Ciri khasnya, anggrek dengan kelopak bunga berwarna putih dengan totol-totol coklat kemerahan serta bibir bunga berwarna putih. Anggrek jenis ini juga mengeluarkan aroma yang sangat wangi di pagi hari yang ditemukan di sekitar lereng Gunung Merapi.
“Selain itu, anggrek vanda tricolor memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap panas. Hal ini terbukti pada saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, anggrek ini masih ditemukan dan bertahan di habitatnya,” ungkap Guru besar Fakultas Biologi UGM, Endang Semiarti, dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa, 12 Mei 2026.
Endang mengatakan hingga saat ini sudah ditemukan setidaknya 59 jenis anggrek merapi yang dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Namun, jumlah ini dapat terjadi pengurangan akibat faktor alam maupun faktor manusia seperti bencana alam, perubahan iklim, hingga pembangunan infrastruktur.
Dia menyebut ditemukannya jenis anggrek baru juga dapat tetap terjadi apabila masyarakat atau peneliti melakukan eksplorasi ke hutan. “Banyak spesies anggrek di hutan-hutan yang belum teridentifikasi jenisnya,” kata dia.
Salah satu langkah penting dalam konservasi dengan pendekatan berbasis masyarakat. Endang menyebut pnting mengajari masyarakat sekitar lereng gunung/hutan untuk melestarikan anggrek dengan membudidayakan di halaman rumah agar mendapatkan suasana seperti habitat aslinya.
“Saya bersama para pecinta anggrek mengedukasi warga sekitar hutan untuk melakukan konservasi mandiri dengan pengilangan dan penaburan biji yang lebih sederhana agar mudah diikuti semua orang,” ucap dia.
Konservasi juga dapat dilakukan oleh para peneliti maupun akademisi dengan inovasi. Endang dan mahasiswanya melakukan inovasi Kultur In Vitro dari berbagai jenis anggrek yang didapatkannya dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memproyeksikan anggrek vanda tricolor sebagai ikon daerah. Upaya ini dilakukan melalui instruksi penanaman anggrek di seluruh instansi perkantoran di wilayah Yogyakarta.
Komunitas Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) juga memiliki peran penting dalam konservasi anggrek di Indonesia. Mereka turut membudidayakan temuan anggrek baru dengan penyesuaian habitat aslinya.
“Selain itu, PAI banyak mengadakan kompetisi ataupun seminar sebagai inisiasi edukatif serta konservatif,” ujar dia.
Endang berharap anggrek di Indonesia dapat terus lestari dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Ia banyak melakukan kolaborasi bersama rekan dari bidang lain untuk menulis buku dari penelitian yang telah dilakukan.
Cara ini dilakukannya untuk meneruskan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pecinta anggrek sebelumnya agar pelestariannya terus dilanjutkan. “Anggrek adalah identitas bangsa, maka tugas kita bersama adalah memastikan kelestariannya,” harap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News