Pakar pendidikan tinggi, Nizam, mengungkapkan jumlah mahasiswa yang tidak melanjutkan proses registrasi tersebut mencapai sekitar 10 persen dari total mahasiswa yang dinyatakan memenuhi syarat masuk PTN. Fenomena tersebut merupakan pola yang selalu muncul dalam proses penerimaan mahasiswa baru setiap tahun.
“Yang konkret atau yang riil mahasiswa diterima tapi tidak masuk itu sekitar 10 persen atau sekitar 60-an ribu dari 681 ribu,” kata Nizam dalam paparannya saat RDP di Komisi X DPR RI, dikutip Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Nizam, angka tersebut menggambarkan adanya jarak antara jumlah calon mahasiswa yang diterima dengan mahasiswa yang benar-benar masuk dan mengikuti perkuliahan. Dari sisi daya tampung, PTN memiliki kapasitas sekitar 725 ribu kursi, tetapi mahasiswa yang memenuhi kualitas akademik untuk diterima sekitar 681 ribu orang.
Nizam mengungkapkan terdapat beberapa faktor utama yang membuat mahasiswa mengundurkan diri setelah dinyatakan lolos PTN. Pertama, sebagian mahasiswa memilih masuk perguruan tinggi kedinasan.
"Dalam hal ini sekolah kedinasan memiliki daya tarik karena menawarkan berbagai fasilitas, termasuk beasiswa dan jaminan tertentu setelah lulus," beber Nizam.
Ia memaparkan mahasiswa yang diterima di sekolah kedinasan mendapat beasiswa dan fasilitas lengkap. Karena itu, mereka meninggalkan PTN.
| Baca juga: Kolam Besar Mahasiswa Baru Dikuasai PTN, PTS Daerah Hanya Kebagian Tetesan |
"Mereka pindah, meskipun diterima di UI, di fakultas yang mentereng seperti Ekonomi, Kedokteran pun mereka pindah ke sekolah kedinasan,” ujar Nizam.
Kedua, mahasiswa tidak yakin dengan pilihan program studi atau perguruan tinggi tempat mereka diterima. Hal ini terjadi pada peserta yang lolos di pilihan kedua, ketiga, atau pilihan berikutnya.
“Mereka yang mundur itu karena belum mantap, diterimanya di pilihan kedua, ketiga, atau keempat, sehingga kemudian mereka berubah pikiran,” ujar dia.
Ketiga, sebagian mahasiswa memilih alternatif lain, seperti masuk perguruan tinggi swasta (PTS) yang dianggap lebih sesuai dengan pilihan mereka. Nizam menilai persoalan penerimaan mahasiswa baru tidak hanya berkaitan dengan jumlah kursi, tetapi juga kualitas pendidikan dan pemerataan akses.
Ia mendorong peningkatan kualitas PTS agar menjadi pilihan utama masyarakat, bukan hanya alternatif setelah gagal masuk PTN. Selain itu, perlu ada sinergi antara PTN, PTS, dan Universitas Terbuka agar akses pendidikan tinggi semakin luas.
Menurut dia, pembiayaan pendidikan tinggi juga menjadi salah satu faktor penting. Banyak calon mahasiswa sebenarnya ingin melanjutkan kuliah, tetapi terkendala biaya ketika memilih perguruan tinggi swasta berkualitas.
“Pembiayaan pendidikan tinggi yang berkeadilan perlu dipikirkan, apakah mungkin ada voucher, kredit tanpa bunga, atau hal-hal semacam itu,” ujar Nizam.
| Baca juga: DPR Dorong Batas Waktu Jalur Mandiri di PTN Harus Hitam di Atas Putih |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda