Puasa. DOK Freepik
Puasa. DOK Freepik

Hukum Puasa di Akhir Bulan Syaban, Bolehkah Dilakukan?

Ilham Pratama Putra • 09 Februari 2026 10:25
Ringkasnya gini..
  • Terdapat pandangan berbeda di antara ulama terkait puasa di akhir bulan Syaban.
  • Ada ulama melarang puasa setelah nisfu Syaban karena hari syak (ragu). Sebagian ulama tidak melarang puasa selama mengetahui masuknya awal Ramadan.
  • Hukum puasa di akhir bulan Syaban bukanlah larangan mutlak. Perbedaan pendapat ulama menunjukkan adanya kelonggaran sesuai kondisi masing-masing.
Jakarta: Memasuki penghujung bulan Syaban, pertanyaan mengenai hukum puasa di hari-hari terakhir sebelum Ramadan kerap muncul di tengah masyarakat. Sebagian umat Islam ragu apakah masih diperbolehkan berpuasa sunnah di akhir Syaban menjelang datangnya bulan Ramadan?
 
Melansir laman jatim.pbnu.or.id, dalam kajian fikih, hukum puasa di akhir bulan Syaban memang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan ini terutama berkaitan dengan puasa setelah memasuki pertengahan bulan Syaban atau setelah nisfu Syaban.

Ibadah di Bulan Syaban

Secara umum, bulan Syaban dikenal sebagai salah satu bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah. Dalam berbagai riwayat disebutkan Rasulullah SAW sering memperbanyak puasa pada bulan ini sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadan.
 
Namun, anjuran tersebut tidak serta-merta berlaku mutlak hingga hari-hari terakhir Syaban. Para ulama kemudian memberikan penjelasan lebih rinci mengenai batasan puasa sunnah di penghujung bulan.

Pendapat ulama tentang puasa setelah Nisfu Syaban

Malam nisfu Syaban diyakini sebagai malam pengampunan dan penuh keberkahan. Dianjurkan pada malam pertengahan Syaban memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar. 

Setelah malam nisfu Syaban, apakah masih ada kesunahan yang bisa kita lakukan? Apakah pada tanggal 16 Syaban dan seterusnya masih dianjurkan untuk berpuasa?
 
Terkait persoalan ini, ulama berbeda pendapat karena ada satu hadits yang melarang puasa setelah nisfu Syaban dan dalam riwayat al-Bukhari, Nabi juga melarang puasa dua atau tiga hari sebelum Ramadan.
 
Syekh Wahbab al-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan:
 
قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص. ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد
 
Artinya: Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Syaban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahar, puasa Daud, puasa Senin-Kamis, puasa nadzar, puasa qadla, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Syaban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari nisfu Syaban. Dalil mereka adalah hadits: Apabila telah melewati nisfu Syaban janganlah kalian puasa. Hadits ini tidak digunakan oleh ulama mazhab Hanbali dan selainnya karena menurut Imam Ahmad dlaif.
 
Ulama melarang puasa setelah nisfu Syaban dikarenakan pada hari itu dianggap hari syak (ragu), karena sebentar lagi bulan Ramadan tiba. Khawatirnya, orang yang puasa setelah nisfu Syaban tidak sadar kalau dia sudah berada di bulan Ramadan.
 
Ada juga ulama yang mengatakan, puasa setelah nisfu Syaban dilarang agar kita bisa menyiapkan tenaga dan kekuatan untuk puasa di bulan Ramadan. Meskipun dilarang, ulama dari mazhab Syafi’i tetap membolehkan puasa sunnah bagi orang yang terbiasa mengerjakannya, seperti:
  1. Puasa Senin dan Kamis
  2. Puasa ayyamul bidl
  3. Puasa nadzar
  4. Puasa qadla
  5. Puasa dahar.
Sementara itu, menurut ulama lain, khususnya selain mazhab Syafi’i, hadis di atas dianggap lemah dan termasuk hadis munkar, karena ada perawi hadisnya yang bermasalah. Dengan demikian, sebagian ulama tidak melarang puasa setelah nisfu Syaban selama dia mengetahui kapan masuknya awal Ramadan.
 
Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan:
 
 وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر
 
Artinya: Mayoritas ulama membolehkan puasa sunah setelah nisfu Syaban dan mereka melemahkan hadits larangan puasa setelah nisfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadits tersebut munkar.
 
Dengan demikian, ulama berbeda pendapat terkait hukum puasa sunnah mutlak setelah nisfu Syaban. Karena mereka berbeda pendapat dalam memahami dan menghukumi hadits larangan puasa setelah nisfu Syaban. 
 
Akan tetapi, pada sisi lain, mereka sepakat akan kebolehan puasa sunah bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, seperti puasa Senin Kamis, puasa Daud, puasa dahar, dan lain-lain. Dibolehkan juga puasa bagi orang yang ingin membayar kafarah, qadla puasa, dan orang yang ingin melanjutkan puasa setelah puasa nisfu Syaban.
 
Jadi, hukum puasa di akhir bulan Syaban bukanlah larangan mutlak. Perbedaan pendapat ulama menunjukkan adanya kelonggaran sesuai kondisi masing-masing.
 
Terpenting, umat Islam dianjurkan tetap mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan memperbanyak ibadah, menjaga kesehatan, serta mengikuti tuntunan syariat secara bijak. Itulah penjalasan soal hukum puasa di akhir Syaban. Semoga membantu yaa. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan