Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Influencer Pendidikan, Jangan Hanya Melihat Jumlah Followers

Pendidikan media sosial influencer
Muhammad Syahrul Ramadhan • 30 Agustus 2020 18:56
Jakarta: Anggota Komisi X DPR, Ferdianysah menilai tidak ada yang salah jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggunakan influencer untuk menyampaikan dan menyosialisasikan kebijakan pendidikan. Namun, perlu diperhatikan dengan cermat kemampuan serta kapasitas influencer yang bersangkutan dalam memahami isu pendidikan.
 
“Perlu kita cermati, bukan saja followers, subscribers, atau siapa follower-nya. Tapi influencer ini sendiri ngerti enggak dunia pendidikan ?” kata Ferdiansyah dalam Webinar Peran Influencer dalam Kebijakan Pendidikan, Sabtu, 29 Agustus 2020.
 
Penggunaan jasa influencer baik itu selebgram maupun YouTuber oleh pemerintah ini tengah ramai dibicarakan oleh publik setelah Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis data bahwa pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 90,45 miliar untuk jasa influencer. Kemendikbud sendiri juga membuat paket pengadaan jasa influencer sebanyak 22 paket dengan total nilai Rp1,6 miliar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga: KSP: Influencer Sosialisasikan Program Pemerintah hingga ke Pelosok
 
Hal itu, kata Ferdiansyah, merupakan kekhawatiran yang muncul dari keputusan penggunaan influencer di dunia pendidikan ini. Karena influencer juga harus memahami isu pendidikan dan bisa menjawab pertanyaan masyarakat, terkait isu yang disampaikan.
 
“Kekhawatiran kami ketika ada pertanyaan. Ini menjadi pertanyaan, influencer dan buzzer ini ngerti enggak?” ujarnya.
 
Praktisi Komunikasi, Sisi Suhardjo mengatakan, pertimbangan tersebut menjadi penting bagi Kemendikbud untuk cermat memilih influencer yang tidak hanya sekadar memiliki pengaruh, namun juga memang sudah akrab dengan isu-isu pendidikan.
 
Baca juga: ICW Khawatir Influencer Jadi Jalan Pintas Muluskan Kebijakan Pemerintah
 
“Mereka juga yang sangat passionate, dan punya position bagaimana mendukung pendidikan di Indonesia. Banyak sekali sekarang influencer yang profesinya dari ibu rumah tangga, pendidik, banyak sekali,” terangnya.
 
Senada, Abdul Rahman Ma’mun yang juga Praktisi Komunikasi menambahkan, bahwa influencer ini bisa merupakan orang-orang yang dipercaya di komunitasnya. Bukan sekadar influencer dengan banyak pengikut di akun media sosialnya.
 
“Jadi itu akan lebih efektif, secara penetrasi dan engagement rate kalau itu bisa dilakukan, cuma kan tidak mudah tapi memang harus rajin-rajin interaksi dengan influencer yang sebenarnya dibutuhkan oleh pendidikan,” jelasnya.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif