Museum Kebangkitan Nasional. DOK website Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional. DOK website Museum Kebangkitan Nasional

Hari Kebangkitan Nasional Apakah Libur Tanggal Merah? Ini Aturan Resmi Pemerintah

Ilham Pratama Putra • 18 Mei 2026 10:28
Ringkasnya gini..
  • Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang berdirinya Budi Utomo pada 1908.
  • Harkitnas bukan tanggal merah atau hari libur nasional sehingga aktivitas tetap berjalan normal.
  • Penetapan Hari Kebangkitan Nasional diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang hari nasional bukan hari libur.
Jakarta: Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) diperingati setiap tanggal 20 Mei. Namun, banyak masyarakat masih bertanya apakah peringatan tersebut termasuk tanggal merah atau hari libur nasional?
 
Jawabannya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hari libur nasional. Meskipun diperingati secara resmi setiap tahun, aktivitas perkantoran, sekolah, hingga layanan publik tetap berjalan normal seperti biasa.
 
Hari Kebangkitan Nasional merupakan salah satu hari nasional yang ditetapkan pemerintah untuk mengenang lahirnya kesadaran persatuan bangsa Indonesia. Momentum ini merujuk pada berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang menjadi tonggak awal pergerakan nasional.

Penetapan Harkitnas tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Karena itu, tanggal 20 Mei tidak masuk daftar hari libur nasional maupun cuti bersama.
 
Penetapan Harkitnas tidak datang secara tiba-tiba. Ada sejarah panjang mengenai penetapan Harkitnas. 
 
Nah untuk kamu yang belum paham, berikut penjelasan Harkitnas lengkap dengan sejarah singkatnya!

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Melansir laman disdik.grobogan.go.id, peringatan Hari Kebangkitan Nasional merujuk pada berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). 
 
Langkah Budi Utomo tersebut menjadi tonggak awal bangkitnya gerakan nasional di Hindia Belanda. Langkah yang dilakukan memang tak lepas dari masa penjajahan Belanda di Indonesia. 
 
Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan modern di Nusantara. Penetapan wilayah administratif Hindia Belanda secara tidak langsung menjadi cikal bakal terbentuknya Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah.
 
Baca juga: Cara Unik Komunitas Rayakan Hari Kebangkitan Nasional

Di sisi lain, muncul kelompok masyarakat terpelajar dari kalangan pribumi. Kehadiran mereka tidak lepas dari kebijakan Politik Etis yang membuka akses pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia, meski masih terbatas untuk kalangan tertentu.
 
Kaum terdidik inilah yang kemudian melahirkan berbagai organisasi pergerakan dan menumbuhkan kesadaran sebagai satu bangsa. Dari sini pula mulai hadir semangat untuk mendirikan bangsa Indonesia.

Faktor Pendorong Kebangkitan Nasional

Kebangkitan nasional dipengaruhi sejumlah faktor internal maupun eksternal. Dari dalam negeri, penderitaan panjang akibat penjajahan menjadi pemicu utama munculnya semangat persatuan.
 
Selain itu, kenangan akan kejayaan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit turut membangkitkan rasa nasionalisme. Kemunculan kaum intelektual hasil pendidikan Barat juga menjadi motor penggerak perjuangan.
 
Sementara dari luar negeri, munculnya paham nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme di Eropa ikut memengaruhi pola pikir masyarakat pribumi. Gerakan kebangkitan di negara-negara Asia seperti India dan Turki juga memberi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
 
Kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang 1905 turut membuka pandangan bangsa-bangsa Asia bahwa negara Barat bukan kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Selanjutnya pemikiran terus berkembang dan diasah melalui pendidikan.

Peran Pendidikan dalam Pergerakan Budi Utomo

Pada awal abad ke-20, akses pendidikan bagi pribumi masih sangat terbatas. Namun melalui Politik Etis, pemerintah kolonial mulai membuka sekolah-sekolah bagi masyarakat Indonesia.
 
Pendidikan dari negara Barat kemudian melahirkan kelompok elite terdidik yang mulai mengenal gagasan tentang kebebasan, demokrasi, dan hak menentukan nasib sendiri. Dari kelompok inilah lahir tokoh-tokoh pergerakan nasional.
 
Meski jumlah pelajar pribumi kala itu masih kecil dibanding total populasi, pendidikan menengah Belanda dianggap berhasil menciptakan generasi baru. Generasi yang terbentuk inilaih yang akhirnya memiliki kesadaran politik dan semangat anti-kolonialisme.

Lahirnya Organisasi Pergerakan

Setelah Budi Utomo berdiri, berbagai organisasi lain mulai bermunculan. Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi politik dengan anggota yang tersebar di berbagai daerah.
 
Pada 1912, Ernest Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij. Di tahun yang sama, KH Ahmad Dahlan membentuk Muhammadiyah yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.
 
Suwardi Suryaningrat juga dikenal lewat tulisannya berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Tulisan itu mengkritik pemerintah kolonial yang merayakan kemerdekaan Belanda menggunakan dana dari tanah jajahan. Akibat kritik tersebut, ia diasingkan oleh pemerintah Belanda.
 
Pergerakan nasional terus berkembang hingga muncul Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diprakarsai Sukarno pada 1927. Organisasi itu secara tegas memperjuangkan kemerdekaan politik Indonesia.
 
Puncak semangat persatuan terjadi pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Dalam momentum itu lahir Sumpah Pemuda yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Represi Belanda terhadap Gerakan Nasional

Meningkatnya kesadaran nasional membuat pemerintah kolonial memperketat pengawasan terhadap organisasi politik dan tokoh pergerakan. Belanda menangkap sejumlah aktivis dan membatasi kebebasan politik. Sukarno bahkan sempat dipenjara pada 1929 dan aktivitas PNI dilarang.
 
Meski demikian, semangat nasionalisme tidak berhasil dipadamkan. Gerakan kemerdekaan terus tumbuh hingga situasi berubah drastis saat Perang Dunia II pecah.

Berakhirnya Kolonialisme Belanda

Pada 1942, Jepang menginvasi Hindia Belanda dan berhasil mengalahkan Belanda hanya dalam waktu singkat. Pendudukan Jepang selama tiga tahun membawa perubahan besar dalam kehidupan politik masyarakat Indonesia.
 
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945, Belanda mencoba kembali menguasai Indonesia. Namun semangat nasionalisme yang telah tumbuh kuat membuat perjuangan kemerdekaan tidak dapat dihentikan. Hingga pada akhirnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Penetapan Hari Kebangkitan Nasional

Pemerintah Indonesia menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 yang ditandatangani pada 16 Desember 1959. Harkitnas diperingati setiap tahun sebagai pengingat lahirnya semangat persatuan, nasionalisme, dan perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
 
Baca juga: Museum Kebangkitan Nasional: Menelusuri Jejak Perjuangan dan Semangat Kebangkitan Bangsa

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA