Sejumlah massa menggelar aksi unjuk rasa dengan membentangkan spanduk penolakan kekerasan terhadap perempuan saat menggelar aksi #SisterInDanger di depan Gedung DPR RI, Jakarta. MI/Bary Fathahilah.
Sejumlah massa menggelar aksi unjuk rasa dengan membentangkan spanduk penolakan kekerasan terhadap perempuan saat menggelar aksi #SisterInDanger di depan Gedung DPR RI, Jakarta. MI/Bary Fathahilah.

Waspada, Siswi SD Paling Rentan Kekerasan Seksual

Pendidikan kekerasan anak kekerasan seksual anak Kekerasan di Sekolah
Intan Yunelia • 01 Juli 2019 12:19
Jakarta:Berdasarkan pengawasan KPAI terhadap berbagai kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan sepanjang Januari-Juni 2019, dari pemberitaan di media massa tergambar bahwa sekolah belum menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak didik. Kekerasan seksual paling banyak terjadi di Sekolah Dasar (SD) dan anak perempuan menjadi korban terbanyak,
 
Sepanjang Januari-Juni 2019, dunia Pendidikan kembali tercoreng oleh perilaku tidak senonoh oknum guru SD Negeri. Ada sekitar delapan kasus yang terjadi di SD di wilayah kecamatan Lembak, Muara Enim (Sumatera Selatan), kecamatan Ujanmas, Muara Enim (Sumatera Selatan), kecamatan Klego, Boyolali (Jawa Tengah), kabupaten Majene (Sulawesi Barat), kota Pontianak (Kalimantan Barat), Payakumbuh, kabupaten Limapuluh Kota (Sumatera Barat), dan di kota Malang (Jawa Timur).
 
Selain di jenjang SD, kekerasan seksual juga dilakukan oknum guru di kecamatan Cikeusal, Serang (Banten), di Tanete, Bulukumba (Sulawesi Selatan) dan Padangtualang, Langkat (Sumatera Utara). "Berbagai kasus kekerasan seksual di sekolah yang terjadi selama enam bulan terakhir menunjukkan modus pelaku yang beragam dan patut diwaspadai kita semua," kata anggota KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti, di Jakarta, Seninn, 1 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelaku kekerasan seksual di lembaga pendidikan formal, masih didominasi oleh guru dan ada satu kasus yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Guru dan kepala sekolah yang berstatus mulia sebagai pendidik telah mencederai profesi mulianya tersebut.
 
"Para guru dan kepala sekolah yang seharusnya menjadi teladan bagi para siswanya dan wajib menjunjung nilai-nilai moral dan agama, ternyata telah melakukan perbuatan bejat terhadap anak didiknya sendiri di lembaga pendidikan tempatnya bekerja." terang Retno.
 
Baca:Korban Kekerasan Seksual Minim Perlindungan
 
Dari berbagai kasus kekerasan seksual tersebut, menunjukkan bahwa kasus terbanyak terjadi di jenjang SD yaitu sebanyak delapan kasus. Sedangkan di jenjang SMP sebanyak tiga kasus.
 
Korban mayoritas anak perempuan di sembilan kasus dan hanya dua kasus yang korbannya adalah anak laki-laki. Artinya anak lelaki maupun anak perempuan sama-sama rentan menjadi korban kekerasan seksual di sekolah.
 
"Kekerasan seksual dapat terjadi di mana saja dan menimpa siapapun, baik dewasa maupun anak-anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki," ungkap Retno.
 
Menurut Retno, ketika ditemukan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum pendidik kepada anak didiknya, KPAI mendorong Inspektorat dan Dinas Pendidikan setempat tidak hanya menghukum si oknum guru. Akan tetapi juga harus mengevaluasi kepala sekolah yang bersangkutan.
 
"Karena ada indikasi lemahnya pengawasan kepala sekolah terhadap sekolah dan para gurunya yang menjadi tanggung jawabnya sebagai manjer di sekolah," tegasnya.
 
Baca:Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi
 
Hal ini, kata Retno, sekaligus mendorong kepala sekolah bersungguh-sungguh menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan di wilayah kerjanya. Sekaligus memberikan pembelajaran dan efek jera kepada sekolah lainnya.
 
KPAI juga mendorong para orangtua peserta didik untuk memiliki kepekaan dan mengenali perubahan sikap anak-anaknya. Menurut Retno, biasanya korban kekerasan seksual menunjukan perilaku ketakutan, murung dan prestasi belajar menurun.
 
"Jika orangtua memiliki kepekaan, maka kekerasan seksual dapat dicegah dan dapat segera dihentikan, anakpun dapat segera dibantu untuk rehabilitasi psikis dan kesehatan reproduksinya," tutup Retno.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif