Wamendikdasmen Atip Latipulhayat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Miris! Siswa SMK 4 Samarinda Meninggal Usai Pakai Sepatu Sempit, Ternyata Tak Termasuk Penerima PIP

Ilham Pratama Putra • 06 Mei 2026 11:56
Ringkasnya gini..
  • MRS diduga meninggal karena infeksi pada kaki akibat memaksakan pakai sepatu kekecilan
  • Wamendikdasmen Atip sebut kemiskinan jadi faktor utama ketidakmampuan membeli sepatu
  • MRS disebut tidak menerima PIP meski dari keluarga miskin
Bandung: Seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda berinisial MRS, meninggal dunia karena sakit di kakinya. Cerita ini viral di media sosial karena MRS memaksakan diri menggunakan sepatu yang ukurannya kecil hingga kesakitan. 
 
MRS seharusnya menggunakan sepatu berukuran 43. Namun ia tetap memaksa dirinya memakai sepatu ukuran 40 karena belum mampu membeli sepatu baru. 
 
Akibat menggunakan sepatu yang sempit, kakinya bengkak. Sakit di kakinya itu menjadi pemicu dirinya meninggal. 

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menerangkan kemiskinan menjadi faktor utama penyebab munculnya kasus tersebut. Ia pun mengaku kaget dengan persoalan yang dihadapi MRS.
 
"'Kaget juga, demikian dahsyat sekali itu. Dan langsung di pikiran saya pasti ini miskin, sampai dipaksakan memakai sepatu yang nomornya kecil jadi infeksi begitu," sebut Atip di Bandung, Rabu 6 Mei 2026.
 
Lebih lanjut, ia mengecek status MRS dalam data pendidikan. Mirisnya, MRS kata dia bukan penerima dana Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai masyarakat miskin.
 
"Saya cek, masuk PIP enggak? Nah saya kaget, ternyata belum," tambahnya.
 
Yang ia sayangkan, nama MRS baru saja didaftarkan PIP lewat usulan dinas. Padahal, seharusnya sekolah yang paham kondisi ekonomi siswa dapat langsung mengusulkan dengan cepat.
 
"Nah jadi pada kesempatan ini harus dilakukan perbaikan-perbaikan sistem agar PIP itu betul-betul efektif," jelasnya.
 
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur mengeluarkan laporan kejadian atas meninggalnya MRS. Laporan ini dikeluarkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin.
 
Baca juga: Ironis! Cuma 5 Kilometer dari Istana Negara, Anak Putus Sekolah Masih Ditemukan

Ia menjelaskan kronologi, pendalaman hingga analisis terhadap meninggalnya MRS yang dikutip dari Laporan Kejadian Siswa Meninggal SMK Negeri 4 Samarinda yang dikirim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Kalimantan Timur melalui Kemendikdasmen sebagai berikut: 

Kronologi Meninggalnya MRS

MRS mengikuti Praktik Kerja dimulai pada 9 Februari 2026 sampai 20 Maret 2026 di Ramayana Robinson Jl. M Yamin Samarinda;

30 Maret 2026: 

Siswa sempat kembali mengikuti kegiatan pembelajaran, namun 1 April 2026 disarankan untuk beristirahat diantar pulang karena kondisi fisik yang menurun.

2 April 2026:

Siswa tidak mengikuti pembelajaran dan orang tua mengirim izin sakit dan pada tanggal 8 April melalui chat Whatsapp pihak keluarga (Ibu) meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui walikelas dan walikelas meminta Ibu untuk datang ke sekolah untuk berkoordinasi.

10 April 2026:

Orang tua datang ke sekolah menyampaikan kondisi siswa terkait kesehatan dan penurunan kondisi dan menganggap itu adalah gangguan nonmedis dan sekolah membantu fasilitasi permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar 1.100.000.

21 April 2026:

Pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumah untuk memastikan kondisi anak menyampaikan kakinya lemas dan bengkak namun tidak ada luka atau lecet, guru menyarankan siswa untuk berobat fasilitas kesehatan. Namun pihak orangtua menyampaikan ada tunggakan 2.400.000 yang belum terbayarkan dan sekolah membantu untuk memfasilitasi bertemu dengan ketua RT untuk pengurusan BPJS melalui bantuan pemerintah.

23 April 2026:

Sekolah melakukan kunjungan ke rumah siswa yang kedua untuk melihat kondisi murid dan menanyakan terkait pengurusan BPJS. Pada saat itu orang tua dan siswa melaporkan bahwa kondisi siswa sempat membaik dan kondisi kaki kempes dan sekolah memutuskan besuk untuk membelikan sepatu sesuai ukuran.

24 April 2026:

Diterima kabar bahwa siswa yang bersangkutan telah meninggal dunia dan pihak sekolah turut mendampingi proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah.
 
Baca juga: Dijemput dari Jalanan, Anak Putus Sekolah Diantar ke Sekolah Rakyat
 

Hasil Klarifikasi dan Pendalaman 

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak sekolah, keluarga, dan pihak terkait, diperoleh beberapa hal sebagai berikut:
 
Kondisi Kesehatan Siswa
 
Sejak diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, siswa mengalami pusing dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah, beredar informasi bahwa sepatu siswa kekecilan, namun menurut orang tua, ukuran sepatu siswa adalah nomor 43.
 
Dukungan dan Pendampingan Sekolah
 
Sekolah telah memberikan pendampingan dengan melakukan kunjungan sejak siswa teridentifikasi mengalami penurunan kondisi kesehatan, serta berupaya memfasilitasi layanan kesehatan dengan koordinasi secara berkelanjutan bersama keluarga.

Analisis Singkat

Berdasarkan hasil klarifikasi dan pendalaman data, pihak sekolah telah melakukan pendampingan secara maksimal. Namun, karena tidak terdapat diagnosis medis dari layanan kesehatan, tidak dapat disimpulkan bahwa penyebab meninggalnya murid disebabkan oleh sepatu.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA