Kepala LLDikti Wilayah III Kemendikbudristek, Paristiyanti Nurwardani. Foto: Dok. Medcom.id/Citra Larasati
Kepala LLDikti Wilayah III Kemendikbudristek, Paristiyanti Nurwardani. Foto: Dok. Medcom.id/Citra Larasati

LLDikti Wilayah III Dorong Kampus di Jakarta Berani Gelar Kuliah Tatap Muka

Citra Larasati • 21 Januari 2022 22:17
Jakarta:  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah III, Paristiyanti Nurwardani mendorong perguruan tinggi di DKI Jakarta untuk berani melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).  Kuliah tatap muka tidak hanya untuk menyelamatkan potensi learning loss yang lebih besar lagi, namun juga mengurangi dampak buruk berkurangnya kompetensi sosial mahasiswa.
 
Seperti diketahui, PTM dengan kapasitas 100 persen sudah mulai dilakukan di sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah di seluruh daerah yang memenuhi syarat untuk melakukannya.  Untuk itu, Paristiyanti mendorong perguruan tinggi, utamanya yang berada di DKI Jakarta untuk juga ikut menggelar PTM di kampusnya.
 
"Anak SD saja berani PTM, masak kita enggak berani. Di pendidikan tinggi itu justru lebih tahu soal mitigasi, jadi seharusnya lebih berani untuk PTM. Jadi kampus kita dorong untuk berani PTM," kata Paristiyanti, di Jakarta, Jumat, 21 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seruan ini bukan tanpa sebab, Parisiyanti menyebutkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang dilakukan terus menerus memiliki dampak buruk bagi kelangsungan akademis mahasiswa dengan munculnya learning loss.  Tidak hanya itu, menurutnya kompetensi sosial mahasiswa juga perlu diselamatkan,
 
"Kalau mengikuti tujuan pendidikan bahwa lulusan perguruan tinggi harus beriman, bertakwa, kemudian berakhlak mulia, sehat, cerdas, berlimu dan selalu melakukan buat bangsa negara. Itu semua soft skills," ujar Paristiyanti.
 
Kompetensi (soft skills) itu didapatkan dari kegiatan berkomunikasi face to face antarmanusia dengan lingkungan sekitarnya. "Saya khawatir kalau mahasiswa terlalu lama tidak bertemu dosen respek mahasiswa ke dosen berkurang.  Jangan-jangan juga enggak punya teman, karena biasa lihat cuma di layar laptop. Menurut saya kompetensi sosial ini harus menjadi concern bersama," tegasnya
 
Tidak hanya itu, kualitas pendidikan karakter mahasiswa pun terancam menurun.  Seperti gotong royong, kolaborasi, kebinekaan.
 
"Gotong royong dengan kebinekaan, sulit kalau pakai daring. Kemudian beriman berakhlak mulia mungkin bisa dengan orang tuanya, tapi akan  lebih teruji jika bertemu dengan orang lain.  Kemudian kreatif, ada persoalan bersama dan penyelesaian bersama.  Jadi pasti harus punya teman.  Dengan luring bisa mengasah critical thinking," sebutnya.
 
Baca juga:  Kurikulum Prototype, Guru Tetap Jadi Kunci Suksesnya Pembelajaran
 
Belum lagi, kata Paristiyanti, ketika berbicara soal kebinekaan global.  Akan lebih optimal jika itu diasah di dalam komunitas yang lebih luas dan beragam seperti di dalam kampus.
 
"Kemudian belajar kebinekaan global, harus ke kampus, bisa praktik toleransi, empati. Kalau di rumah saja relatif homogen," terangnya.
 
Sebab di dalam kampus, mahasiswa akan mengenal lebih banyak teman yang berasal dari berbagai daerah, suku, ras, dan agama.  "Kita akan lebih kaya saat melakukan luring," ujar Paris.
 
Sedangkan untuk hardskill, di kampus terdapat beragam fasilitas untuk menerapkan pembelajaran kolaboratif. "Hard skills dan soft skills akan jauh lebih tercapai learning outcome-nya ketika mahasiswa belajar di kampus.  Saya merasa dan ingin membantu jangan sampai learning loss diperpanjang lagi hanya karena kita tidak berani ambil risiko, hanya karena kita sudah terbiasa new normal," tutup Paristiyanti.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif