yang kini dikenal luas dengan istilah soft saving.
Sebelum membahas lebih jauh, yuk kenalan dulu dengan apa itu soft saving, mulai dari pengertian, alasan di balik kepopulerannya, manfaat, hingga risiko yang perlu diperhatikan sebelum menerapkannya.
Apa Itu Soft Saving?
Soft saving adalah pendekatan menabung yang mengutamakan kesejahteraan hidup saat ini melalui pengalaman dan pembelian yang meningkatkan kualitas hidup, ketimbang menyimpan uang secara agresif untuk tujuan finansial di masa depan. Meski tetap mengakui pentingnya dana pensiun atau simpanan jangka panjang, metode ini memberi ruang lebih luas bagi seseorang untuk menikmati kesenangan hidup di masa kini.Istilah soft saving mulai populer sekitar tahun 2023, ketika Generasi Z menggunakannya untuk menggambarkan pendekatan keuangan mereka. Metode ini menjadi antitesis dari metode FIRE (Financial Independence, Retire Early) yang mengedepankan penghematan ekstrem demi kebebasan finansial di masa depan.
“Banyak orang dewasa Generasi Z tumbuh dewasa selama pandemi, inflasi historis, tantangan keterjangkauan perumahan, dan ketidakpastian ekonomi yang berkelanjutan. Bagi banyak orang, masa depan terasa tidak dapat diprediksi dan jauh secara finansial, jadi masuk akal untuk memprioritaskan kualitas hidup saat ini,” kata Direktur Kesejahteraan Keuangan di Wings Credit Union, Bree Shellito, dikutip dari laman Reader's Digest, Selasa, 24 Maret 2026.
Mengapa tren soft saving makin populer?
Ada beberapa alasan ekonomi, sosial, dan budaya yang mendorong tren soft saving terus berkembang. Generasi Z tumbuh di tengah pandemi, inflasi yang tinggi, tantangan kepemilikan rumah, dan ketidakpastian ekonomi yang berkelanjutan.Kondisi ini membuat masa depan terasa jauh dan sulit diprediksi, sehingga banyak yang memilih memprioritaskan kualitas hidup hari ini. Di sisi lain, sebagai generasi yang paling terhubung dengan dunia digital, Gen Z juga terpapar gaya hidup rekan-rekan mereka di media sosial secara terus-menerus.
Hal ini menciptakan tekanan tersendiri untuk terus mengikuti tren dan standar gaya hidup tertentu, yang pada akhirnya turut mempengaruhi cara mereka mengelola keuangan. Melansir dari laman Metrotvnews.com, soft saving dilakukan dengan menyisihkan porsi kecil penghasilan, biasanya di bawah 10 persen, untuk tabungan.
Sementara itu, sebagian besar penghasilan dialokasikan untuk pengembangan diri, kesehatan mental, dan pengalaman hidup yang bermakna. Konsep ini berakar dari tren soft life yang sempat viral di media sosial, yang menolak kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan. Adapun sejumlah manfaat yang bisa dirasakan dari strategi ini antara lain:
Manfaat soft saving
1. Mengurangi stres finansial
Tanpa adanya target menabung yang kaku, seseorang bisa lebih tenang dalam mengelola keuangannya sehari-hari.2. Fleksibilitas pengeluaran
Memberikan keleluasaan untuk mengalokasikan dana pada pengalaman hidup seperti traveling, kuliner, atau hobi yang disukai.3. Menjaga keseimbangan hidup
Menitikberatkan pada kesehatan mental dan kebahagiaan jangka pendek yang kerap terabaikan dalam metode menabung konvensional.4. Menyelaraskan pengeluaran dengan nilai pribadi
Membantu seseorang memastikan uang yang dimiliki benar-benar digunakan untuk memperkaya seluruh fase kehidupan, bukan hanya masa tua.5. Tantangan dan Risiko
Meski terdengar menarik, soft saving bukan tanpa risiko. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebelum menerapkannya:6. Melewatkan potensi keuntungan investasi
Porsi tabungan yang terlalu kecil di usia muda berarti melewatkan manfaat bunga majemuk yang bisa sangat signifikan dalam jangka panjang.7. Meningkatnya stres finansial
Jika pengeluaran melampaui pemasukan, kondisi keuangan yang tidak stabil justru bisa memperburuk kesehatan mental yang ingin dijaga.8. Tidak siap menghadapi kondisi darurat
Tanpa dana cadangan yang memadai, satu kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kedaruratan kesehatan bisa langsung menguras tabungan dan mendorong seseorang ke dalam utang berbunga tinggi.9. Berpotensi boros karena alasan yang salah
Pengeluaran yang didorong oleh perbandingan sosial dan keinginan pamer, bukan berdasarkan nilai dan kebutuhan pribadi, justru bisa meninggalkan rasa hampa dan memperburuk kondisi finansial.Tips menerapkan soft saving
Bagi Sobat Medcom yang ingin mencoba metode ini, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan agar soft saving tetap berjalan sehat:- Tetapkan batas minimal tabungan dengan menyisihkan setidaknya 5–10 persen dari penghasilan secara otomatis setiap bulan
- Pilih instrumen keuangan yang fleksibel, seperti reksa dana ritel yang mudah dicairkan
- Gabungkan dengan investasi berisiko rendah seperti emas digital atau saham blue chip untuk membangun aset jangka panjang
- Manfaatkan fitur round-up di dompet digital untuk menabung sambil tetap berbelanja seperti biasa
- Lakukan evaluasi keuangan secara berkala, minimal setiap enam hingga dua belas bulan, untuk memastikan pengeluaran tetap sejalan dengan nilai dan tujuan hidup
“Tujuannya bukanlah menabung secara agresif atau menghabiskan uang tanpa perhitungan. Yang terpenting adalah menyelaraskan kehidupan kamu saat ini dengan stabilitas masa depan kamu secara sengaja," ujar Shellito.
Nah itulah penjelasan tentang soft saving beserta tipsnya yang perlu Sobat Medcom ketahui. Semoga bermanfaat ya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News