Pemantauan dilakukan secara intensif oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta hingga Selasa, 3 Maret 2026 pukul 07.00 WIB. Tiga sistem yang teridentifikasi masing-masing berada di selatan dan timur wilayah Indonesia, dengan karakteristik dan peluang pertumbuhan yang berbeda.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memastikan pihaknya memonitor perkembangan ketiga bibit siklon tersebut selama 24 jam penuh. Ia mengimbau masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak tidak langsung seperti genangan air dan angin kencang.
“Kami memantau pergerakan ketiga bibit siklon ini secara intensif. Pastikan masyarakat hanya merujuk pada kanal resmi BMKG untuk menghindari informasi yang tidak benar atau hoaks,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis Rabu, 4 Maret 2026.
| Baca juga: Kenapa Imlek Identik denganHujan? Begini Penjelasan Ilmiah hingga Mitosnya |
Tiga Bibit Siklon yang dipantau
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan ketiga bibit siklon yang aktif saat ini meliputi:1. Bibit Siklon Tropis 90S
Berada di Samudra Hindia selatan Banten-Jawa Barat dan memiliki peluang tinggi berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam ke depan.2. Bibit Siklon Tropis 93S
Terpantau di sebelah barat laut daratan Australia dengan peluang perkembangan relatif rendah.3. Bibit Siklon Tropis 92P
Terletak di Teluk Carpentaria, sebelah selatan Papua Selatan, juga dengan peluang rendah untuk berkembang.Meski dua sistem terakhir berpeluang rendah menjadi siklon tropis, seluruhnya tetap memberi dampak tidak langsung terhadap pola cuaca di Indonesia. Kemunculan sistem ini meningkatkan gradien tekanan udara, memperkuat kecepatan angin permukaan, dan memicu pemusatan massa udara.
| Baca juga: Bagaimana Dampak Badai Magnetik Skala 'Severe' Bagi Indonesia? Ini Kata BMKG |
Kondisi tersebut diperkuat oleh suhu muka laut yang hangat di perairan selatan dan timur Indonesia, serta terbentuknya area pertemuan angin (konfluensi) dari Bali hingga Nusa Tenggara Timur.
Dari analisa tersebut, durasi dampak cuaca ekstrem paling tinggi terjadi 2-4 Maret 2026. Sedangkan periode 5-8 Maret diprediksi terjadi penurunan intensitas hujan di sejumlah wilayah saja, sementara lainnya masih berpotensi hujan lebat dan angin kencang.
Wilayah berpotensi hujan lebat dan angin kencang
BMKG memetakan sejumlah daerah yang berpotensi terdampak peningkatan cuaca ekstrem, yakni:- Hujan sedang hingga lebat: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
- Angin kencang: Bali, DI Yogyakarta, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan pesisir selatan Papua Selatan.
Gelombang laut meningkat
Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menyebut peningkatan kecepatan angin juga berdampak pada tinggi gelombang di sejumlah perairan. BMKG memprakirakan:- Gelombang 1,25–2,5 meter (kategori sedang–tinggi) berpotensi terjadi di Laut Flores, Laut Banda, Selat Sunda, dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai.
- Gelombang 2,5–4 meter (kategori tinggi) berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, selatan Banten hingga Bali, Laut Sawu, selatan NTB dan NTT, serta Laut Arafura.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News