Travel grant. DOK
Travel grant. DOK

Mengenal Travel Grant, Fasilitas Dana 'Liburan Gratis' yang Diduga Jadi Motif Skandal Pemalsuan Riset di ISPPD 2026

Bramcov Stivens Situmeang • 27 Mei 2026 20:03
Ringkasnya gini..
  • Travel grant adalah dana hibah yang diberikan untuk mendukung biaya perjalanan akademisi atau peneliti dalam menghadiri konferensi ilmiah.
  • Persyaratan untuk mendapatkan travel grant dapat berbeda-beda tergantung penyelenggara dan jenis konferensinya.
  • Dana travel grant umumnya dialokasikan sepenuhnya untuk mendukung biaya perjalanan akademik, tanpa potongan untuk keperluan lain.
Jakarta: Sejumlah orang asal Indonesia diduga memalsukan identitas serta fabrikasi data riset 
dalam konferensi bergengsi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Mereka diketahui telah beberapa kali mengikuti konferensi internasional dan bahkan memperoleh hibah perjalanan (travel grant) serta penghargaan riset di forum lain.
 
Hal ini memunculkan dugaan bahwa praktik kecurangan tersebut dilakukan demi mendapatkan fasilitas travel grant. Berangkat dari masalah itu, penting untuk memahami apa sebenarnya bantuan perjalanan ini serta alasan di balik tingginya minat di kalangan akademisi. Yuk simak informasinya berikut ini!

Apa itu Travel Grant?

Dilansir dari laman Weber State University, travel grant adalah dana hibah yang diberikan untuk mendukung biaya perjalanan akademisi atau peneliti dalam menghadiri konferensi ilmiah. Bantuan ini biasanya mencakup tiket transportasi, akomodasi, hingga biaya registrasi acara.
 
Dengan adanya travel grant, peneliti dapat berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional tanpa harus mengeluarkan biaya pribadi. Sehingga, ini menjadi fasilitas yang sangat bernilai, khususnya bagi akademisi dengan keterbatasan pendanaan.

Lantas, siapa saja yang bisa menerima Travel Grant? Berikut ketentuannya.

Syarat penerima travel grant

Melansir laman International Studies Association (ISA), program travel grant pada dasarnya dirancang untuk memberikan bantuan kepada kelompok akademisi yang menghadapi keterbatasan akses finansial. Setidaknya ada tiga kelompok utama yang menjadi sasaran program ini, antara lain:
  1. Peneliti muda atau junior scholars yang baru memulai karier akademiknya dan belum memiliki dukungan finansial yang memadai untuk menghadiri konferensi internasional.
  2. Mahasiswa pascasarjana tingkat akhir atau senior graduate students yang sedang menyelesaikan studi dan aktif mempresentasikan hasil riset mereka di forum ilmiah.
  3. Akademisi dari negara-negara berpenghasilan rendah yang secara struktural memiliki keterbatasan dalam membiayai perjalanan ke konferensi internasional.
Program ini hadir untuk memastikan forum ilmiah tidak hanya bisa diakses oleh kalangan dosen senior yang memiliki penghasilan lebih besar, melainkan juga terbuka bagi mereka yang memiliki potensi riset namun terkendala secara finansial. Sebagai informasi, khusus untuk konferensi tahunan ISA, hanya anggota ISA yang terdaftar yang berhak mengajukan permohonan travel grant.

Syarat mendapatkan travel grant

Melansir laman The Geological Society of America (GSA), persyaratan untuk mendapatkan travel grant dapat berbeda-beda tergantung penyelenggara dan jenis konferensinya. Berikut sejumlah ketentuan yang biasa diberlakukan:
  1. Pemohon harus berstatus mahasiswa sarjana atau pascasarjana yang terdaftar aktif di institusi pendidikan yang diakui.
  2. Pemohon wajib menjadi anggota dari organisasi atau asosiasi ilmiah yang menyelenggarakan program travel grant tersebut.
  3. Pemohon harus berencana untuk mempresentasikan hasil penelitiannya secara langsung di konferensi yang dituju, bukan sekadar hadir sebagai peserta.
  4. Khusus untuk GSA International Travel Grant, pemohon disyaratkan berdomisili di luar kawasan Amerika Utara dan dana baru akan dicairkan melalui transfer bank setelah pemohon benar-benar hadir dan mempresentasikan risetnya di konferensi.
Dana travel grant umumnya dialokasikan sepenuhnya untuk mendukung biaya perjalanan akademik, tanpa potongan untuk keperluan lain. Bagi Sobat Medcom yang tertarik untuk mendapatkan bantuan penelitian ini, yuk simak cara mendapatkannya di bawah ini:
  1. Ajukan proposal permohonan setelah mendapatkan konfirmasi penerimaan dari panitia konferensi, idealnya dalam kurun waktu 45 hari sejak surat penerimaan diterbitkan agar pemrosesan tiket, akomodasi, dan registrasi dapat dilakukan dengan harga yang lebih terjangkau.
  2. Sertakan rincian biaya yang diperlukan secara lengkap, meliputi estimasi harga tiket transportasi, biaya hotel, biaya transportasi darat, serta biaya registrasi konferensi jika diperlukan.
  3. Lengkapi seluruh formulir pengajuan secara daring beserta tanda tangan yang dipersyaratkan, lalu kirimkan melalui sistem pengajuan online yang telah disediakan oleh penyelenggara.
  4. Setelah kembali dari konferensi, simpan seluruh bukti pengeluaran karena laporan realisasi biaya beserta kwitansi wajib diserahkan dalam kurun waktu 14 hari setelah kepulangan.
Pada dasarnya, besaran dana travel grant berbeda-beda dan tergantung kebijakan masing-masing penyelenggara konferensi. Selain itu, komponen biaya yang ditanggung juga bisa bervariasi, mulai dari tiket perjalanan hingga akomodasi dan registrasi.
 
Sebagai gambaran, salah satu perguruan tinggi seperti Weber State University menetapkan batas maksimal bantuan hingga USD2.000 atau sebesar Rp35 juta untuk sementara waktu. Kebijakan ini diberlakukan seiring meningkatnya biaya perjalanan.
 
Dalam skema tersebut, pendanaan umumnya hanya diberikan kepada satu peserta per proyek. Selain itu, pengajuan juga perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu setelah riset diterima.
 
Di sisi lain, terdapat sejumlah pembatasan yang perlu diperhatikan. Beberapa jenis pengeluaran seperti sewa kendaraan, uang harian, bahan bakar, hingga akomodasi berbasis berbagi hunian umumnya tidak ditanggung.
 
Pencairan dana biasanya baru dilakukan setelah peserta benar-benar menghadiri konferensi dan menyelesaikan kewajiban administrasi, termasuk menyerahkan laporan serta bukti pengeluaran. Perlu dicatat, tidak semua jenis pengeluaran dapat ditanggung oleh travel grant.
 
Beberapa pengeluaran seperti biaya sewa kendaraan, uang harian, dan bahan bakar umumnya tidak termasuk dalam komponen yang dapat diklaim. Biaya akomodasi melalui platform berbagi hunian seperti Airbnb dan Vrbo juga biasanya tidak ditanggung oleh travel grant.
 
Program travel grant juga disediakan oleh organisasi internasional seperti International Studies Association (ISA). Program ini ditujukan untuk membantu peneliti muda, mahasiswa pascasarjana, serta akademisi dari negara berpenghasilan rendah agar tetap dapat berpartisipasi dalam konferensi internasional.
 
Mengutip laman isanet.org, jumlah hibah perjalanan dalam konvensi tahunan diberikan setiap tahun dengan porsi tertentu bagi pelamar dari negara-negara berkembang (Global South). Menariknya, program ini secara konsisten menyalurkan dana kepada seluruh pelamar yang memenuhi syarat setiap tahunnya.
 
Berdasarkan data 2026, ISA menerima 396 pengajuan dan menyetujui 288 di antaranya dengan total pendanaan mencapai USD211.200. Dari jumlah tersebut, 160 penerima berasal dari negara Global South dengan total dana sekitar USD140.900 atau sekitar 66,71 persen dari total pendanaan.
 
Sebagai perbandingan, jumlah pengajuan tercatat lebih tinggi sebanyak 625 pelamar. Dari jumlah itu, diketahui 372 pengajuan yang disetujui dengan total dana pendanaan sebesar USD231.050 pada 2025.
 
Sedangkan, 126 penerima berasal dari Global South dengan nilai pendanaan sekitar USD98.550. Data tersebut menunjukkan selain besaran dana yang bervariasi, distribusi travel grant juga cenderung diarahkan untuk memperluas akses bagi peneliti dari negara berkembang agar dapat terlibat dalam forum ilmiah global.
 
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan program travel grant memang menawarkan dukungan pendanaan yang cukup besar sekaligus membuka peluang luas bagi peneliti untuk tampil di forum internasional. Besarnya bantuan serta tingginya jumlah penerima menjadi faktor utama yang membuat travel grant begitu diminati, terutama oleh akademisi yang memiliki keterbatasan dana.
 
Dosen Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, sebagai salah satu orang yang membongkar kecurangan ini menekankan fasilitas gratis yang didapat dengan cara curang sejatinya memiliki harga yang jauh lebih mahal. Menurutnya, hal yang dipertaruhkan adalah nama baik seluruh peneliti Indonesia di mata komunitas ilmiah internasional.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA