Seorang oknum peneliti yang sedang mempresentasikan riset yang diduga palsu di ISPPD 2026, Denmark. DOK Instagram @w.o.d.d
Seorang oknum peneliti yang sedang mempresentasikan riset yang diduga palsu di ISPPD 2026, Denmark. DOK Instagram @w.o.d.d

Memalukan! Sekelompok WNI Palsukan Riset Pakai AI di Forum Dunia Demi Travel Grant

Bramcov Stivens Situmeang • 27 Mei 2026 12:32
Ringkasnya gini..
  • Sejumlah peneliti asal Indonesia diduga melakukan pemalsuan identitas dan fabrikasi data riset dalam konferensi ilmiah bergengsi ISPPD 2026.
  • Pelaku berganti-ganti nama dan jilbab serta menggunakan AI untuk riset.
  • Pemalsuan ini diduga demi mendapatkan dana travel grant yang memungkinkan mereka bepergian ke luar negeri tanpa biaya pribadi.
Jakarta: Dunia akademik Indonesia tengah diguncang kabar memalukan dari panggung ilmu pengetahuan internasional. Sejumlah peneliti asal Indonesia diduga melakukan pemalsuan identitas dan fabrikasi data riset terorganisir dalam konferensi ilmiah bergengsi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.
 
Dikutip dari laman isppd.kenes.com, International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokus. Forum tersebut mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter hingga peneliti kesehatan dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil riset dan perkembangan terbaru di bidang kesehatan.
 
Konferensi ISPPD-14 atau ISPPD 2026 berlangsung pada 17 hingga 21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark. Dugaan pelanggaran etik yang terjadi dalam forum internasional tersebut menjadi sorotan luas karena dilakukan di hadapan komunitas ilmiah dunia.

Kasus ini dinilai tidak hanya mencoreng nama individu yang terlibat, tetapi juga berpotensi merusak kredibilitas akademisi Indonesia di mata internasional. Beberapa nama yang diduga terlibat dalam skandal ini antara lain RF, RW, SHN, PR, dan RD.

Kronologi dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi data riset

Kasus ini mencuat setelah unggahan Ida Bagus Mandhara Brasika di akun Instagram @mandharabrasika dan sorotan lengkap dari akun Instagram @w.o.d.d yang ramai diperbincangkan publik. Perbincangan tersebut kemudian memicu perhatian luas dari kalangan akademisi, termasuk para dosen dan peneliti di Indonesia.
 
Dosen Universitas Udayana yang tergabung dalam sejumlah konsorsium riset internasional itu menjadi salah satu pihak yang mengangkat kasus ini ke publik melalui akun Instagram pribadinya. Unggahannya kemudian memantik perbincangan luas di media sosial dan menarik perhatian banyak kalangan akademisi.
 
"Kabar buruk akademisi Indonesia," tulis Ida Bagus dalam akun Instagram @mandharabrasika dikutip Rabu, 27 Mei 2026.
 
Ida Bagus mengungkap kasus ini terjadi dalam konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah forum ilmiah bergengsi untuk para ahli pneumonia dari seluruh dunia, yang tahun ini digelar di Kopenhagen, Denmark. Ia menyebut sejumlah orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di hadapan ribuan ilmuwan dunia, mulai dari pemalsuan identitas hingga fabrikasi data riset.
 
Dosen Universitas Udayana itu membeberkan salah satu modus yang digunakan adalah pemalsuan identitas saat presentasi. Pelaku berganti-ganti nama dengan bermodalkan ganti jilbab dan name tag untuk berpindah dari satu station presentasi ke station lainnya dalam selisih waktu yang sangat singkat.
 
Memalukan! Sekelompok WNI Palsukan Riset Pakai AI di Forum Dunia Demi Travel Grant
Oknum peneliti memalsukan identitas dengan mengganti nama dan jilbab. DOK Instagram @mandharabrasika
 
Selain identitas yang dipalsukan, dosen Universitas Udayana itu juga menyoroti kejanggalan pada data dan isi riset yang dipresentasikan. Ia mengungkap data yang disajikan diduga palsu dan dihasilkan oleh AI, termasuk gambar dan tulisan dalam poster riset yang dicetak hanya menggunakan kertas berukuran A4, jauh dari standar poster ilmiah yang lazim digunakan di konferensi internasional.
 
"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu. Dibuat dengan AI atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal, risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga," beber dia.
 
Lebih lanjut, ia juga menyoroti sejumlah kejanggalan lain dalam riset yang dipresentasikan para oknum tersebut. Menurutnya, lokasi-lokasi yang diklaim sebagai tempat penelitian tidak masuk akal karena mencakup berbagai wilayah di dunia, mulai dari Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia dan Guatemala, hingga Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, serta India bagian utara. Meski penelitian disebut dilakukan di berbagai negara tersebut, seluruh penelitinya diketahui berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal maupun mencantumkan persetujuan etik penelitian. Ida Bagus juga menjelaskan dugaan kecurangan itu akhirnya terbongkar setelah seorang peserta lain asal Indonesia merasa curiga dan melaporkan kejadian tersebut kepada panitia konferensi.
 
Kejanggalan lain turut terungkap dari sisi afiliasi organisasi yang dicantumkan dalam poster riset para oknum. Salah satu poster yang dipresentasikan mencantumkan nama lembaga "AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia" sebagai afiliasi, namun lembaga tersebut tidak dapat ditemukan keberadaannya.
 
Selain itu, ditemukan kejanggalan lain berupa kesimpulan yang sama dalam dua penelitian berbeda. Padahal, kedua riset tersebut memiliki topik, lokasi, hingga objek penelitian yang tidak sama.
 
Kondisi itu semakin memunculkan dugaan hasil penelitian yang dipresentasikan telah dimanipulasi atau dibuat secara tidak otentik. 
 
Memalukan! Sekelompok WNI Palsukan Riset Pakai AI di Forum Dunia Demi Travel Grant
Oknum peneliti disebut telah beberapa kali mendapatkan penghargaan. DOK Instagram @mandharabrasika 
 

Pemalsuan demi travel grant

Lebih mengejutkan lagi, terungkap bahwa kejadian ini ternyata bukan kali pertama para oknum tersebut tampil di konferensi internasional dan mendapatkan penghargaan.
 
Mereka disebut pernah memperoleh hibah perjalanan (travel grant) dan outstanding research award di sejumlah konferensi internasional lainnya, termasuk di konferensi APASL STC 2025 dan ICRS 2025. Melalui cara itu, para oknum diduga berhasil mendapatkan dana travel grant yang memungkinkan mereka bepergian ke luar negeri tanpa biaya pribadi.
 
Namun, Ida Bagus menilai fasilitas gratis tersebut sebenarnya memiliki harga yang sangat mahal karena yang dipertaruhkan adalah nama baik Indonesia di mata komunitas ilmiah internasional. Ia juga menjelaskan mengapa pihak komite konferensi tidak mendeteksi dugaan pemalsuan ini sejak awal pendaftaran.
 
Menurutnya, konferensi tersebut memang hanya mensyaratkan pengiriman abstrak sekitar 300 kata tanpa mewajibkan lampiran data maupun figur penelitian. Kondisi ini sangat berbeda dengan proses review jurnal ilmiah yang jauh lebih kompleks dan menyeluruh.

Dampak pemalsuan riset

Kecurangan ini akhirnya terbongkar setelah seorang peserta lain asal Indonesia merasa curiga dan melaporkan kejadian tersebut kepada panitia. Dampak dari skandal ini disebut tidak hanya menimpa para pelaku, tetapi juga seluruh peneliti Indonesia.
 
Kredibilitas akademisi Indonesia di mata ilmuwan dunia dinilai ikut dipertanyakan. Bahkan, muncul kekhawatiran terkait potensi blacklist terhadap peneliti Indonesia di forum internasional.
 
Ida Bagus turut mempertanyakan apakah praktik semacam itu mencerminkan kualitas ilmuwan Indonesia atau justru mulai dianggap sebagai sesuatu yang normal di dunia akademik. Sorotan serupa turut disampaikan oleh Dosen Fisika Universitas Sumatera Utara, Rica Asrosa.
 
Rica mengaku terkejut dan merasa malu saat menyimak kasus ini. Ia menegaskan praktik semacam ini tidak boleh dibiarkan karena berpotensi menjadi akar persoalan yang jauh lebih besar di masa mendatang, dan mengajak publik untuk terus mengawal kasus ini.
 
"Buat orang-orang ini please deh kalian tobat, insaf. Jangan sampai merusak integritas akademisi dan peneliti Indonesia di kancah internasional. Kalau hal-hal kayak gini kita biarin ini akan menjadi bibit koruptor di masa depan dan menjadi mafia akademisi dan peneliti di Indonesia. Please guys kawal kasus ini, semoga para pelaku-pelaku ini bisa ditindaklanjuti dan dihukum dengan setimpal," tegas Rica Asrosa dalam akun Instagram @ricaasrosa.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA